Tribunners
Perempuan sebagai Role Model Literasi Digital
Menghadirkan tontonan atau memproduksi video yang dapat menggugah dan memotivasi perempuan untuk berliterasi digital
Adapun dampak negatif yang muncul seperti beredarnya video yang memuat konten tentang hujatan kebencian yang pada akhirnya membawa individu (sang pengguna) harus berurusan dengan aparat hukum, kemudian status-status yang membuat kata-kata umpatan sampai kepada urusan pribadi pun harus dilontarkan di ruang publik, sindiran dan kata-kata yang bermaksud untuk menyakiti individu atau kelompok yang membacanya, serta men-share berita hoaks yang akhirnya menimbulkan persepsi yang menyesatkan dan sampai kepada perpecahan pada kehidupan berperempuan kita.
Fenomena ini tentunya menjadi persoalan yang harus mendapatkan perhatian bagaimana seorang individu harus mampu untuk mengelola informasi secara kritis dan berimbang serta menggunakan informasi yang diterima atau yang akan dipublikasikan secara efektif dalam kehidupan.
Perlu diketahui secara umum literasi digital merupakan kemampuan individu dalam mengelola dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Namun bila dimaknai lebih luas literasi sebenarnya dibagi menjadi beberapa bentuk salah satunya adalah literasi informasi digital.
Literasi digital menurut beberapa ahli (Potter dan American Library Association atau ALA) adalah ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk dapat mengakses, mengelola, mengintegrasikan informasi, menganalisis dan sampai kepada mengevaluasi informasi sehingga memiliki pengetahuan baru, dapat membuat dan berkomunikasi dengan baik serta dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat.
Informasi digital juga diartikan sebagai serangkaian kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk menyadari kapan informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menempatkan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif.
Konsep literasi digital dalam hal ini dijadikan sebagai kemampuan para perempuan dalam memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital untuk kepentingan pengembangan diri dan organisasi. Dengan kata lain kemampuan untuk membaca, menulis, dan berhubungan dengan informasi digital akan menemukan bagaimana perempuan dan organisasinya berkembang.
Alasan yang paling mendasar mengapa perempuan harus cerdas dan terliterasi adalah karena perempuan merupakan sekolah pertama (madrasatul ula) atau pendidik utama bagi para penerus bangsa dan jendela informasi keluarga serta masyarakat, yakni dalam pola pengasuhan anak dan pengawasan penggunaan teknologi.
Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua untuk menggunakan media digital dengan bijaksana. Maka orang tua dalam hal ini perempuan perlu memahami nilai utama dunia digital yang menyetir kehidupan kita saat ini. Ada tiga nilai penting yang harus dimiliki oleh perempuan yaitu kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis.
Banyaknya kasus yang terjadi disebabkan rendahnya literasi digital adalah anak kecanduan perangkat gawai (gadget), dan kecanduan menjelajah informasi untuk orang dewasa, seperti data dari KPAI tahun 2017-2019 di mana pengaduan kasus pornografi dan kejahatan online terhadap anak meningkat mencapai angka 1.940 kasus.
Berbagai upaya perlu dilakukan oleh pemerintah, akademisi, maupun pemangku kepentingan yang memiliki konsentrasi dengan berbagai persoalan tersebut dalam rangka menekan bahkan menghapus angka rendahnya literasi digital dan akibat yang ditimbulkan. Usaha untuk meliterasi perempuan berbasis digital berarti tidak sekadar mengenalkan media digital, atau menyiapkan pemenuhan sarana dan prasarana yang memadai, tetapi menyinergikan dengan kegiatan sehari-hari yang berujung kepada peningkatan kompetensi diri.
Berbagai usaha konkret yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan edukasi dalam berliterasi digital kepada kaum perempuan. Hal ini bisa dilakukan melalui penyebaran buletin atau brosur dan buku saku di tempat-tempat umum terkait dengan literasi digital. Membentuk jargon-jargon literasi dalam rangka mengubah mindset perempuan dalam berliterasi digital.
Menghadirkan tontonan atau memproduksi video yang dapat menggugah dan memotivasi perempuan untuk berliterasi digital. Selain itu, pemerintah atau instansi yang terkait dapat membuka ruang-ruang yang dapat mengasah keterampilan perempuan dalam berliterasi digital.
Model pendidikan literasi digital yang terencana harus mampu menjadi medium guna mentransfer nilai-nilai karakter dalam menggunakan teknologi informasi. Diharapkan, melalui program-program yang terencana dan berkesinambungan, para perempuan akan memiliki modal dasar berupa pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya membangun budaya literasi digital sehingga mampu memberikan pengetahuan yang lebih baik untuk keluarga, masyarakat, dan negara pada umumnya.
Jika kesadaran dan kemampuan ini tumbuh serta kemudian menginternalisasi menjadi sebuah nilai dalam individu para perempuan kita, maka perlahan-lahan akan menjangkiti kelompok perempuan lainnya untuk turut serta berpartisipasi aktif dalam memanfaatkan media digital dan membudayakan literasi digital minimal pada lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Harapannya, melalui pendidikan literasi digital yang baik dan berkelanjutan secara jangka panjang dapat menghantarkan para generasi Kartini menjadi lebih terdidik dan peka terhadap perkembangan teknologi digital serta terhindar dari hal-hal yang negatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220207_kartika-sari-guru-sma-muhammadiyah-pangkalpinang.jpg)