Breaking News:

Tribunners

Berbudaya Itu Keren!

Tidak jarang kita menemukan seorang siswa asyik memainkan ponsel, padahal gurunya sedang menerangkan pelajaran.

Editor: suhendri
Berbudaya Itu Keren!
ISTIMEWA
Reni Pitri, S.Sos. - Guru SMA Muhammadiyah Pangkalpinang

MENYANDANG status dan menjalankan peran sebagai seorang pelajar memang tidak gampang. Karena dalam usia yang terhitung belia, pelajar harus berhadapan dengan tanggung jawab yang harus dituntaskan untuk meraih masa depan yang gemilang.

Sebutan " pelajar" diberikan kepada peserta didik yang sedang mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran untuk mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu pada lembaga pendidikan formal dan nonformal mulai dari tingkat dasar sampai menengah atas. Untuk itu, ia harus berkorban waktu, keluar dari zona kenyamanannya untuk bersantai-santai dan bermain bahkan berhura-hura, berpindah ke zona yang dianggap tidak nyaman, seperti mengucurkan keringat untuk berkompetisi, mengerutkan kening mem pelajari setiap pelajaran sebagai upaya mengubah keadaan menjadi lebih baik. Karena dengan ilmu dan moralnya kelak dia dapat mengubah keadaan dirinya, keluarganya, bahkan bangsanya menjadi lebih baik.

Untuk itu juga diperlukan suatu pem budayaan (enkulturasi) yaitu suatu proses yang dialami anggota suatu masyarakat dalam mem pelajari sistem budaya atau adat istiadat yang hidup dalam ke budayaan masyarakat yang bersangkutan seperti nilai-nilai, norma, aturan-aturan di pelajari sampai mendarah daging atau mem budaya dan kemudian menjadi acuan tingkah laku. Proses belajar ini berlangsung mulai sejak kecil sampai akhir hayat, mulai dari lingkungan keluarga sampai lingkungan sosial yang lebih luas, yang akan membentuk karakter individu ber budaya.

Dalam kenyataannya,tidak seluruh individu dalam masyarakat dapat dan mampu beradaptasi dengan baik dan serasi dalam proses enkulturasi tersebut. Individu-individu tertentu tampak menyimpang, tidak mem pelajari dan menyerap sistem budaya yang ada sebagai acuan tingkah laku.
Dewasa ini, dapat dirasakan kegalauan dengan situasi yang ada di sekitar kita, terutama berkaitan dengan varian perilaku pelajar yang merupakan salah satu pelaku (subjek) enkulturasi, mengalami kemerosotan (degradasi). Predikat yang disandang dan atribut yang melekat dalam diri pelajar sering kali tidak menunjukkan hal tersebut. Tidak sedikit pelajar yang merasa dirinya 'nomor wahid' alias merasa super sehingga merasa berhak melakukan apa pun.

Di sekolah sering dijumpai siswa nongkrong di atas meja, tidak jarang seorang siswa pergi dari rumahnya sejak pagi, lengkap dengan seragam dan identitas-identitas sekolahnya namun setibanya di sekolah, apa yang mereka lakukan? Kadar keaktifannya dalam menjalankan perannya sebagai pelajar yang ideal lebih kecil, bahkan tidak ada sama sekali aktivitas belajar yang sebenarnya.

Tidak jarang kita menemukan seorang siswa asyik memainkan ponsel, padahal gurunya sedang menerangkan pelajaran. Atau mereka asyik mengobrol dengan tidak menghiraukan gurunya yang sedang berjuang memahamkan murid-muridnya di kelas. Tidak jarang juga kita menemukan siswa yang pindah tidur dari rumah ke kelas.

Fenomena-fenomena tidak bersahabat tersebut hanya sebagian kecil dari sekian banyak fenomena yang dilakukan siswa ketika berada di sekolah. Etika siswa pun tidak luput dari sorotan dengan rendahnya penghargaan terhadap guru dan sesamanya. Jika hal ini dibiarkan maka akan terbentuk generasi intelek yang memiliki perilaku tidak ber budaya dan amburadul, berpendidikan tinggi dan luas, namun kurang bahkan tidak menghargai budaya yang hidup dalam masyarakat, maka orang yang demikian dianggap orang yang berpendidikan tetapi tidak ber budaya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ber budaya diartikan sebagai mempunyai budaya, mempunyai pikiran dan akal budi yang sudah maju. Manusia disebut sebagai makhluk ber budaya karena manusia memiliki akal dan budi atau pikiran dan perasaan. Dengan akal dan budi manusia berusaha terus menciptakan benda-benda baru dan gagasan-gagasan untuk memenuhi tuntutan jasmani dan rohani yang akhirnya menimbulkan kebahagiaan.

Manusia yang ber budaya adalah seseorang yang menguasai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai adat dan moral yang hidup dalam ke budayaan masyarakat. Dari ulasan tersebut di atas dapat di petik hikmah bahwa manusia ber budaya memiliki keistimewaan:

(1) Manusia sebagai individu yang memiliki kemampuan dalam berpikir (cipta), kemampuan dalam bersimpati dan berempati (rasa), dan kemampuan untuk berkehendak/berkeinginan (karsa). Dengan cipta, rasa, dan karsa manusia dapat memenuhi kebutuhan, menjawab tantangan hidupnya sendiri.

(2) Manusia mempunyai akal dan jiwa yang mengatur atau menentukan bagaimana berperilaku.

(3) Manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang di dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup, insting, perasaan, dengan pikiran, kemauan dan hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberi penilaian terhadap objek dan kejadian.

(4) Manusia dapat mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.

Terkait dengan eksistensi pelajar, yang memiliki tempat yang istimewa dalam menentukan derajat suatu peradaban masyarakat, maka pelajar diharapkan mampu mengembangkan perilaku yang bermoral untuk membentuk manusia ber budaya. Di antaranya dengan cara mengamalkan, menanamkan pemikiran dan perilaku ber budaya seperti:

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved