Tribunners
Lingkungan Juga Perlu Hidup Setiap Hari
Secara garis besar biasanya kerusakan lingkungan (bencana) bersumber dari dua hal, yakni internal dan eksternal
Oleh: Reza Mardiyanti, S. Sos. - Alumni Sosiologi FISIP UBB
HARI Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 5 Juni. Secara umum, lingkungan hidup merupakan kesatuan alam (makhluk hidup) yang di dalamnya terdapat segala aktivitas kelangsungan hidup satu sama lain. Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran manusia secara global (mendunia) tentang pentingnya menjaga dan mengelola lingkungan hidup secara berkelanjutan.
Lingkungan dalam kajian ilmu sosial merupakan suatu hubungan antarmanusia dan juga alam dalam menunjang kehidupan yang berkesinambungan. Keduanya tidak bisa dipisahkan, sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya alam memberikan manfaat yang besar bagi manusia. Air, udara, tanah, dan semua yang ada memiliki peran masing-masing dalam menopang kehidupan di muka Bumi. Kebermanfaatan alam atau lingkungan tidak terlepas dari peluang yang sama besarnya dengan kerusakan lingkungan.
Secara garis besar biasanya kerusakan lingkungan (bencana) bersumber dari dua hal, yakni internal dan eksternal. Kerusakan internal merupakan kerusakan yang terjadi dari dalam. Kerusakan ini terjadi karena proses alam (tanpa campur tangan manusia) sehingga dampak yang ditimbulkan biasanya tak terduga, contohnya bencana tsunami, puting beliung, dan gunung meletus.
Adapun yang kedua adalah kerusakan eksternal merupakan bencana atau kerusakan yang terjadi karena pengaruh dari luar. Mayoritas hal ini akibat ulah manusia secara langsung (adanya campur tangan manusia) sehingga masalah yang awalnya dianggap biasa kemudian menjadi masalah yang besar dan butuh penanganan yang serius. Contoh kerusakan eksternal ini adalah pencemaran air sungai, sampah rumah tangga yang menumpuk, penyumbatan saluran air atau parit dan sebagainya.
Kerusakan lingkungan yang tepat terjadi di hadapan kita bukanlah suatu hal yang bisa dianggap "wajar". Salah satu cara yang dekat dan tepat dilakukan adalah dengan introspeksi diri. Hal-hal besar dimulai dari individu-individu yang berkomitmen untuk memulai hal-hal kecil. Lihatlah apa yang ada pada diri kita, bagaimana kita menangani masalah sampah yang berasal dari rumah tangga? Apakah hanya kita satu-satunya makhluk yang berhak penuh atas lingkungan? Bukankah dalam ranah media sosial sering kali menyuguhkan fakta lingkungan yang "sengaja" dirusak oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab?
Jika pemerintah telah melakukan tugasnya untuk mengimbau, memberi contoh, dan memantapkan berbagai kebijakan tentang lingkungan hidup bagi masyarakat, maka hal demikian belumlah cukup tanpa adanya tindakan dari kita sendiri. Sebagaimana yang seharusnya individu-individu memberikan peran penting dalam menjalani hidup bermasyarakat yang bersentuhan langsung dengan lingkungan. Kita harus memulai aksi (tindakan) untuk bisa menimbulkan reaksi (hasil/akibat) dalam tata kelola lingkungan untuk kehidupan masyarakat.
Jika memang harus dimulai dari diri kita sendiri maka mari mencoba untuk mengambil contoh sampah yang ada di rumah. Rumah adalah tempat yang paling dekat dengan kita. Di rumah, terdapat beragam sampah yang dihasilkan dari hari ke hari mulai dari sampah sisa sayuran, tulang ikan, plastik kemasan bumbu dapur, kaleng minuman, botol plastik, dan lain-lain. Rumah tangga menjadi salah satu tempat yang menghasilkan sampah meski dalam kesehariannya bukan dalam jumlah yang besar, akan tetapi selalu kontinu dari hari ke hari.
Beberapa sampah yang tergolong sampah organik (sampah yang mudah terurai) tentu bisa saja berfungsi bagi lingkungan, misalnya daun-daun yang kering dan kotoran hewan yang mudah terurai dan menjadi pupuk. Sementara itu, produksi sampah anorganik (sampah yang sulit terurai) akan menumpuk jika tidak segera dilakukan penanganan yang tepat, misalnya sampah jenis plastik, kaleng, dan kaca. Cara yang biasa dilakukan adalah membakar sampah yang mudah dibakar, akan tetapi malah menimbulkan masalah baru mengenai polusi udara, padahal ini adalah cara termudah yang sering dilakukan namun kita masih saja "latah" akan hal ini.
Contoh lain dari penanganan sampah rumah tangga yakni dengan membuangnya di tempat pembuangan yang seharusnya, akan tetapi tanpa melakukan pilah dan pilih terlebih dahulu dan ini menjadi kekeliruan kita bersama. Terlebih-lebih, terkadang area sepanjang jalan kosong atau ruko pun turut diwarnai sampah-sampah yang berserakan hingga tempat sampah yang tak mampu lagi menampung sampah yang melampaui kapasitas.
Hingga kita tahu bahwa teori demi teori sering kali kita temui tanpa aksi, padahal konsep tentang pengelolaan sampah bukanlah hal asing bagi masyarakat. Pertama, hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan kembali barang yang masih bisa digunakan seperti baterai cas atau senter yang menggunakan cas. Kedua, mengurangi penggunaan barang-barang yang hanya sekali pakai seperti menggunakan keranjang khusus belanja, bukan plastik aneka warna atau "kantong kresek". Ketiga, berusaha mengolah sampah yang bisa didaur ulang supaya bisa menghasilkan barang baru yang bisa digunakan, misalnya menggunakan botol plastik bekas minuman untuk dijadikan pot ataupun tempat pena. Hal-hal demikian bisa diupayakan atau dilatih lebih awal agar terbiasa, apalagi jika dilakukan bersama-sama.
Manusia sebagai makhluk sosial selain mempertimbangkan dampak yang terjadi pada lingkungan maka berkaitan pula dengan sesama, yakni orang-orang sekitar yang juga akan terkena imbasnya. Beberapa waktu lalu juga sempat terlihat "lautan sampah" yang mengisi penuh jalan aspal di area tempat sampah di sisi toko salah satu pasar yang terjadi sekitar libur Lebaran. Jalan yang tertutupi oleh sampah tak bisa dilalui pengguna jalan hingga bau yang ditimbulkan sangat menyengat sampai ke area toko. Penyampaian informasi tersebut juga sempat diperbincangkan di media sosial sehingga penanganan masalah juga dapat dengan mudah tersampaikan kepada pihak terkait dalam mengupayakan bisa diselesaikan dengan baik.
Hal-hal demikian menjadi gambaran nyata bahwa ada saja masalah lingkungan yang kita hadapi sehari-hari. Jika memungkinkan media sosial juga turut berperan dalam memberikan dukungan dalam mengawal keberlangsungan lingkungan hidup. Penyebaran berita yang cepat sampai ke mata dan telinga masyarakat kini ada dalam genggaman. Jalanan sepi, lahan kosong, hingga tempat terbuka lainnya sekalipun menjadi sasaran tangan yang tak bertanggung jawab dalam menebar "kerusakan".
Selain itu, belum lagi perihal popok bayi yang dibuang di sembarang tempat dan kadang tanpa dibersihkan dahulu dari kotoran menjadi hal yang mencengangkan. Semua sampah menjadi satu kesatuan yang makin sukar untuk dipilah. Padahal cara tepat adalah mengikuti petunjuk yang tertera, yakni bersihkan bagian yang mungkin kotor kemudian dibuang pada tempat sampah atau lebih baik ditanam.
Hal-hal demikian adalah masalah lingkungan hidup yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Mana mungkin kita menyerahkan seluruh tugas kepada petugas kebersihan saja atau mana boleh kita menyalahkan kebijakan pemerintah? Kesadaran akan pentingnya kelangsungan hidup adalah hal yang perlu diterapkan dalam kehidupan nyata. Kita bukan satu-satunya makhluk yang berhak penuh atas lingkungan, melainkan kita satu kesatuan dalam ekosistem yang mempunyai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220605_Reza-Mardiyanti-Alumni-Sosiologi-FISIP-UBB.jpg)