Kisah Cinta Inggit Garnasih dan Soekarno, H Sanusi Rela Lepaskan Istri Demi Dinikahi Pria Lain
Pernikahan Inggit dan Haji Sanusi semula berjalan baik-baik saja, sampai akhirnya Soekarno datang.
Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Alza Munzi
Ketika Soekarno ditangkap di Yogyakarta, 29 Desember 1929, Inggit tidak pernah lelah memberikan semangatnya kepada Soekarno.
Selain itu, selama Soekarno dibui, ia juga berperan sebagai perantara agar suaminya tersebut dapat terus berhubungan dengan para aktivis pergerakan nasional lainnya.
Kisah cinta keduanya tampak sangat indah, sebelum akhirnya Soekarno bertemu dengan Fatmawati sewaktu ia menjalani pembuangan ke Ende, Flores, tahun 1933.
Setelah bebas, tahun 1942, Soekarno meminta izin kepada Inggit untuk menikahi Fatmawati.
Permintaan tersebut lantas ditolak mentah-mentah oleh Inggit.
Ia tidak ingin dimadu.
Akhirnya, Soekarno dan Inggit memutuskan untuk bercerai.
Perpisahan Inggit dan Soekarno pun bak "tragedi" dalam sejarah.
Inggit melakoni peran istri yang nyaris sempurna untuk Bung Karno.
Ia adalah sosok teman, ibu, dan istri untuk suaminya.
Hanya satu yang tidak bisa dilakukan Inggit, yakni memberi Bung Karno keturunan.
Saat Soekarno menikah dengan Fatmawati, Inggit kembali ke Bandung, namun rasa cintanya kepada Soekarno seolah tetap tinggal.
Inggit tidak mengeluh dan tidak menangis.
Saat Sukarno wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970 Inggit bergegas menuju ke Jakarta, ke Wisma Yaso, rumah duka mantan suaminya itu.
Di samping jasad Sukarno, Inggit berucap dalam bahasa Sunda diiringi isak tangis yang sedikit tertahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220607-inggit-garnasih-dan-soekarno.jpg)