Tribunners
Pentingnya Kita Menulis
Kegiatan menulis terkait erat dengan aktivitas membaca sebagai sumbu dan bahan bakarnya.
Oleh: Pujiah Lestari - Penggiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa)
SAYA teringat kata-kata sastrawan AS Laksana, bahwa menulis jelek jauh lebih baik daripada menulis bagus dan sempurna tetapi tak pernah ada. Pramoedya Ananta Toer justru lebih tegas lagi menyatakan, "Sehebat apapun ide dan gagasan yang Anda miliki, jika Anda tak punya kemampuan menuangkannya dalam bentuk tulisan, ia akan mudah menguap dan menghilang hanya dalam batas-batas usia Anda."
Kegiatan menulis terkait erat dengan aktivitas membaca sebagai sumbu dan bahan bakarnya. Tanpa kebiasaan membaca, jembatan penghubung antara gagasan di otak, serta tangan yang menulis, akan mudah terputus. Ketika membaca, sebenarnya kita tengah memasukkan kata-kata ke dalam memori. Makin banyak bacaan yang kita serap, makin banyak pula perbendaharaan kata yang melekat dalam benak kita.
Dengan banyak membaca, kata-kata akan mengalir deras dari pikiran bagaikan air bah, terutama saat kita menulis. Perasaan dan pikiran dapat menemukan jalan keluarnya, hingga memunculkan kata-kata yang tepat. Tanpa membaca dengan baik, kita akan kesulitan menemukan ekspresi perihal kata-kata yang akan dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Ketika membaca, kita bisa memperhatikan dan mempelajari bagaimana seorang penulis memiliki gaya bahasa, memilih kata, membuat kalimat efektif, hingga menata paragraf koheren. Tentu saja, dalam konteks ini, kita harus memilih buku atau bacaan yang menarik, terlepas apakah itu dari buah karya penulis senior maupun junior. Ketika pikiran kita makin kaya dengan bahan bacaan, maka kita takkan kesulitan dalam menumpahkan gagasan kita sendiri.
Gagasan penulis buku yang kita baca berinteraksi dengan gagasan yang mungkin sudah mengendap dalam alam bawah sadar kita, sehingga kemudian menghasilkan gagasan-gagasan baru yang lebih segar lagi. Di situ, ada proses interaktif antara membaca dan menulis, sehingga melahirkan pemahaman dan perspektif baru, kemudian membangkitkan ide-ide yang dihasilkan dari aktivitas membaca tadi. Di sisi lain, kita harus bisa menikmati selera dan gaya bahasa penulis. Jika ada kalimat dan paragraf yang bagus, kita bisa membacanya berulang-ulang dan merenungkan maknanya.
Di saat membaca, adakalanya kita mengeluarkan suara dengan tegas, setidaknya cukup terdengar oleh telinga kita sendiri. Hal itu akan meningkatkan efektivitas dalam kemampuan berbahasa serta memperkaya kosakata yang kita serap ke dalam memori. Di sinilah pentingnya orang tua membacakan cerita atau dongeng ke telinga anak-anak sebelum mereka tertidur.
Ketika kita membaca sambil bersuara, pada dasarnya kita sedang bicara pada diri sendiri melalui struktur bahasa dari buku tersebut. Ini akan melatih kita bicara dan menulis, serta kemahiran menemukan kosakata baru yang akan memperkaya khazanah dalam berkomunikasi, serta menggugah di hati pembaca. Karena itu, membaca dengan mengeluarkan suara, dianjurkan bagi siapapun yang ingin meningkatkan kemampuan berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan.
Membaca dengan suara juga akan mempertajam daya pendengaran kita dalam menyimak pembicaraan orang lain. Hal ini karena indra telinga kita memiliki kepekaan, ketajaman, hingga makin terlatih dalam menyimak susunan kata dan kalimat, serta menangkap kata-kata baru yang sulit diraba dengan ejaan. Dengan itu, makna dari kata-kata dapat terikat ke dalam memori dengan baik. Kemudian, ia akan mengejawantah saat kita menuangkannya ke dalam ide dan gagasan baru, tanpa harus sibuk membuka-buka kamus atau Google untuk menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa yang dibutuhkan.
Banyak sekali manfaat yang bisa kita raih dari aktivitas membaca dan menulis. Ia dapat membebaskan kita dari tekanan dan stres. Ia dapat mengantarkan kita pada kesenangan dan kebahagiaan. Ia dapat memberikan berbagai ilham dan karunia ilmu tentang hakikat dan makna kehidupan. Dengan membaca dan menulis, pikiran kita menjadi rileks dan tenang, biarpun kita sedang bertengger di atas dahan rapuh yang mudah terhempas bencana hanya dalam satu tarikan napas.
Ya, siapa yang menduga kalau dalam waktu sepersekian detik tiba-tiba badai besar datang menerjang, baik melalui darat, laut maupun udara, dan kita tidak memiliki kesiapan apapun untuk menyelamatkan diri, hingga tak sanggup lagi menatap wajah orang-orang yang kita cintai. Kadang kita merasa sedang berada di tengah lorong gelap, mengharap adanya pecahan dan serpihan cahaya, namun entah bagaimana cahaya kecil itu ternyata bisa membantu kita melihat hingga mencapai jalan keluar yang terang. Dan cahaya kecil yang membantu itu, sering kali saya dapatkan dari membaca buku.
Kadang saya ingin tahu bagaimana melihat dengan jelas dan berbicara dengan jujur, maka Leo Tolstoy dan Dostoyevsky ada di sebelah saya, serta menunjukkan jalan keluar. Ketika saya ingin melihat percikan sinar saat sinisme dan idealisme memudar, maka Pearl S. Buck dan Solzhenitsyn menolong kerapuhan jiwa saya. Ketika saya membutuhkan ketegaran dan keberanian, maka Pramoedya Ananta Toer dan Eka Kurniawan membantu saya berdiri tegak.
Ketika saya ingin bergembira dalam keindahan alam dan kesunyian, Benny Arnas dan Leila S Chudori seakan-akan berdiri di samping saya. Ketika saya merasa kesepian dan nelangsa karena ditinggalkan orang yang dicintai, maka Haruki Murakami dan C.S. Lewis mengulurkan tangan seakan-akan menepuk-nepuk pundak saya.
Begitu pun ketika saya menghadapi jebakan hantu kapitalisme, dan tidak ada sepeser pun uang di kantong, saya pun akan tetap tersenyum bersama Tomi Astikainen dan Mark Boyle. Bahkan, ketika saya merindukan kebesaran Tuhan karena ketidakberdayaan manusia yang lemah dan hina dina ini, maka Abdul Hadi WM dan Ahmadun Yosi Harfanda senantiasa menemani hari-hari saya.
Barangkali, itulah utang besar yang harus saya bayar, hingga saya merasa bertanggung jawab untuk turut serta mengulurkan tangan bagi kebaikan dan perbaikan moral dan peradaban, demi mewujudkan kebahagiaan orang-orang yang hidup sezaman dengan saya, terlebih-lebih mereka yang akan hidup sesudah saya kelak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220611_Pujiah-Lestari-Penggiat-Gerakan-Membangun-Nurani-Bangsa.jpg)