Berita Bangka

Petani Mengeluh, Harga TBS Kelapa Sawit Hanya Rp700 per kg

Sementara itu harga TBS kelapa sawit di tingkat petani mandiri saat ini hanya dihargai Rp600-700 per kg TBS kelapa sawit.

Penulis: edwardi |
Bangkapos.com/Edwardi
Ketua Apkasindo Kabupaten Bangka, Jamaludin alias Tipek 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka merilis harga TBS kelapa sawit mandiri di perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) pada Sabtu (25/6/2022), tercatat di PT GML Rp1.000, PT MAS Labu Rp1.020, PT MAS Kapuk Rp1.050 dan PT PNM Simbel Rp1.230 per kg TBS kelapa sawit.

Diketahui di Kabupaten Bangka saat ini ada 9 perusahaan PKS yang sudah beroperasi.

Sementara itu harga TBS kelapa sawit di tingkat petani mandiri saat ini hanya dihargai Rp600-700 per kg TBS kelapa sawit.

Anjloknya harga TBS kelapa sawit petani mandiri ini sangat meresahkan dan dikeluhkan para petani karena menohok kehidupan ekonomi para petani.

"Bagaimana ini pak bupati, pak gubernur, pak presiden mengapa harga TBS kelapa sawit rakyat seperti kami jadi anjlok seperti ini, padahal di Malaysia harga TBS kelapa sawit Rp4.000-Rp5.000 per kg, tolonglah kami ini pak, dengarkan aspirasi kami," kata Nasir, petani kelapa sawit mandiri Desa Air Duren Kecamatan Pemali, Minggu (26/6/2022).

Diungkapkannya, anjloknya harga TBS kelapa sawit saat ini sangat ironis, karena harga CPO di pasaran dunia tinggi.

"Kalau kondisi seperti ini berlangsung lama, kami petani sawit mandiri bisa mati dan terlilit hutang, bagaimana kami mau beli pupuk untuk merawat kebun, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja tidak cukup, apalagi kami harus membiayai anak sekolah dan kuliah, serta bagaimana kami harus membayar hutang-hutangnya," imbuhnya.

Sementara itu Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Bangka, Jamaludin alias Tipek meminta pemerintah mendengarkan aspirasi para petani kelapa sawit rakyat
yang sedang menjerit saat ini.

Karena walaupun larangan ekspor CPO dan turunannya sudah dicabut, namun harga TBS kelapa sawit makin anjlok ke titik terendah, bahkan perusahaan PKS di Bangka Belitung ada yang sudah tidak membeli lagi TBS dan juga membeli sistem kuota atau buka tutup.

"Dibukanya kembali kran ekspor CPO ini belum bisa dirasakan manfaatnya oleh petani sawit, karena kita saat ini berhadapan dengan aturan-aturannya rumit, perpajakan terus naik, karena pajak ini pasti dibebankan ke petani semua sehingga harga TBS semakin anjlok," kata Jamaludin di Sungailiat, Minggu (26/6/2022).

Jamaludin meminta pemerintah untuk mengkaji ulang terkait pajak, seperti PE (Pungutan Ekspor) sudah 375 USD per ton CPO, pajak BK (biaya keluar) 200 dolar, dan pajak lainnya, belum lagi kebijakan Domestik Market Obligation (DMO) dan Domestik Price Obligation (DPO), sehingga harga TBS kelapa sawit rakyat makin anjlok.

"Kami minta aturan pajak ini diturunkan kembali, supaya perusahaan PKS bisa lebih cepat melakukan ekspor CPO dan turunannya, setelah kondisi normal silahkan dinaikkan kembali," imbuhnya.

Diharapkannya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui Pj Gubernur Babel dan DPRD Babel menyampaikan keluhan-keluhan ini kepada pemerintah pusat dan Presiden RI Jokowi

Diungkapkannya, sampai sekarang sebanyak 1.018 pabrik di Indonesia belum bisa melakukan ekspor, baru sekitar 300 ribu ton CPO yang keluar, sedangkan stok CPO saat ini 6,1 juta ton masih menumpuk belum terjual.

"Sedangkan harga tender CPO di dalam negeri saat ini terus turun hingga hanya Rp8.000 lebih per kg sehingga harga TBS kelapa sawit juga semakin turun. Oleh karena itu, kami meminta masalah ini jangan sampai berlarut-larut, karena dengan harga sekarang para petani tidak bisa beli pupuk lagi, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari juga sangat sulit," imbuhnya.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved