Kamis, 7 Mei 2026

Berita Bangka Selatan

Perlukah Jembatan Bahtera? Ini Dampak Sosial Maupun Keuntungan yang Diterima Warga Babel

Rencana mega proyek Jembatan Bahtera diprediksi menelan biaya Rp 15 triliun ternyata sudah selesai dokumen Pra Studi Kelayakan Proyek, FS

Tayang:
Penulis: M Zulkodri CC | Editor: M Zulkodri
Darwinsyah/BangkaPos
Ilustrasi Jembatan Bahtera 

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Masih ingat dengan rencana mega proyek pembangunan Jembatan Bangka-Sumatera (Bahtera) Sriwijaya antara Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Erzaldi Roesman Periode 2017-2022 bersama Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, Kamis (17/9/2020) lalu.

Namun rencana pembangunan tersebut masih mengundang pro dan kontra di masyarakat.

Setelah ditelusuri bangkapos.com, rencana mega proyek yang diprediksi menelan biaya Rp 15 triliun ini ternyata sudah selesai dokumen Pra Studi Kelayakan Proyek, Feasibility Study (FS)  telah diselesaikan pemerintah provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Fungsional, Teknik Jalan Jembatan Dinas PUPR Babel, Yuli Hartati didampingi Kabid Infrastruktur dan Kewilayahan Bappeda Babel, Martini, mengatakan pihaknya telah menyelesaikan tahapan pra studi Feasibility Study (FS) yang kemudian diserahkan ke Kementerian PUPR.

"Untuk jembatan Bahtera, kalau untuk Pemerintah Provinsi Babel sampai di Pra Studi FS. Selebihnya untuk FS dilakukan pihak Kementerian PUPR. Nah, untuk Detail Engineering Design (DED) juga di Kementerian PUPR, setelah akhir FS-nya apakah bakal berkelanjutan atau tidak untuk memenuhi syarat atau tidak dilaksanakan DED-nya oleh kementerian," jelas Yuli.

Yuli menambahkan, untuk Feasibility Study (FS) dilakukan untuk dapat mempelajari layak atau tidak jembatan dibangun, kemudian menilai sisi ekonomis, keamanan apabila dibangun nantinya.

"Disitu akan tahu layak atau tidak, setelah ada hasilnya, kalau layak kemudian ditentukan desainnya. Kalau dari kita telah melaksakan pra studinya, nanti study itu dan DED dilakukan oleh Kementerian PUPR. Hasilnya seperti apa layak atau tidak," ujarnya.

Untuk titik lokasi yang bakal dibangun jembatan, antara Desa Sebagin, Kabupaten Bangka Selatan ke Desa Tanjung Tapak Sumatera Selatan dengan panjang jembatan 13,5 KM dan menelan biaya berkisar Rp 15 triliun bersumber dari APBN.

Namun menurutnya, dapat saja berubah karena melihat naiknya harga sejumlah barang kebutuhan.

"Kalau itu kemungkinan bisa berubah, karena melihat harga kebutuhan pokok juga. Tetapi kalau untuk manfaat tentu ini berdampak pada ekonomi barang-barang pokok kita semula lewat kapal laut, bakal melalui jembatan itu yang semula susah bakal menjadi lancar, karena tidak ada lagi kendala dari gelombang tinggi," jelasnya.

Keuntungan adanya Jembatan Bahtera 

Anggota Komisi III DPRD Provinsi Bangka Belitung, Azwari Helmi mengatakan, apabila dibangun jembatan Bahtera menjadi alternatif untuk menjadikan murahnya harga barang-barang kebutuhan pokok di Babel.

"Karena kita ini daerah kepulauan, selalu ketergantung dengan daerah luar. Dari mulai beras, gula, kopi dan lainnya. Tetapi apabila ada jembatan Bahtera mereka bisa langsung melalui jalur darat. Termasuk dari kita, artinya bukan hanya dari luar ke Babel. Tetapi dari Babel ke luar juga bisa," kata Azwari Helmi kepada Bangkapos.com, Rabu (13/7/2022).

Termasuk, kata Helmi apabila masyarakat Babel yang ingin menjual TBS kelapa sawit dan barang pokok lainya langsung dapat dilakukan ke Provinsi Sumatera Selatan.

"Sudah ada jembatan jual buah sawit dapat ke Palembang, karena di dalam Babel ini dijual murah. Siapa tahu dijual ke luar Babel menjadi lebih mahal. Jadi sudah selayaknya jembatan itu dibangun. Kita dari DPRD jelas mendukung," kata Politikus PPP ini.

Helmi juga menyampaikan, untuk tindak lanjut jembatan tersebut saat ini sedang dilakukan proses di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

"Kita sudah ke Bappenas proyek itu dilanjutkan, tetapi untuk 2024 tidak selesai, belum. Prosesnya masih berjalan, karena banyak sekali pembebasan lahan dilakukan dan lainya masih banyak dilakukan," terangnya.

Ia meyakini, apabila jembatan Bahtera jadi dibangun akan berdampak besar untuk pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung.

"Babel akan tumbuh perekonomiannya, kita tidak lagi seperti terisolir, karena tranportasi darat ke daerah Sumsel lancar," katanya.

Ilustrasi Jembatan Bahtera
Ilustrasi Jembatan Bahtera (Darwinsyah/BangkaPos)

 

Dampak Sosial

Sementara itu, Rektor Universitas Bangka Belitung Ibrahim, menjelaskan terkait dampak sosial dari pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya penghubung pulau Bangka dengan Sumatera Selatan.

Menurutnya ada dampak positif berupa aksesibilitas dan peluang peningkatan arus finansial.

"Karena perlu dipikirkan dampak sosial dari pembangunan jembatan Bahtera Sriwijaya. Saya kira kita perlu mendudukkan persoalan ini secara proporsional dan objektif. Kekhawatiran akan dampak ikutan, misalnya arus masuk orang dengan ikutan kultural dan perubahannya memang hal biasa dalam sebuah pembangunan megaproyek, tapi saya kira mempersiapkan dampak yang berpotensi muncul harus mulai dipilah dan diberikan atensi,"jelas Ibrahim yang juga menjadi Dosen FISIP UBB kepada Bangkapos.com, Sabtu (19/9/2020).

Ibrahim mengatakan jika jembatan ini terwujud, pemerintah artinya sedang mengkoneksikan dua pulau yang besar dengan segenap potensinya dan yang kecil dengan segala potensinya. 

"Komitmen pemerintah pusat untuk mewujudkan mega proyek ini memang akan prestisius karena selain biaya, juga soal kecanggihan teknologi yang akan jadi pertaruhannya," kata Ibrahim.

Mengenai, studi kelayakannya tentunya akan menjadi perhitungkan semua aspek, tapi terpenting adalah menutup serapat mungkin celah negatif yang muncul dan berkembang.

"Perlu dipikirkan proses mitigasi sosial, yakni kanal-kanal antisipatif untuk setiap persoalan sosial yang akan muncul, utamanya yang negatif. Pemerintah Provinsi perlu membangun skenario terbaik untuk memberikan gambaran bagaimana caranya nanti mengantisipasi hal-hal krusial nanti yang akan merugikan kedua belah pihak,"  saran Ibrahim.

"Saya kira ini soal komunikasi publik karena sebenarnya apa yang akan terjadi kelak masih berandai-andai, termasuk dampak negatifnya. Nah pemerintah kedua provinsi perlu membangun argumen rasional untuk meyakinkan publik," lanjutnya.

Namun menurut Ibarahim, setiap pembangunan selalu menimbulkan dampak ini adalah konsekuensi mendasar. 

"Aspek kriminalitas, kedaulatan ekonomi dan kultural, serta gesekan antarbudaya ini menjadi aspek yang paling harus dipikirkan. Kalau hitung-hitungan biaya dan benefit, saya kira pemerintah pusat punya perhitungan yang matang, tak asal menggelontorkan anggaran," kata Ibrahim.

Dia mengharapkan bagi masyarakat lokal, kesiapan akan perubahan sosial nanti menjadi persoalan penting. Kemandirian, kecekatan menangkap peluang, serta kekuatan menjaga identitas tanpa kehilangan keterbukaan adalah hal penting untuk diinternalisasi. 

Peningkatan Ekonomi Babel dan Sumsel

Rencana pembangunan Jembatan Bahtera Sriwijaya, menghubungkan Provinsi Sumatera Selatan dengan Kepulauan Bangka Belitung dianggap memiliki potensi peningkatan perekonomian di dua daerah itu.

Hal tersebut, disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Devi Valeriani, menurutnya. Pembangunan infrastruktur jembatan ini begitu penting untuk menghubungkan antar daerah maupun antar pulau, terlebih karena Bangka Belitung adalah Wilayah Kepulauan.

"Kedua provinsi tersebut masing-masing memiliki potensi untuk mengembangkan ekonominya dengan terbangunnya Jembatan Bahtera Sriwijaya maka konektivitas antar kedua wilayah tersebut memiliki alternatif dengan harapan jalur lalu lintas diantara kedua wilayah tersebut menjadi lebih lancar,"kata Devi Valeriani kepada Bangkapos.com, Sabtu (19/9/2020).

Devi menjelaskan masyarakat dapat melakukan kegiatan berwisata dengan jarak tempuh yang lebih pendek, ekspor maupun impor barang, terutama pangan sehingga mendukung ketahanan pangan dan terjaganya inflasi dengan harapan mampu mendongkrak daya saing produk lokal.

"Pembangunan jembatan ini tidak hanya sekedar pembangunan infrastruktur saja. Namun akan memberi harapan berupa manfaat untuk mengurangi disparitas atau ketimpangan baik secara ekonomi maupun sosial. Yang tujuan akhir dari pembangunan tersebut adalah pemerataan hasil pembangunan melalui peningkatan taraf ekonomi masyarakat. Diidentikkan dengan pendapatan, pendidikan dan kesehatan masyarakat," jelasnya.

Dia menambahkan dengan pembangunan konektivitas ini maka diharapkan akan terjadi kemudahan dan kelancaran mobilitas rakyat dalam bekerja dan berusaha, juga akan meningkatkan produktivitas masyarakat.

"Peluang yang harus ditangkap oleh masyarakat Bangka Belitung adalah bagaimana memanfaatkan akses tersebut untuk kegiatan-kegiatan yang bernilai ekonomis, seperti kemudahan memperoleh bahan baku bagi usahanya, kemudahan akses menjual produk-produk usaha, kemudahan akses pendidikan dan kesehatan," ungkap Devi.

Selain itu, menurutnya sektor yang akan merasakan dampak dari pembanguanan jembatan ini diantaranya adalah pariwisata, transportasi dan pergudangan, pertanian, perikanan, industri pengolahan dan tidak menutup kemungkinan sektor-sektor lainnya.

"Manfaat lain dari pembangunan jembatan ini adalah adanya kemajuan yang pesat bagi kedua wilayah, memperlancar urat nadi yang menjadi ciri khas masing-masing daerah yang dikenal banyak orang karena terbukanya jalur transportasi dan komunikasi," harap Devi.

Dia mengatakan, manfaat tersebut akan bergulir memberi dampak ekonomi karena akan terbentuknya keramaian arus kendaraan, pertumbuhan angkutan barang maupun orang melalui jalur darat ini diharapkan akan meningkat signifikan dan daya saing ekonomi antar daerah akan tumbuh.

Sebelumnya diberitakan, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Erzaldi Rosman dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menghadiri focus group discussion (FGD) Rencana Pembangunan Jembatan Bangka-Sumatera (Bahtera), Kamis (17/9/2020).

Diskusi yang berlangsung di kantor Gubernur Babel itu membahas titik lokasi alternatif atau tapak pembangunan Jembatan Bahtera.

Muncul tiga alternatif sebagai tempat pembangunan jembatan tersebut.

Pertama, Tanjung Punai Bangka Belitung-Desa Juru Taro Sumatera Selatan.

Kedua, Desa Tanjung Pura Bangka Belitung-Desa Sungai Batang Sumatera Selatan.

Alternatif ketiga, Desa Sebagin Bangka Belitung-Desa Tanjung Tapak Sumatera Selatan.

Dari tiga alternatif tersebut, alternatif terakhirlah (Desa Sebagin-Desa Tanjung Tapak) yang disetujui oleh Erzaldi Rosman dan Herman Deru.

Keduanya pun langsung berjabat tangan usai menyetujui titik lokasi pembangunan Jembatan Bahtera

(Bangkapos.com/Riki Pratama/Zulkodri)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved