Fenomena Kecanduan Main Game, Begini Tanggapan Ustadz Abdul Somad
Fenomena Kecanduan Main Game, Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad, simak selengkapnya
Penulis: Evan Saputra CC | Editor: Evan Saputra
BANGKAPOS.COM - Fenomena Kecanduan Main Game, Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad
Smartphone saat ini bukan lagi barang mewah yang susah didapat.
Setiap orang bahkan anak-anak saat ini sudah dapat menggunakan smartphone untuk menonton maupun bermain game.
Namun belakangan ini, bermain game menjadi hal yang sangat disukai semua kalangan. Tak hanya bagi orang dewasa namun juga untuk anak-anak.
Baca juga: Waspada, Ini Hukum Ghibah Ustadz Abdul Somad : Maukah Kamu Memakan Bangkai Saudaramu?
Bermain game bukan lagi sekedar mencari hiburan atau untuk mengisi waktu kosong, namun banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game baik itu Mobile Legends hingga PUBG.
Ustaz Abdul Somad menjelaskan pandangannya tentang fenomena candu bermain game seperti saat ini. Ia menjelaskan tiga hal terkait kecanduan game ini.
Yang pertama menurutnya ialah banyaknya waktu yang terbuang percuma hingga ibadah terbengkalai.
"Bermain game itu yang pertama menghilangkan waktu mubazir, yang kedua menunda salat, yang ketiga kalau mau melihat kualitas seorang muslim apanya yang dilihat? pakaiannya? bajunya? apanya yang dilihat?
Kalau mau melihat kualitas keislaman seorang bagaimana dia meninggalkan perbuatan yang tak penting," katanya.
Dijelaskan Ustadz Abdul Somad, bermain game bahkan hingga menyebabkan seseorang kecanduan lebih berbahaya dari kecanduan narkoba.
"Ingin mencari hiburan sejenak, sebentar tetapi dari pagi sampai sore sampai malam.
Masyaallah ini kencanduan game ini lebih mengerikan dari kecanduan narkoba. Mudah-mudahan Allah menyelamatakan generasi ini dari game-game ini," ujarnya.
Baca juga: Mana yang Lebih Wajib, Menafkahi Ibu atau Istri? Simak Penjelasan Ustadz Abdul Somad
Hukum Membaca Surat Yasin di Samping Kuburan, Begini Penjelasan Ustadz Abdul Somad
Ziarah kubur menjadi hak yang biasa dilakukan masyarakat khusunya di Indonesia.
Namun bagaimana dengan membaca Al Qur'an? Apakah dibolehkan semisal membaca Surat Yasin.
Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya mengenai boleh atau tidaknya berziarah kubur lalu membaca surah Yasin di samping kuburan.
Ternyata hal ini terjawab, oleh Ustadz Abdul Somad saat sesi tanya jawab.
"Saya mau tanya apakah kita boleh berziarah kubur lalu membacakan suah yaasin di pinggir kubur itu?," Kata Ustadz Abdul Somad saat membacakan pertanyaan.
Ustadz Abdul Somad pun menjelaskan mengenai hukum membaca surat Yasin saat ziarah kubur.
"Buka nama kitabnya Ar Ruuh sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, ROH, Kitab Roh," ujarnya.
"Di situ ditulis oleh murid Imam Ibnu Taimiyah namanya Imam Ibnu Qattim Al Jauziyyah, kitab ini tidak diragukan lagi sebagai Ensikopedia terlengkap dalam bidang alam barzakh, alam kubur.
Di situ disebutkan tentang riwayat Imam Ahmad menyetujui orang yang membaca Al Qur'an di samping kubur," lanjut Ustadz Abdul Somad.
Dijelaskan Ustadz Abdul Somad awalnya ada larangan membaca Al Qur'an saat ziarah kubur.
Namun hal itu akhirnya dibolehkan dengan beberapa dalil yang membolehkan membaca Al Quran saat ziarah kubur.
"Awalnya Imam Ahmad Melarang, lalu kemudia orang itu berdalil Bahwa Abdullah anak Umar Bin Khattab pernah berpesan nanti kalu aku meninggal dunia bacakanlah ujung Al Bawarah pada bagian kepala, awal Al Baqarah pada bagian kepala, ujung Al Baqarah pada bagian kaki. Oleh sebab itu maka ini di antara dalil membaca Al Qur'an di samping kubur," ujarnya.
Dalil lain, lanjut Ustadz Abdul Somad ialah saat Nabi Muhammad Sallallahu alahi wasallam menancapkan pelepah kurma di kuburan.
"Lalu kemudian ketika Nabi SAW menancapkan pelepah kurma, ini berdalil dengan Imam An Nawawi dalam kitab Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajaj. Pelapah kurma yang ditancapkan ke kubur, bertasbih, tasbihnya sampai kepada orang yang meninggal dunia, kalau tasbih pelepah kurma saja sampai apalagi bacaan Al Quran orang yang beriman
Maka membacakan Al Qur'an untuk orang yang meningal dunia bacaannya sampai, baik dari rumah, maupun di samping kubur
Wallahu a'lam bish shawabi," katanya.
Sosok Ustadz Abdul Somad
Dilansir dari Wikipedia, Ustaz H. Abdul Somad Batubara, Lc., D.E.S.A., Ph.D., Datuk Seri Ulama Setia Negara, atau lebih dikenal dengan Ustaz Abdul Somad lahir 18 Mei 1977 adalah seorang da'i atau penceramah agama Islam dari Indonesia yang terutama berfokus dalam bidang ilmu hadis dan fikih.
Ia juga berprofesi sebagai dosen dan pernah mengajar di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau pada tahun 2009–2019.
Abdul Somad merupakan putra pasangan Bakhtiar dan Rohana. Dari pihak ibu, garis keturunannya bersambung kepada Syekh Abdurrahman atau dijuluki Tuan Syekh Silau Laut I, seorang ulama sufi beraliran Tarekat Syattariyah kelahiran Rao, Batu Bara.
Tuan Syekh Silau Laut I merupakan keturunan perantau Minangkabau yang moyangnya berasal dari Mudik Tampang, Rao, Pasaman.
Sejak dari bangku sekolah dasar, Abdul Somad dididik melalui sekolah yang berbasis pada Tahfiz Alquran. Tamat dari SD Al-Washliyah Medan pada 1990, ia melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Al-Washliyah Medan.
Setelah lulus pada 1993, ia melanjutkan pendidikan ke Pesantren Darularafah Deliserdang, Sumatra Utara selama satu tahun. Pada 1994, ia pindah ke Riau untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Indragiri Hulu dan menyelesaikannya pada 1996.
Tahun-tahun berikutnya antara 1996–1998, ia sempat berkuliah di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Pada 1998, ketika pemerintah Mesir membuka beasiswa kepada 100 orang Indonesia untuk belajar di Universitas Al-Azhar, ia pun mengikuti tes dan merupakan salah satu dari 100 orang yang berhak menerima beasiswa, mengalahkan 900-an orang lainnya yang mengikuti tes untuk mendapatkan beasiswa tersebut.
Kemudian ia akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar Kairo dan berhasil mendapatkan gelar Lc-nya dalam waktu tiga tahun 10 bulan pada pertengahan tahun 2002.
Setelahnya ia pun melanjutkan program pendidikan S2-nya di Universiti Kebangsaan Malaysia, namun hanya sempat berkuliah selama dua semester.
Pada 2004, melalui AMCI (bahasa Prancis: Agence Marocaine de Coopération Internationale) dari Kerajaan Maroko yang kala itu menyediakan beasiswa bagi pendidikan S2 hingga S3 di Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah, ia terpilih untuk masuk dalam kuota penerimaan orang asing melalui jalur beasiswa. Dan ia lantas melanjutkan pendidikan S2-nya di Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah Rabat yang setiap tahunnya hanya menerima 20 orang murid dengan rincian 15 orang Maroko dan lima orang untuk asing.
Program S2 diselesaikannya dalam waktu satu tahun 11 bulan dan mendapatkan gelar D.E.S.A. (bahasa Prancis: Diplôme d’Etudes Supérieurs Approfondies) yang berarti "Diploma Studi Lanjutan" pada akhir tahun 2006.
Pendidikan
Ustaz Abdul Somad menempuh pendidikan formal terakhir saat ini hingga jenjang doktor dalam bidang Ilmu Hadis, secara terturut-turut pendidikannya dapat dituliskan sebagai berikut:
SD Al-Washliyah, Medan, tamat 1990
Madrasah Tsanawiyah Mu'allimin Al-Washliyah, Medan, tamat 1993
Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, In-hu, tamat 1996
S1 Universitas Al-Azhar, Mesir, 2002
S2 Dar El Hadith El Hassania, Kerajaan Maroko, 2006
S3 Universitas Islam Omdurman, Sudan, 2019
Profesor Tamu di Universitas Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam, 2020-2022
(Bangkapos.com/ Evan Saputra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220428_Niat-zakat-fitrah-dan-waktu-membayarnya-kata-Ustaz-Abdul-Somad.jpg)