Human Interest Strory
Kisah Wanita Pengupas Bawang, Rosmada Rela Makan Berlauk Garam
Rosmada (50), seorang pekerja serabutan di Jalan Trem Pangkalpinang, Senin (25/7/2022) mengaku cukup sulit memenuhi kebutuhan hidupnya.
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Harga kebutuhan pokok yang tidak stabil membuat masyarakat dilema. Pedagang hingga pembeli mengeluhkan kenaikan harga pangan yang nyaris serentak, mulai bawang merah hingga cabai.
Sementara anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat menyentuh angka Rp500 beberapa waktu lalu membuat perekonomian di Bangka Belitung (Babel) semakin lesu.
Rosmada (50), seorang pekerja serabutan di Jalan Trem Pangkalpinang, Senin (25/7/2022) mengaku cukup sulit memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi ia merupakan kepala keluarga yang menggantikan posisi suaminya yang telah meninggal dunia tujuh bulan lalu.
"Ya beginilah ,sulit ya pasti sulit bang apalagi di rumah saya ini banyak anak serta cucu yang harus dihidupi," ucapnya kepada Bangkapos.com, petang tadi.
Bekerja sebagai pengupas bawang merah, perempuan ini hanya mendapatkan upah sebesar Rp20 ribu saja setiap hari. Pendapatan tersebut tentu tak cukup baginya sebab ada empat anak dan tiga cucu yang harus diberi makan.
Wanita lanjut usia itu akhirnya terpaksa melakoni pekerjaan lain untuk menambah penghasilan. Menjual pop ice dan kopi keliling adalah pekerjaan yang dipilihnya sebab di umur renta saat ini, pekerjaan itulah yang bisa dilakukan.
"Umur tua gini gak bisa lagi kerja di tempat orang sudah susah, jadi bisanya usaha saja walau gak banyak yang penting anak cucu bisa makan," ucapnya.
Jika ditotalkan , perempuan asal Palembang itu hanya bisa mengumpulkan uang tak sampai Rp100 ribu per hari. Sementara naiknya harga bahan pokok membuatnya cukup terpuruk, sebab dirinya merasa kesulitan untuk mengatur keuangan. Listrik, air semuanya harus dibayar, belum lagi biaya makan untuk tujuh orang anggota keluarganya. "50 ribu itu gak cukup bang karena buat makan saja sudah berapa," keluhnya.
Alhasil ia rela makan hanya berlauk garam saat ekonomi sedang tidak memungkinkan. "Yang terpenting anak cucu bisa makan ada lauknya, kalau saya mengalah tidak apa-apa liat mereka senang, saya juga senang," ucapnya haru.
Oleh karena itu, dengan penghasilan yang tak seberapa ia berharap pemerintah setidaknya dapat menstabilkan harga bahan pokok agar masyarakat sepertinya dapat hidup dan makan layak.
Hal senada juga turut dirasakan Rosida (48) seorang ibu rumah tangga yang tinggal di emperan hulu Sungai Rangkui Jalan Trem Pangkalpinang. Perempuan yang telah tinggal 25 tahun di kawasan itu juga melakoni pekerjaan sebagai pengupas bawang.
"Di sini kan dekat pasar, rata-rata setiap ibu-ibu yang ada di sini kerjanya ngambil upah dari orang pasar, lebih baik gini daripada nganggur lebih baik kerja," ucapnya.
Saat disinggung mengenai perekonomian, dirinya pun mengakui kondisinya tidak stabil, apalagi harga kebutuhan pokok yang naik turut mempengaruhi upah yang diberikan.
"Kalau harga apa-apa mahal ya upah kita kadang menyesuaikan, karena kan orang pasar juga rugi pastinya," ucapnya.
Oleh karena itu, sebagai pekerja serabutan, berpenghasilan minim ia harus mensiasati cara hidup yaitu mengurangi keperluan yang tidak penting. Perempuan ini juga berusaha menekan semaksimal mungkin pengeluaran agar mampu bertahan hidup pada kondisi yang tak pasti. (Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)