Tribunners

Refleksi Pembelajaran Model 4F

Penulis tidak akan malu untuk menyampaikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan demi mengubah paradigma guru dalam konteks pembelajaran zaman sekarang

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rizar, S.Si. - Guru Pembelajar SMKN 1 Kelapa 

Oleh: Rizar, S.Si. - Guru Pembelajar SMKN 1 Kelapa

SERING kali dalam melaksanakan tugas sebagai pemimpin pembelajaran, kita selalu berpedoman pada ketuntasan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran yang guru sampaikan. Guru lebih banyak mengaitkan antara ketuntasan setiap mata pelajaran yang diraih peserta didik dengan prestasi akademiknya. Tentu barangkali tidak semua anak mampu mencapai ketuntasan belajar pada setiap mata pelajaran, boleh jadi di mata pelajaran A anak mampu mencapai nilai melebihi kriteria ketuntasan, namun di pelajaran, B atau C anak justru tidak bisa mencapainya.

Polemiknya, ketika guru dihadapkan pada saat akhir-akhir menjelang kenaikan kelas. Biasanya guru akan cenderung mempertahankan nilai mata pelajarannya dan tak jarang rapat kenaikan kelas diwarnai dengan keegoan guru yang terkesan hanya melihat salah satu sisi nilai saja, namun kurang memperhatikan bakat dan potensi yang dimiliki anak di masa yang akan datang.

Benar sekali, guru mengikuti prosedur pedoman kriteria kenaikan kelas yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun, kita lupa apakah sebelumnya kita sebagai guru sudah sepenuhnya melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik.

Sebagai guru mata pelajaran biologi pada program keahlian agribisnis tanaman dan agribisnis pengolahan hasil pertanian di SMKN 1 Kelapa, penulis mencoba melakukan refleksi pembelajaran dengan model 4F (facts, feelings, findings, dan future). Refleksi yang penulis sampaikan lebih ke suasana pembelajaran di kelas, pada mata pelajaran biologi Kelas X SMKN 1 Kelapa tahun pelajaran 2021/2022.

Berikut uraian refleksi pembelajaran dengan model 4F. F yang pertama adalah facts (peristiwa). Peristiwa yang sering penulis temui ketika di kelas adalah kebanyakan peserta didik zaman sekarang kurang begitu bersemangat dalam menerima pelajaran. Anak-anak lebih banyak diam ketika guru bertanya, mereka kurang aktif, kurang bersemangat, ada anak yang menundukkan kepalanya di atas meja, dan bahkan ada yang tertidur di saat pembelajaran sedang berlangsung.

Penulis berpikir, apa ada yang salah dengan pembelajaran ini. Mengapa? Sebagai guru yang sudah 20 tahun mengajar di SMKN 1 Kelapa, penulis merasa perlu adanya tindakan di kelas yang dapat mengubah itu semua. Bersama rekan-rekan guru di sekolah, penulis sering berbagi pengalaman dan mengeluhkan mengapa anak sekarang berbeda dengan anak-anak sebelumnya. Penulis pun berpikir bahwa sebenarnya anak-anak ini tidak ada masalah mengenai pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan oleh guru, namun masalahnya adalah semangat untuk belajar, perilaku, suasana belajar atau cara belajar mereka yang berbeda. Mungkinkah pendidikan yang penulis berikan belum berpihak seutuhnya kepada peserta didik?

F yang kedua adalah feelings (perasaan). Penulis menyadari bahwa pembelajaran yang diterapkan dengan konsep lama, zaman sekarang ini sudah kurang tepat atau tidak menarik bagi anak-anak. Sebagai guru, penulis merasa bersalah, penulis sedih, penulis kecewa, ternyata pembelajaran yang penulis sampaikan kepada anak-anak kurang begitu bermakna bagi mereka.

Mungkin penulis lebih mementingkan target ketercapaian materi dari pertemuan satu ke pertemuan selanjutnya, dan abai terhadap kebutuhan belajar peserta didik. Hal inilah penulis mencoba untuk memperbaiki agar pembelajaran yang diberikan di masa mendatang benar-benar mewakili kebutuhan anak, berpihak pada anak.

Semenjak penulis mengikuti program pendidikan calon guru penggerak, penulis baru menyadari bahwa selama ini penulis sudah keliru dan salah dalam menerapkan pembelajaran terhadap peserta didik. Mungkin di sekolah bapak/ibu sering ditemui juga kondisi-kondisi seperti yang penulis ceritakan tadi. Jika begitu, sekarang kita harus mengubah sistem pembelajaran kita kepada peserta didik. Penulis tidak akan malu untuk menyampaikan fakta-fakta yang terjadi di lapangan demi mengubah paradigma guru dalam konteks pembelajaran zaman sekarang.

F yang ketiga adalah findings (pembelajaran). Apa yang dapat penulis petik dari peristiwa yang terjadi saat penulis memimpin pembelajaran di kelas? Yang penulis ambil pembelajarannya adalah bahwa kodrat alam dan kodrat zaman anak didik sekarang tidak bisa lagi kita samakan dengan anak didik di mana kita dahulu pernah bersekolah, enggak zamannya lagi. Alam pun sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan dengan 20 tahun silam.
Begitu juga dengan zaman sekarang yang makin canggih. Anak-anak sudah terbiasa dengan penggunaan gadget yang canggih, terbiasa dengan penggunaan berbagai macam aplikasi media sosial dan berinteraksi di dalamnya (dunia maya). Seperti itulah potret anak zaman sekarang.

Terus bagaimana dengan nilai dan peran guru terhadap anak didik zaman sekarang? Mengutip pemikiran Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan itu hanya suatu 'tuntunan' di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Artinya, hidup tumbuhnya anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kita kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.
Bahwa 'kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu' tiada lain ialah segala kekuatan yang ada dalam hidup batin dan hidup lahir dari anak-anak itu karena kekuasaan kodrat. Kita kaum pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan-kekuatan itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu.

Jelas bahwa pendidikan yang kita berikan kepada anak sekarang lebih banyak menyentuh dari hati ke hati. Bagaimana kita menuntun mereka agar laku yang samar-samar ditebalkan untuk memunculkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai profil pelajar Pancasila. Bagaimana kita menciptakan ekosistem pendidikan yang berpihak pada anak agar anak-anak betah belajar di sekolah dan mereka bisa berkolaborasi dan bereksplorasi dalam meningkatkan bakat dan potensinya sesuai dengan kemampuannya.

F yang keempat adalah future (penerapan ke depan). Penulis menyadari bahwa untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan di masa sebelumnya, maka beberapa poin penting yang akan penulis terapkan di masa mendatang, yaitu:
* Menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada anak.
* Menjadi guru pembelajar sepanjang hayat dengan terus selalu mengembangkan diri dan orang lain.
* Berbagi bersama dengan rekan guru sebagai coach dalam mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada di sekolah terutama dalam konteks pembelajaran.
* Berkolaborasi dengan rekan guru, kepala sekolah, warga sekolah, dan atau masyarakat sekitar untuk menciptakan ekosistem pendidikan sekolah yang berpihak pada anak.
* Membangun dan merawat komunitas praktisi yang selaras dengan tujuan visi dan misi sekolah dalam menanamkan nilai-nilai kemanusian dalam rangka mencetak generasi pelajar yang berprofil Pancasila.

Barangkali refleksi yang penulis paparkan tadi bisa menjadi renungan bagi kita sebagai guru pembelajar, kita sebagai agen perubahan, kita sebagai pemimpin pembelajaran. Mari bersama-sama kita mengubah cara pandang dalam membelajarkan peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Selalu untuk mau merefleksikan diri kita dalam segala aktivitas, baik kita sebagai orang tua di keluarga, guru di sekolah, maupun kita sebagai anggota masyarakat. Karena dengan refleksi diri kita tahu kekurangan dan kelebihan kita sehingga dalam penerapan pembelajaran di sekolah kita lebih bijak dalam mengambil sebuah keputusan, bukan keputusasaan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved