Breaking News:

Tribunners

Memaknai Tahun Baru Islam

Hijrah bagi rakyat adalah saling mendukung dan mendoakan setiap upaya baik yang dilakukan para pemimpin untuk mewujudkan kemaslahatan bersama

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Rahmat Zulkarnain, S.P. - Aktivis Sosial Masyarakat Bangka Tengah 

Oleh: Rahmat Zulkarnain, S.P. - Aktivis Sosial Masyarakat Bangka Tengah

UMAT Islam sepatutnya berbahagia dan bersyukur karena masih diberikan usia untuk bisa berjumpa dengan tahun baru 1444 Hijriah. Tahun baru umat Islam kita peringati setiap tahun. Dan perlu diketahui bersama bahwa penanggalan tahun baru agama Islam adalah 1 Muharam.

Dipilihnya peristiwa hijrah sebagai momentum penanggalan Islam karena beberapa pertimbangan, antara lain, dalam Al-Qur'an sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladzina hajaru), masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah ke Madinah, dan umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijriah.

Hijrah secara harfiah berarti pindah. Hijrah menjadi populer karena dipilih sebagai penanggalan dalam dunia Islam. Asal-usul hijrah diambil dari momentum perpindahan Nabi dari Makkah ke Yatsrib lalu diubah menjadi Madinah. Hijrah berarti berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Secara filosofis, makna ini mengisyaratkan bahwa jika umat Islam menginginkan suatu kebaikan dunia akhirat, maka harus bergerak dinamis dan terorganisasi dengan baik.

Salah satu bulan yang paling utama dalam kalender Islam adalah Muharam. Kata Muharam sendiri berasal dari kata yang diharamkan atau dipantang dan dilarang. Ini bermakna pelarangan untuk melakukan peperangan atau pertumpahan darah dan dianggap sharam.

Muharam memiliki arti yang diutamakan atau dimuliakan, karena beragam peristiwa bersejarah dan sangat penting bagi peradaban, perkembangan dan kemajuan Islam, salah satunya hijrah Nabi Muhammad SAW, terjadi di bulan yang penuh rahmat ini. Muharam adalah bulan yang spesial dikarenakan bulan pembuka dalam kalender Hijriah. Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharam sebagai bulan Allah karena keutamaannya.

Momentum tahun baru Hijriah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal yang baik ke yang lebih baik lagi. Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah. Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW saat beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.

Makna awal tahun baru Islam juga memiliki makna yang mendalam bagi setiap muslim karena makna tersebut lahir dari menegaskan kembali pentingnya menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan yang bersumber dari Al-Qur'an. Momentum awal tahun baru Islam bagi kaum muslimin agar terus mampu dalam berkreasi, menjunjung tinggi hak asasi manusia, menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, menciptakan birokrasi yang modern, yang transparan, rapi, dan bersih.

Dua Bentuk Hijrah

Ada dua bentuk hijrah dalam ajaran Islam, yakni hijrah fisik dan hijrah rohani. Pertama, hijrah secara fisik pernah terjadi sebanyak tiga kali. Dua kali ke negeri Habasyah (Ethiopia) yang berada di ujung benua Afrika dan satu kali ke Yastrib atau Madinah.

Hijrah fisik ini membuktikan betapa hebatnya pengorbanan para sahabat dengan melakukan perjalanan sangat jauh melintasi dua benua Asia dan Afrika. Menelusuri luasnya hamparan Gurun Sahara di bawah terik matahari yang membakar serta terpaan badai gurun pasir. Tujuannya tidak lain hanya untuk menyelamatkan akidah yang telah ditanamkan Rasulullah SAW di dada mereka.

Kedua, hijrah rohani (maknawi). Secara fisik, jasad kita tetap berada di suatu tempat, namun hati dan pikiran, perilaku, dan jiwa telah berhijrah. Pindah dari kondisi yang tidak baik kepada keadaan yang baik, dari keadaan yang baik kepada kondisi lebih baik. Artinya dalam setiap hari kita harus melakukan kebaikan karena salah satu bentuk upaya dari hijrah adalah berpindah dari tidak baik menjadi lebih baik.

Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka celakalah ia. Jika hari kemarin lebih baik dari hari ini maka merugilah ia. Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin maka beruntunglah ia.

Hijrah dalam Islam tidak boleh dipahami secara sempit dalam arti hanya berjihad berperang melawan kaum kafir saja. Namun hijrah di masa kini hendaknya dipahami secara lebih luas dan kontekstual. Bahwa hijrah bagi para pemimpin adalah jihad dengan keadilan, amanah, tanggung jawab untuk selalu memikirkan kesejahteraan rakyat.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved