Horizzon

Merah Putihku Setengah Tiang

Ada sisa luka yang perihnya terasa sampai sekarang dan itu selalu terasa saat menjelang 17 Agustus setiap tahunnya, luka itu adalah kasus Udin

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pimred BANGKA POS GROUP 

SOAL cinta terhadap tanah air, saya harus klaim bahwa cinta saya untuk bangsa dan negara ini tak perlu diragukan lagi.

Dada saya juga tetap bergetar ketika hadir di sebuah acara dan harus berdiri untuk ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Atau jika cinta itu dimaknai dengan mengibarkan bendera merah putih selama bulan Agustus, maka saya bisa pastikan bendera berkibar di halaman rumah saya.

Akan tetapi, ada catatan kecil yang perlu saya ungkapkan setiap momen Agustus, bulan di mana bangsa ini merayakan kemerdekaannya.

Ada sisa luka yang perihnya terasa sampai sekarang dan itu selalu terasa saat menjelang 17 Agustus setiap tahunnya.

Luka itu tentang rasa keadilan yang belum mampu diberikan secara utuh oleh bangsa dan negara ini, khususnya untuk profesi yang saya jalani lebih dari dua dekade berjalan.

Mulai tanggal 1 hingga 31 Agustus, saya selalu bersemangat memasang bendera merah putih di halaman rumah. Namun khusus di tanggal 13 hingga 16 Agustus, saya sengaja memasangnya setengah tiang. Itu sebagai adalah tanda duka cita mendalam atas rasa keadilan yang terkoyak atas profesi saya sebagai wartawan.

Belum lama memang kebiasaan 'nakal' itu saya lakukan. Seingat saya, mengibarkan bendera setengah tiang di tanggal 13 hingga 16 Agustus ini baru mulai sejak 2013.

Pernah suatu ketika seorang tetangga saya yang anggota TNI berhenti dan menanyakan perilaku aneh saya tersebut.

Awalnya ia mengira jika benderanya melorot dan berniat untuk mengingatkan saya. Namun saya menjawab bahwa bendera tersebut sengaja dikibarkan setengah tiang sebagai tanda duka atas ketidakadilan terhadap profesi wartawan.

MAri saya ajak untuk membuka catatan sejarah, tepatnya tanggal 13 Agustus 1996.

Malam sekitar pukul 21.30, seorang wartawan bernama Fuad Muhammad Safruddin alias Udin pulang dari kantornya di Jalan Jenderal Sudirman No.52 Yogyakarta menuju ke rumahnya di Bantul, Yogya Selatan.  Kantor tersebut adalah Harian Bernas, yang saat ini menjadi kantor Redaksi Tribun Jogja.

Beberapa saat setiba di rumah, Udin kedatangan tamu yang konon disebut Marsiyem, istri Udin, terdiri dari dua laki-laki.

Tanpa curiga, Mbak Marsiyem kemudian memanggil suaminya dan memberitahukan tentang keberadaan dua tamu yang menunggu di depan pintu.

Marsiyem masuk disusul Udin yang keluar menemui tamu tersebut. Sejurus kemudian Marsiyem mendengar beberapa kali suara layaknya benda jatuh di depan rumah.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved