Bangka Pos Hari Ini
Harga Pertalite Diisukan Naik Jadi Rp10 Ribu Per Liter, Nasib Angkot Bakal Makin Terpuruk
Sopir angkot di Pangkalpinang, Bani, mengatakan, semakin dilematis lantaran pihaknya tidak berani menaikkan tarif angkot secara sepihak.
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Wacana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite dan solar membuat sopir angkot di Kota Pangkalpinang kecewa.
Saat ini santer beredar isu, harga pertalite akan segera naik menjadi Rp10.000 per liter dari sebelumnya Rp7.650 per liter, dan solar menjadi Rp7.200 per liter dari sebelumnya Rp5.150 per liter.
Apabila harga pertalite benar-benar naik, maka nasib sopir angkot akan semakin terpuruk. Pasalnya tidak hanya membuat penghasilan mereka semakin tipis, tetapi tidak sedikit sopir yang merugi karena kenaikan tersebut.
"Semuanya serba mahal sekarang. Tidak hanya BBM yang mahal, tapi onderdil juga mahal. Sementara penumpang sepi, penghasilan kita juta tidak pasti," kata Bani (53) sopir angkot jurusan Selindung Ramayana kepada Bangka Pos, Senin (29/8/2022).
Situasi ini, ujar Bani, semakin dilematis lantaran pihaknya tidak berani menaikkan tarif angkot secara sepihak.
"Kalau dinaikkan, takut warga nggak mau naik angkot. Apalagi minat masyarakat naik angkot juga semakin sepi," ungkapnya lesu.
Bani mengaku, pertalite belum naik saja penumpang sudah sepi, apalagi jika pertalite bakal dinaikan Rp10 ribu per liter, otomatis penumpang akan tambah sepi. Pria asal Desa Pagarawan, Kecamatan Merawang ini, memperkirakan apabila pemerintah ngotot menaikkan pertalite Rp10 ribu per liter, terpaksa tarif angkot saat ini Rp5.000 untuk jarak jauh dekat, bakal naik dua kali lipat.
"Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sepinya penumpang nanti, kami rakyat kecil ini pasti makin terpuruk ekonominya," keluhnya.
Bani yang telah 30 tahun menjadi sopir angkot membeberkan sehari dirinya membutuhkan 10 liter pertalite untuk membawa penumpang. Pendapatannya sebagai sopir pun hanya pas-pasan berkisar Rp70 ribu per hari.
"Dapat Rp100 ribu saja sulit sekarang, karena penumpang sepi. Sekali jalan paling angkut tiga penumpang, hitunglah berapa uangnya," imbuh Bani.
Biaya Membengkak
Keluhan serupa diungkapkan Robi (44) sopir angkot jurusan Pangkalbalam-Ramayana. Menurut pria asal Kelurahan Gabek Pangkalpinang ini, kenaikan BBM akan membuat pengeluaran para sopir membengkak. Apalagi pemasukan yang tidak seimbang dengan pengeluaran tentu akan semakin mempersulit kondisi mereka.
Ia mengaku saat ini jumlah penumpang yang menggunakan angkot untuk bepergian sudah semakin berkurang. Sekali jalan paling banyak dia hanya bisa mengangkut 4-5 orang.
"Kalau ada kenaikan pasti sulit bagi saya. Sekarang saja, dengan harga pertalite Rp7.650 per liter bisa menghabiskan bahan bakar Rp100 ribu seharinya. Kalau naik jadi Rp10 ribu, mau berapa biaya untuk beli pertalite, bingung saya," sebutnya.
Robi pun berharap pemerintah mempertimbangkan kembali rencana menaikkan harga pertalite. Sebab tidak mungkin lagi baginya untuk menaikkan tarif penumpang, mengingat saat ini jumlah penumpang sudah semakin berkurang.