Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Dampak Kenaikan Harga BBM, Material Rumah Diperkirakan Naik, Pengembang Jaga Lonjakan Harga Rumah

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa berdampak luas ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pejuang Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Penulis: Andini Dwi Hasanah | Editor: nurhayati
Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah
Ilustrasi pembangunan perumahan bersubsidi di Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa berdampak luas ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk para pejuang Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Wakil Ketua Pokja Forum Perumahana Kawasan Pemukiman (PKP) Kota Pangkalpinang, sekaligus Direktur PT Anugerah Karya Konstruksi Dori Setiawan menyebut, kenaikan harga BBM tentu akan berpengaruh terhadap material bangunan. Artinya harga rumah akan diperkirakan naik.

"Yang pasti material naik, kita belum tau kedepan apakah akan ada penurunan daya beli masyarakat atau tidak. Tapi kemungkinan kedepan bisa jadi bakal ada penurunan sebab kebutuhan pangan dan sandang lebih diutamakan," sebut Dori kepada Bangkapos.com, Senin (5/8/2022).

Baca juga: Fraksi PKS DPRD Pangkalpinang Tolak Kenaikan BBM, Arnadi : Cederai Semangat Tema Kemerdekaan

Baca juga: Kapolres Bangka Akan Tindak Tegas Penyalahgunaan BBM, Pelaku bisa Terancam Penjara dan Denda Rp 80 M

Namun pihaknya akan berupaya agar kenaikan harga rumah tetap terjaga dan daya beli masyarakat tetap terpenuhi.

"Para pengembang juga bisa menjaga lonjakan harga rumah dengan menekan sejumlah biaya seperti marketing hingga operasional. Kita masih bisa efisiensi dan efektif dalam operasional bisnis agar masyarakat tidak terbebani," ungkapnya.

Sebab kata Dori, hingga saat ini bisa dikatakan nilai Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih rendah, dan terjangkau untuk memiliki rumah subsidi. 

"Masyarakat berpenghasilan rendah pun masih bisa memiliki rumah subsidi, karena hanya dengan gaji Rp3,2 juta untuk single sudah bisa mendapatkan KPR, dan yang berkeluarga suami dan istri bekerja sampai dengan penghasilan Rp7,9 juta sudah cukup. Saya rasa masih bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah," jelas Dori.

Dori menyebut, sejak pandemi 2019 hingga saat ini pasca pandemi covid-19 belum ada kenaikan harga dari perumahan bersubsidi dari pemerintah.

Sementara disisi lain, menurutnya tanah dan bahan material serta upah tenaga kerja naik 30 persen 

"Kita mengalami inflasi yang signifikan dalam basis usaha perumahan ini, kami berharap pemerintah bisa mempertimbangkan lagi untuk kenaikan harga rumah. Karena developer pun kedepannya sepertinya berpikir ulang untuk membangun perumahan apabila tidak ada kenaikan harga," ungkapnya.

Baca juga: Jajaran Polres Bangka Barat Pantau Sejumlah SPBU, Cegah Penimbunan BBM

Baca juga: Kebakaran di SDN 8 Pangkalanbaru, Saksi Mata Ini Dengar Suara Letupan, Diduga Akibat Korsleting

Menurutnya, developer saat ini turut membantu pelaksanaan program pemerintah pusat dalam membangun satu juta rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

"Masih banyak yang butuh rumah, market masih bagus tapi apabila developer tidak dibantu dalam hal penyesuaian harga rumah dengan kenaikan material dan harga tanah 30 persen ini, maka kita pun keteteran dalam menyiapkan perumahan subsidi untuk masyarakat. Harapan kita pemerintah dengan depelover bersinergi dalam membangun ini," ungkap Dori.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved