Tribunners
Perhelatan DWG G20 dan Momentum Kebangkitan Pariwisata Babel
Kita tentunya tak mau perhelatan besar ini hanya menjadi ajang seremonial belaka tanpa meninggalkan jejak berarti.
Adapun untuk seni budaya daerah, Babel juga sangat kaya akan hal itu. Babel punya tari Taber, tradisi Buang Jong, musik dambus yang memancing orang menari, perang ketupat yang unik, dan budaya nganggung yang sarat makna dan masih banyak lagi seni budaya lainnya yang tak akan terlupakan seumur hidup di benak para pelancong.
Untuk pencinta sejarah, Babel punya Museum Timah seperti di Pangkalpinang dan Muntok yang dikelola PT Timah Tbk. Ada juga pusat kerajinan timah atau pewter. Di pusat kerajinan timah itu para pelancong sekaligus dapat mencari suvenir berbahan utama dari timah dan punya ciri khas tersendiri. Semisal kerajinan kapal layar dan kereta sorong eksklusif yang terbuat dari timah.
Nilai jual lainnya adalah objek wisata sejarah yang berhubungan dengan tokoh pendiri bangsa Bung Karno dan pahlawan RI lainnya, yakni tempat pembuangan mereka saat berada di Pulau Bangka. Objek itu, antara lain, Wisma Ranggam dan Pesanggrahan Bukit Menumbing di Muntok Bangka Barat.
Lantas bagaimana dengan kuliner? Tentu saja Babel selama ini dikenal pula sebagai surga bagi para pencinta kuliner, mulai dari masakan seafood seperti lempah kuning, gangan, kepiting saus tiram, mi koba, mi belitong, laksa, pantiaw, otak-otak panggang, getas, kerupuk, dan beragam kuliner lainnya.
Untuk itu kepada panitia kegiatan DWG G20 khususnya pengelola media center agar bertindak sigap dan profesional. Selain melayani kebutuhan informasi untuk kalangan media, tentu dapat berperan sebagai media promosi wisata Babel, khususnya untuk kalangan tamu/delegasi yang datang. Siapkan brosur dan materi promosi lainnya dalam versi bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.
Begitu pula peran aktif masyarakat di bidang UMKM, seni budaya, dan kuliner harus dioptimalkan. Masyarakat harus terlibat dan menikmati adanya kegiatan besar ini bukan hanya menjadi penonton saja.
Kita tentunya tak mau perhelatan besar ini hanya menjadi ajang seremonial belaka tanpa meninggalkan jejak berarti. Jangan sampai kita kehilangan momentum sehingga geliat wisata yang mulai bergelora ini redup kembali. Kita mau masa depan wisata Babel akan terbentang luas, prospektif, dan menjanjikan. Semoga. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/2021118-irwanto-pranata-humas-pemprov-babel.jpg)