Breaking News:

Berita Pangkalpinang

Ketum PPP Dicopot dari Jabatannya, Akademisi Nilai Berpotensi Menimbulkan Konflik Internal PPP

Sebaliknya jika bisa dikelola dengan baik maka sangat mungkin akan menjadi peluang peningkatan elektabilitas PPP.

(Posbelitung.co/BryanBimantoro)
Pengamat Politik dan Dosen Ilmu Politik FISIP UBB, Ibrahim. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Suharso Monoarfa dicopot dari jabatannya sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) atas usulan tiga pimpinan majelis di PPP saat Mukernas di Serang, Banten, Minggu (30/8/2022) lalu.

Menanggapi hal itu Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB), Ibrahim mengungkapkan, pemberhentian Suharso Manoarfa akan berpotensi menimbulkan konflik internal PPP jika kubu Suharso melakukan manuver.

"Jamak kita ketahui bahwa perseteruan elit parpol akan mendorong instabilitas Parpol, namun seringkali menjadi amunisi ekstra ordinary untuk mendapatkan atensi publik dan utamanya para pemilih," ungkap Ibrahim kepada Bangkapos.com Rabu (7/9/2022) siang.

Menurutnya, jika pemberhentian ini tidak dikelola hati-hati maka akan berdampak buruk, sebaliknya jika bisa dikelola dengan baik maka sangat mungkin akan menjadi peluang peningkatan elektabilitas PPP.

"Sikap Suharso dan timnya akan sangat menentukan potensi konflik Parpol di internal. Jika bisa diredam secara elegan, maka konflik akan meredup dan pergantian akan menjadi momentum perbaikan pencitraan," kata Ibrahim.

Sementara itu, Ibrahim menilai peluang koalisi berubah sangat terbuka, karena setiap pimpinan akan memiliki caranya sendiri. Satu hal yang pasti bahwa umumnya keputusan politik Jakarta akan sangat menentukan dinamika di tingkat lokal.

Dengan demikian kata dia, sepanjang pusat tidak terbelah dua, maka para kader PPP di daerah mungkin akan tetap solid. Dualisme akan muncul jika tarik-menarik otoritas di pusat mengalami perebutan.

"PPP di Babel saya kira sebaiknya tetap memainkan peran normatif. Sebagai pengurus daerah, peluangnya terbelah cukup kuat jika pilah-pilih patron politik di pusat terbelah," ungkapnya.

Dirinya menggambarkan jika konflik elit di pusat dilokalisir, daerah mungkin tidak akan terlalu terdampak. Maka, konflik elit sebaiknya dilokalisir agar tidak merongrong soliditas di tingkat lokal.

(Bangkapos.com/Akhmad Rifqi Ramadhani)

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved