Breaking News:

Tribunners

Keterampilan Pustakawan Dibutuhkan di Era Post-Truth

Profesi pustakawan bukanlah profesi yang populer di tengah masyarakat pada umumnya

Editor: suhendri
Keterampilan Pustakawan Dibutuhkan di Era Post-Truth
ISTIMEWA
Arja Kusuma - Pustakawan UBB

Oleh: Arja Kusuma - Pustakawan Universitas Bangka Belitung

FENOMEMA post-truth bukanlah sesuatu yang baru. Keyes (2004) dalam buku yang berjudul "The post-truth era dishonesty and deception in contemporary life" menjelaskankan bahwa pertama kali dia mengetahui istilah post-truth pada tahun 1992 dalam nation essay yang ditulis oleh Tesich. Kemudian, pada tahun 2016, istilah tersebut menjadi trending topic, bahkan Oxford Dictionary menetapkan istilah tersebut menjadi Word of The Year 2016.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan post-truth? Jika berdasarkan Oxford Dictionary, yang dimaksud post-truth adalah sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan emosi dan keyakinan personal. Secara sederhana, Keyes (2004) mendefinisikan post-truth sebagai kaburnya batas antara kebohongan dan pengungkapan kebenaran, serta antara fakta dan fiksi. Kondisi sebagaimana yang dijelaskan dalam pengertian post-truth tersebut dapat terjadi melalui penyampaian informasi yang hanya memiliki daya tarik emosional tanpa disertai dengan fakta kepada masyarakat (hoaks).

Dalam fenomena post-truth, informasi dapat menjadi instrumen atau alat yang sangat efektif dan efisien. Fenomena post-truth tersebut dapat terjadi dalam semua aspek kehidupan masyarakat, seperti aspek politik. Contoh yang paling populer pada aspek ini adalah pada saat pemilihan Presiden Amerika pada 2016, di mana Donald Trump mengeklaim tanpa bukti bahwa jika dia kalah dalam pemilihan presiden tersebut, itu berarti dia dicurangi.

Kemudian, fenomena tersebut menjadi salah satu penyebab istilah post-truth menjadi populer pada 2016, bahkan pada 2019 fenomena tersebut juga merambah dalam pemilihan presiden dan wakil presiden di Indonesia sehingga istilah post-truth sangat identik dengan dunia politik. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah fenomena ini akan populer lagi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden tahun 2024?

Selain itu juga dalam aspek penegakan hukum. Contohnya adalah dalam kasus kematian Brigadir J. Sebelum diketahui fakta yang sebenarnya, informasi yang beredar di tengah masyarakat atas kematian Brigadir J adalah karena tembak-menembak. Barulah kemudian setelah dilakukan penyidikan lebih lanjut, terkuak bahwa tidak ada kejadian tembak-menembak seperti yang disampaikan sebelumnya. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menutupi fakta yang sebenarnya. Dalam kasus ini, fenomena post-truth tersebut sengaja ingin diciptakan untuk menutupi fakta yang sebenarnya.

Dari beberapa contoh fenomena post-truth tersebut, kita dapat membayangkan bagaimana dampak yang dapat terjadi jika kita terseret dalam fenomena post-truth tersebut, seperti tindakan dan perilaku kita akan keliru, tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, karena pada dasarnya informasi yang kita dapatkan dan baca tersebut dapat memengaruhi bagaimana kita bertindak dan berperilaku.

Sekarang, di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, menjadikan fenomena post-truth tersebut makin tumbuh subur, berkembang, dan menjamur di tengah masyarakat. Hal itu disebabkan oleh kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet dan media sosial, seperti kemudahan dalam memproduksi dan mendapatkan informasi.

Kondisi yang demikian makin diperparah dengan adanya filter bubble. Filter bubble adalah istilah yang menggambarkan bagaimana algoritma menentukan informasi apa saja yang akan kita temukan di internet berdasarkan kata kunci yang pernah kita gunakan. Contoh sederhananya adalah ketika kita bermain media sosial, tiba-tiba didinding media sosial kita muncul iklan atau informasi terkait dengan kata kunci yang pernah kita gunakan di internet. Dalam konteks ini filter bubble dapat mempersempit sudut pandang kita dalam mendapatkan informasi yang dicari, atau menjadikan kita seperti katak dalam tempurung.

Oleh karena itu, sekarang kita tidak hanya hidup di era post-truth, tetapi juga era revolusi industri 4.0, yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Hidup di era seperti sekarang tidak cukup hanya dengan dibekali paket data dan gadget saja, namun juga harus disertai dengan kemampuan atau keterampilan yang dibutuhkan untuk kita bisa lepas dari fenomena post-truth.

Keterampilan pustakawan

Profesi pustakawan bukanlah profesi yang populer di tengah masyarakat pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan profesi pustakawan jarang tampil untuk memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat, atau dengan kata lain peran pustakawan belum (jika tidak mau dikatakan tidak) dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

Terkait dengan hal tersebut, penulis berpendapat bahwa perlu dilakukan reorientasi dalam pengelolaan perpustakaan, di mana pengelolaan perpustakaan tidak hanya berorientasi pada layanan saja, namun juga pada pengguna perpustakaan. Dengan demikian, apa yang menjadi kebutuhan dan permasalahan penggunanya dapat dipenuhi dan diselesaikan. Selain itu juga pengembangan perpustakaan harus sesuai dengan potensi daerah.

Namun dalam tulisan ini, penulis bukan mau fokus pada permasalahan tersebut. Karena di sisi lain profesi pustakawan juga sangat populer di kalangan akademisi dan peneliti. Kepopuleran tersebut dikarenakan pustakawan memiliki keterampilan yang dapat membantu mereka dalam mempermudah pekerjaannya, seperti memenuhi kebutuhan informasi mereka dalam mengajar dan meneliti.

Adapun keterampilan pustakawan yang dimaksud adalah (1) melakukan seleksi atas informasi yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya, (2) mengelola informasi agar mudah dicari, (3) kemampuan dalam temu kembali informasi (mencari informasi yang sesuai kebutuhannya).

Selain itu, pustakawan juga memiliki kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan mengintegrasikan informasi dalam berbagai format yang bisa diakses melalui internet, kemudian menempatkannya sesuai dengan konteksnya atau yang sering disebut dengan literasi digital. Keterampilan tersebutlah yang saat ini sangat dibutuhkan oleh kita di era post-truth dan revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, selain kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, dampak dari ketika kita terseret ke dalam fenomena post-truth di era revolusi 4.0 seperti sekarang dapat diminimalisasi.

Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana keterampilan tersebut dapat diajarkan kepada masyarakat terutama generasi Z secara masif, mengingat di sekolah dan di jurusan lainnya keterampilan atau kemampuan tersebut belum diajarkan? (*)

Sumber: bangkapos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved