Tribunners
Mengulas Ikhwal Kutipan Menggunakan Parafrasa
Siswa sering kali keliru tentang kebahasaan Laporan Pelaksanaan Kegiatan atau bisa juga disebut artikel ilmiah dengan Artikel Ilmiah Populer
Oleh: Purnawiwansyah, S.Pd. - Guru Bahasa Indonesia SMKN 1 Kelapa
SILAKAN bertanya pada siswa SMKN 1 Kelapa yang telah melaksanakan kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Industri Dunia Kerja. Apa bentuk pertanggungjawaban ke pihak sekolah dari siswa pascakegitan PKL? Tak bukan adalah Laporan Pelaksanaan Kegiatan PKL yang dikemas serupa artikel ilmiah.
Adakah kendala dalam menyelesaikan Laporan Pelaksanaan Kegiatan PKL tersebut? Sebagian besar siswa yang penulis observasi akan menjawab banyak sekali kendala utamanya tentang pengutipan dari sumber secara tidak langsung atau dikenal dengan parafrasa yang sering kali ditemukan banyak kesalahan di sana sini.
Pada SMKN 1 Kelapa sendiri, pelaksanaan PKL dilakukan di kelas XI dan di kelas XI pula kompetensi tentang karya ilmiah mata pelajaran bahasa Indonesia ditagihkan. Penulis akan membagikan ulasan yang gampang dipahami tentang cara mengutip dengan menggunakan teknik parafrase yang juga penulis paparkan di depan kelas XI Kompetensi Keahlian Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) dan Kelas XI Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) SMKN 1 Kelapa, kelas yang penulis ajar di tahun pelajaran 2022/2023.
Siswa sering kali keliru tentang kebahasaan Laporan Pelaksanaan Kegiatan atau bisa juga disebut artikel ilmiah dengan Artikel Ilmiah Populer atau yang lebih umum disebut dengan opini. Ada perbedaan yang signifikan antara cara menulis artikel ilmiah populer dengan cara menulis artikel ilmiah. Demikian juga dengan pembacanya.
Artikel populer cenderung heterogen, sedangkan pembaca artikel ilmiah lebih spesialis yakni para akademisi.
Penulis anggit terlebih dahulu mengenai artikel ilmiah populer/opini. Artikel ilmiah populer merupakan tulisan ilmiah yang disajikan dengan format dan bahasa yang populer untuk semua kalangan sehingga enak dibaca dan mudah dipahami. Artikel populer adalah artikel yang dimuat di koran dan majalah. Sebagian besar lomba yang diselenggarakan kemendikbud, artikel yang diminta adalah jenis artikel ilmiah bukan artikel ilmiah populer.
Seorang penulis, baik itu penulis artikel ilmiah maupun penulis opini tidak dapat menghindari pengutipan. Ia perlu menggunakan pendapat, pemikiran, atau penemuan orang lain sebagai pendukung karya tulisnya, sebagai kajian fundamental, pembanding, atau sebagai hasil yang hendak diungkap kelemahannya. Pendeknya, mengutip -karya tulis orang lain- adalah sebuah kelaziman. Namun, harus dilakukan berhati-hati agar tidak menjadi "kezaliman".
Ada dua cara mengutip tulisan yaitu mengutip secara langsung dan mengutip secara tidak langsung. Keduanya diperbolehkan. Namun untuk Laporan Pelaksanaan Kegiatan PKL di SMKN 1 Kelapa, siswa dibiasakan untuk mengutip secara tidak langsung menggunakan metode parafrasa. Makna parafrasa adalah mengungkapkan kembali sebuah tuturan -di dalam teks- dengan tuturan lain tanpa mengubah pengertian aslinya.
Kutipan langsung artinya mengutip secara utuh pendapat orang lain. Lalu, dipindahkan seluruhnya dalam tulisan dengan wajib mencantumkan sumber. Jika menggunakan cara kutipan langsung, teknisnya cukup menyebut nama penulis dan tahunnya saja. Contoh, Menurut Didin (2022) dan tidak perlu menggunakan halaman.
Adapun kutipan tidak langsung adalah kutipan hasil membaca karya orang lain. Namun, sudah diolah dengan kalimat sendiri. Arti kata, parafrasa dapat berfungsi mengungkapkan teks kutipan dengan bahasa orisinal penulis; mempermudah pembaca memahami suatu teks kutipan; dan menghindari persentase kesamaan teks yang tinggi akibat banyaknya pengutipan.
Tentu tidak ada patokan seberapa banyak seorang penulis harus mengutip untuk mengalirkan gagasannya ke dalam tulisan. Sepanjang kutipan itu penting dan membantu pembaca untuk memahami materi lebih jauh, penulis sah-sah saja menampilkannya. Namun, penulis harus membatasi diri dan menjaga etika penulisan artikel ilmiah dengan tidak menjadikan tulisannya adalah kumpulan kutipan.
Meskipun parafrasa akrab di telinga para penulis artikel ilmiah atau jikalau di SMKN 1 Kelapa parafrase akrab dengan siswa penyusun Laporan Pelaksanaan Kegiatan PKL, sering kali mempraktikkannya sangat kaku. Banyak siswa kepayahan memenuhi target persentase kesamaan teks -kutipan- atau similarity kurang dari 30 persen. Artinya, kutipan yang benar-benar sama dengan teks aslinya -kutipan langsung- maksimal adalah 30% -tidak termasuk dokumen resmi seperti regulasi dan teori umum-. Oleh sebab itu, untuk mengurangi revisi yang berulang-ulang akibat mengutip langsung yang melampaui ketentuan, siswa SMKN 1 Kelapa dibiasakan dengan pengutipan metode parafrasa.
Mesin pengecek plagiasi, alih-alih disebut pengecek kesamaan sebut saja yang banyak digunakan yakni Turnitin dengan kecanggihan kecerdasan buatan yang tertanam di dalamnya mampu mendeteksi setiap kutipan secara akurat. Karena itu, mau tidak mau para penulis artikel ilmiah ataupun siswa penyusun laporan pelaksanaan kegiatan PKL di SMKN 1 Kelapa harus menerapkan parafrasa pada sebagian besar kutipan.
Mengapa harus parafrasa?
Ciri kutipan parafrasa adalah terintegrasi di dalam teks tanpa pembeda seperti pengaturan spasi atau penggunaan tanda petik. Parafrasa dianggap cara mengutip yang lebih baik dibandingkan mengutip secara langsung. Penulis menekankan kepada siswa bahwasanya jika mereka melakukan parafrasa, mereka dianggap telah memahami makna dari sumber yang dikutip. Implikasinya, secara tidak langsung menunjukkan Laporan Pelaksanaan Kegiatan PKL siswa tersebut lebih orisinal dari segi kebahasaannya yakni: penggunaan kata, frasa, struktur kalimat, dan struktur paragraf.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220928_Purnawiwansyah-Guru-Bahasa-Indonesia-SMKN-1-Kelapa.jpg)