Tribunners
Tumbuhnya Ekspor Indonesia
Ekspor menjadi driver utama kinerja pertumbuhan ekonomi 2021 pada saat konsumsi rumah tangga mengalami tekanan akibat pandemi.
Oleh: Ridho Ilahi - Fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik
EKSPOR Indonesia pada Juni 2022 mencatatkan surplus sebesar USD 26,09 miliar, tumbuh kuat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 40,68 persen (yoy). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekspor terjadi baik pada komponen migas 22,71 persen (yoy) maupun nonmigas 41,89 persen (yoy).
Nilai ekspor terus bertumbuh seiring pergerakan harga komoditas global yang masih berada pada tren peningkatan sejak 2021 dan kini makin tereskalasi karena terjadinya konflik geopolitik. Pertumbuhan ekspor diharapkan berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia 2022 yang saat ini juga makin solid pemulihannya. Meningkatnya ekspor akan berdampak pada aktivitas investasi dan konsumsi domestik.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2022 mencapai USD 141,07 miliar atau naik 37,11 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai USD 133,31 miliar atau naik 37,33 persen. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Juni 2022 terhadap Mei 2022 terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 2.538,9 juta (300,66 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar USD 491,7 juta (18,02 persen).
Ekspor menjadi driver utama kinerja pertumbuhan ekonomi 2021 pada saat konsumsi rumah tangga mengalami tekanan akibat pandemi. Memasuki tahun 2022, selain makin menguatnya aktivitas konsumsi dan investasi seiring dengan keberhasilan pengendalian gelombang Omicron, kontribusi ekspor pada pertumbuhan ekonomi Q1 2022 juga diperkirakan cukup signifikan.
Secara umum, ketegangan Rusia-Ukraina tidak berpengaruh secara langsung terhadap kinerja ekspor impor Indonesia, mengingat kedua negara tersebut bukan merupakan major trading partner bagi Indonesia. Namun, secara tidak langsung, ketegangan tersebut terindikasi berpengaruh terhadap volume perdagangan dan harga komoditas global. Kenaikan harga komoditas global ini membawa dampak positif pada ekspor kita, khususnya terkait komoditas energi, mineral, dan logam di mana Indonesia mengekspor dalam jumlah yang besar sehingga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Dua komoditas ekspor terbesar Indonesia yaitu batu bara dan minyak nabati harganya meningkat masing-masing sebesar 82,3 persen dan 26 persen. Hal ini juga diperkirakan membawa dampak pengganda pada kinerja sektor-sektor terkait di dalam negeri. Proyeksi ekspor diperkirakan akan terus menguat dan menopang neraca perdagangan Indonesia seiring tren peningkatan harga komoditas yang masih akan berlangsung.
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2022 mengalami surplus USD 5,09 miliar, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat surplus USD 2,90 miliar. Kondisi ini melanjutkan tren surplus selama 23 bulan berturut-turut. Kinerja neraca perdagangan yang masih menguat diperkirakan akan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2022.
Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-Juni 2022 naik 25,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Demikian juga ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 13,19 persen dan ekspor hasil tambang dan lainnya naik 107,19 persen.
Ekspor nonmigas Juni 2022 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu USD 5,09 miliar, disusul India USD 2,53 miliar dan Amerika Serikat USD 2,46 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,06 persen. Sementara itu, ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar USD 5,08 miliar dan USD 1,68 miliar.
Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari-Juni 2022 berasal dari Jawa Barat dengan nilai USD 19,23 miliar (13,64 persen), diikuti Kalimantan Timur USD 16,06 miliar (11,39 persen), dan Jawa Timur USD 12,87 miliar (9,12 persen).
Ekspor Manufaktur
Namun, di tengah tingginya harga komoditas global, pemerintah akan terus memantau dan memastikan ketersediaan energi dan pangan untuk kebutuhan domestik. Kabar baik lainnya adalah pertumbuhan ekspor manufaktur yang ikut tinggi dan menjadi penopang ekspor.
Struktur ekspor Indonesia terus membaik dengan peningkatan proporsi komoditas non-SDA. Di sisi sektoral, pada bulan Juni 2022, ekspor sektor manufaktur yang merupakan komponen tertinggi dari total ekspor nonmigas tumbuh 41,89 persen (yoy). Ekspor manufaktur yang tinggi diharapkan dapat turut menjadi bantalan, tidak hanya bagi keseimbangan eksternal, tetapi juga ekonomi domestik, termasuk dari sisi penciptaan lapangan kerja.
Kinerja positif manufaktur menunjukkan bahwa ekspor Indonesia makin bernilai tambah tinggi dan tidak hanya mengandalkan komoditas. Hal ini didorong oleh salah satunya upaya hilirisasi yang kian menampakkan hasil sehingga akan terus diperkuat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220928_Ridho-Ilahi-Fungsional-Statistisi-Badan-Pusat-Statistik.jpg)