Senin, 13 April 2026

Berita Pangkalpinang

Pro dan Kontra Full Day School, Begini Kata Mereka

Penerapan kebijakan full day school yang dijalani institusi pendidikan di Republik Indonesia  (RI) masih saja, menimbulkan sejumlah polemik.

Dok Disdikbud Bulungan
Ilustrasi siswa SD 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -  Penerapan kebijakan full day school yang dijalani institusi pendidikan di Republik Indonesia  (RI) masih saja, menimbulkan sejumlah polemik.      

Tak sedikit pihak yang mengkritisi juga kebijakan ini karena berdampak pada berkurangnya waktu sosialisasi siswa. Namun ada pula pihak yang justru mendukung karena sederet manfaat yang ditimbulkan

Menanggapi hal itu, Dosen Psikologi Islam IAIN SAS Bangka Belitung, Siska Dwi Paramita menilai penerapan full day school memiliki sisi positif dan negatif.

Sisi negatifnya, para siswa dan guru akan merasakan kelelahan secara fisik karena kurangnya waktu beristirahat. Sehingga kelelahan fisik  akan berdampak terhadap psikologis seseorang.

"Saat seseorang merasa lelah maka akan cenderung lebih mudah marah, kesal, bad mood," ucapnya kepada Bangkapos.com Kamis (6/10/2022) malam.

Sehingga, hal inilah yang perlu dihindari. Artinya jika full day school Itu diwajibkan, maka sebaiknya ada aturan-aturan, salah satunya memberikan waktu kepada guru maupun murid untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali aktivitas tambahan di sekolah. 

Namun, karena ini kebijakan pemerintah, baik itu siswa orang tua maupun guru mau tidak mau harus mengikuti kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, perlunya di atur kembali penjadwalan  atau kegiatan yang akan dilakukan selama 8 jam berada di sekolah.

Selanjutnya terkait sisi positif, siswa menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan pihak sekolah sudah memiliki jadwal yang telah disesuaikan. 

Tak hanya itu, kegiatan full day school ini dapat menghindari pergaulan di luar batas yang tidak dipantau oleh orang yang lebih tua.

Di sisi lain, para siswa mendapatkan pelajaran tambahan dan pendampingan dari guru secara langsung kemudian diberikan juga waktu yang cukup untuk bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah.

Namun, waktu bersama keluarga menjadi berkurang. "Sebenarnya bukan masalah kuantitas atau pertemuan yang banyak atau sedikit namun lebih ke kualitas,"jelasnya

Meskipun waktu bersama keluarga menjadi lebih sedikit, namun jika waktu digunakan dengan berkualitas artinya ada quality time maka hal itu tak jadi masalah.

"Seperti makan bersama, meluangkan waktu untuk bercerita antara satu dengan lainnya dan menghabiskan waktu bersama-sama dengan kegiatan yang bisa dilakukan di rumah," katanya.

Sementara itu Pembina SMA Setia Budi Sungailiat, Imam saat berkunjung ke Kantor Bangka Pos, Rabu (5/10/2022). "Saya berharap kondisi ini menjadi perhatian kita bersama. Sekolah pulang jam empat sore itu, secara psikologis anak juga kurang baik. Mereka tidak punya waktu bersosialisasi, melewati hari bersama keluarga. Belum lagi ditambah kegiatan ekstrakurikuler," ujar Imam.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved