Horizzon

Risiko Punya Gubernur 'Keras Kepala'

Keras kepalanya Ridwan Djamaluddin juga harus dimaknai bagaimana ia begitu patuh dengan sebuah aturan yang diyakininya

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

TIDAK ada alasan bagi saya untuk mengabaikan edisi spesial Dialog Ruang Tengah bertajuk Gubernur Menjawab yang digelar Kamis (6/10/2022) malam bersama Penjabat Gubernur Bangka Belitung, Dr Ir Ridwan Djamaluddin.

Satu alasan kenapa saya masih harus membuat catatan tentang acara tersebut adalah tema yang diangkat, yaitu soal tidak beraninya penjabat gubernur melakukan mutasi 'kabinet' Pemprov Bangka Belitung yang kini dinakhodai putra kelahiran Muntok, Bangka Barat tersebut.

Kita tahu, pilihan Ridwan Djamaluddin mempertahankan kabinet yang ia pimpin banyak dipergunjingkan dan kemudian menjadi reason untuk menuding bahwa gubernur tak punya nyali dan memilih mengambil jalan aman.

Isu ini bergulir liar dan menjadi pelengkap dari tema sebelumnya di mana Ridwan Djamaluddin juga dituding bersikap tak etis saat mengatakan bahwa orang Bangka tak begitu baik dalam bersosial media.

Mengawali catatan ini, sebagai nakhoda sebuah media terbesar di Bangka Belitung, maka saya tetap harus mengedepankan kejujuran untuk menjaga muruah media yang saya nakhodai.

Saya harus mengatakan bahwa terkait dengan tudingan Ridwan Djamaluddin main aman dengan pilihannya tidak melakukan mutasi adalah tudingan yang tidak beralasan. Perspektif yang salah telah kita ambil untuk kemudian membuat narasi tersebut.

Jadi sesungguhnya, dialog Gubernur Menjawab yang menghadirkan Ridwan Djamaluddin tersebut sebenarnya bukan ruang bagi penjabat gubernur untuk menjawab atau mengklarifikasi sesuatu, melainkan menjadi ruang bagaimana sebuah media untuk meluruskan perspektif yang diambil.

Untuk itulah jika boleh jujur, sebelum dialog tersebut tampak lancar saat tayang langsung di fanpage-nya Bangka Pos, satu kalimat yang saya sampaikan kepada penjabat Gubernur Bangka Belitung ini adalah kalimat maaf.

Tidak perlu diperpanjang, karena memang untuk menjelaskan detailnya butuh banyak kalimat dan justru akan menghilangkan esensi dari catatan kali ini. Yang jelas, dialog dengan Ridwan Djamaluddin Kamis (6/10/2022) lalu adalah satu dari sekian banyak dialog yang saya pandu yang masih memaksa saya untuk dua tiga kali melihat tayangannya kembali.

Terakhir, saya kembali memutar ulang dialog tersebut sebelum menuliskan kalimat pertama saat menuliskan catatan ini. Kesimpulannya, saya memang sedang berhadapan dengan seorang gubernur yang 'keras kepala', tidak suka basa-basi, dan yang jelas tidak dilahirkan sebagai seorang politikus.

Ridwan Djamaluddin tak pernah mengelak jika dikatakan sebagai orang yang 'keras kepala'. Namun keras kepala dalam konteks ini adalah keras kepala di mana dia maknai sebagai sebuah keteguhan sikap untuk meyakini sesuatu yang dicita-citakan.

Keras kepalanya Ridwan Djamaluddin juga harus dimaknai bagaimana ia begitu patuh dengan sebuah aturan yang diyakininya sebagai satu-satunya hal yang harus dipatuhinya. Keras kepala inilah yang juga dimaknai sebagai cara untuk tidak memberi toleransi terhadap hal-hal yang jika dilakukan justru memunculkan ketidakpastian.

Persis, sikap keras ini memang biasanya dimiliki oleh orang-orang eksak alias teknik yang terdidik dengan matematis yang pasti. Penjabat gubernur kita kali ini adalah orang teknik yang terbiasa melihat yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Tidak ada rumus abu-abu bagi Ridwan Djamaluddin.

Inilah barangkali yang justru menjadi problem Bangka Belitung saat ini, di mana orang teknik kelahiran Muntok ini juga bukan seorang politikus yang piawai berjanji dan bermulut manis menjadi nakhoda sekaligus orang pertama di Bangka Belitung.

Dalam satu sesi dialog tersebut, Ridwan Djamaluddin juga mengakui bahwa ia tahu jika sikap dan kebijakannya tak selalu membuat orang senang, atau lebih tepatnya tidak semua orang sependapat dan akan senang dengan apa yang dia lakukan. Sekali lagi, meski itu dia sadari, maka sepanjang ia yakin bahwa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan Bangka Belitung, ia pantang surut untuk melangkah.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved