Kamis, 16 April 2026

Berita Bangka Tengah

Proses PAW Wabup Bateng, Pengamat Sebut Sosok Erzaldi Punya Pengaruh Besar  

Sekelumit kisah proses politik pengisian kursi Wakil Bupati Bangka Tengah sejak beberapa bulan terakhir cukup menyita perhatian politik.

Penulis: Arya Bima Mahendra |
ISTIMEWA
Ariandi A Zulkarnain, S.IP, M.Si. - Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sekelumit kisah proses politik pengisian kursi Wakil Bupati Bangka Tengah sejak beberapa bulan terakhir cukup menyita perhatian politik.

Tak terkecuali bagi seorang pengamat politik, Ariandi A Zulkarnain yang juga merupakan Dosen Ilmu Politik di Universitas Bangka Belitung.

Istilah 'calon bayangan' belakangan menurut Ariandi, mulai dimunculkan dalam percakapan publik. Untuk menepis itu semua, Tim Koalisi Pengganti Antar Waktu (PAW) Wabup Bateng harus melihat lebih serius agar nama yang diajukan partai politik mendapatkan legitimasi oleh publik sebagai representasi suara rakyat yang sudah diserahkan kepada partai politik. 

Menurutnya, kritik yang bisa dilayangkan hari ini mau tidak mau menuju pada partai politik. Bentuk dari gagalnya partai politik melakukan kaderisasi dan pendidikan politik terhadap kader tercemin dari minimnya nama kader yang potensial didalam partai politik itu sendiri. 

"Ada beberapa alasan yang perlu dicermati sampai pada proses politik hari ini. Pertama, ketika ada satu nama yang cukup dominan dalam usulan koalisi partai politik maka kecenderungan opsi yang muncul menjadi terbatas sehingga ruang demokrasi dalam penentuan nama menjadi sedikit berkurang," kata Ariandi kepada Bangkapos.com, Sabtu (15/10/2022).

Kedua, dominasi nama yang muncul dalam usulan partai politik ini memiliki keuntungan menepis polarisasi didalam Tim koalisi.

Ketiga, dalam beberapa kasus lain di Indonesia dengan fenomena yang hampir sama memiliki kecenderungan dipengaruhi oleh kekuatan jaringan lokal dalam partai politik dan dukungan financial yang juga lebih kuat. 

Keempat, karena proses politik pengusulan nama ini adalah kewenangan dari partai koalisi, maka subjetivitas partai politik beserta keuntungan dan kekurangannya menjadi pertimbangan mendasar.

"Apapun yang menjadi rangkaian prosesnya, hal yang harus ditekankan adalah kepentingan publik, sebab partai politik merupakan representasi suara rakyat yang memiliki legitimasi dalam ruang demokrasinya," ucapnya.

Menurut Ariandi, jika bicara sosok Erzaldi sebagai bagian dalam local strongman dalam konteks politik lokal, maka kita bisa melihat bagaimana jalinan komunikasi yang dilakukan oleh para nama yang dimunculkan oleh partai politik kepada beliau.

Dalam beberapa hal, bisa telusuri bahwa ada nama-nama tertentu yang memiliki afiliasi khusus yakni salah satunya dukungan partai politik yang sama dengan mantan Gubernur Bangka tersebut. 

"Jika merujuk pada dukungan partai politik (Gerindra) yang kemudian memunculkan nama Muhammad Irham, maka jelas secara tidak langsung dukungan Erzaldi merujuk kepadanya," ujar Ariandi.

Kata dia, logika bahwa partai politik melakukan kondolidasi dan perumusan kesepakatan bahwa menuju pada satu nama itu juga bagian dalam pengaruh Erzaldi sebagai ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bangka Belitung. 

Selain itu, mantan gubernur Bangka Belitung yang baru saja menyelesaikan masa jabatan nya ini masih memiliki pengaruh yang cukup besar di tingkat Kabupaten Bangka Tengah.

Apalagi karir politik Erzaldi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Bupati Bangka Tengah (2010–2015), Bupati Bangka Tengah (2016–2017) dan akhirnya menjadi Gubernur Bangka Belitung pada (2017-2022). 

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved