Pemimpin (Masyarakat) Takwa

Pemimpin merupakan simbol dari pewaris kenabian dan kerasulan dalam arti serta makna holistik-produktif

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil. I., M.Ag. - Wakil Rektor 2 IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag., - Wakil Rektor IAIN SAS Kepulauan Bangka Belitung

MENCARI dan mengangkat pemimpin, dalam tradisi Islam, tidak pernah ringan. Pemimpin dan kepemimpinan merupakan hal yang luhur dan penuh amanah atau tanggung jawab di dunia maupun di akhirat kelak. Lebih-lebih bahwa pemimpin senantiasa menekankan keteladanan lahir dan batin. Keteladanan yang tidak hanya terucap di bibir, lisan, melainkan benar-benar teraktualisasi dalam perilaku keseharian di hadapan Tuhan dan masyarakat. Keteladanan yang sungguh berkait langsung dengan kejujuran, keterbukaan, dedikasi, simpati, empati, dan kepekaan terhadap aspirasi masyarakat.

Di sisi lain, pemimpin bukan hal yang semata-mata menyangkut popularitas, elektabilitas, atau strategi propagandis dan monopoli pencitraan sosial. Jauh di balik itu, pemimpin akan dihadapkan dan diuji seberapa tulus mengayomi masyarakat. Dalam bahasa yang lebih lugas, pemimpin mesti memahami dan "menghidupkan" spirit maupun orientasi luhur aspirasi-aspirasi masyarakat yang digembala. Pemimpin mesti clean dan clear, tersepikan dari kepentingan pragmatisme komunitas elite yang mengitari. Pemimpin wajib memprioritaskan aspirasi masyarakat dalam kesempatan dan ruang apa pun.

Pemimpin bukan soal adu gagasan, tempur dialektika pemikiran, saling serang atas nama rumus pencitraan, apalagi unjuk gigi berbasis kemassaan semata. Pemimpin bukan pula urusan parsialitas-duniawiyah belaka. Pemimpin, dalam perspektif keteladanan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, merupakan kesigapan dan integritas diri demi memberikan optimisme universal kepada masyarakat. Oleh karena itu, pemimpin mesti menghindar sejauh mungkin dari krisis personalitas, krisis moralitas, krisis akuntabilitas, krisis loyalitas terhadap problematika sosial masyarakat.

Pemimpin Diri

Agama (Islam) mengajarkan bahwa setiap diri manusia merupakan pemimpin terhadap dirinya sendiri dan akan ditanya atas kepemimpinannya. "Kullukum raa'in wakullu ra'in mas-ulun 'an raa'iyatihi." Tak ada perbuatan pemimpin yang tanpa tanggung jawab. Tak ada perilaku sosial pemimpin yang lepas begitu saja dari orientasi konstruktif keamanahan. Bahkan tak ada sedikit pun tingkah laku pemimpin yang "gratis" dari koridor etik kehidupan maupun penghambaan di hadapan masyarakat sekaligus Tuhan. Pemimpin senantiasa dikatrol dan mengatrolkan diri di tengah-tengah masyarakat. Ia cermin dan manifestasi aktual-kontekstual bagi diri dan masyarakatnya.

Menjadi pemimpin tidak boleh dianggap ringan dan nyaman. Pemimpin merupakan simbol dari pewaris kenabian dan kerasulan dalam arti serta makna holistik-produktif. Ini salah satu syarat luhur dan tidak bisa ditawar-tawar bagi siapa saja yang hendak meniti jalan sebagai pemimpin baik di level mikro maupun makro kemasyarakatan. Sebab pemimpin harus mewujud sebagai "kitab" atau "teks" konstruktif bagi diri sekaligus terhadap maupun demi kelangsungan masyarakatnya. Dari spirit ini, pemimpin bersahaja akan diteladani sepanjang sejarah, namun pemimpin yang inkonsisten, tidak istikamah, perlahan dicibir dan diabaikan seturut masa.

Tak berlebihan ketika Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an, "Hai orang-orang yang beriman! Kalian adalah penentu jiwa kalian sendiri. Siapa pun sesat tidak akan dapat memberi mudharat jika kamu benar-benar mendapat petunjuk." (QS. 5 : 105). Cukup terang bahwa yang dapat menentukan kualitas manusia sebagai pemimpin sekalipun, tetap adalah dirinya sendiri. Dus, manusia harus menjadi pemimpin dirinya sebelum memimpin masyarakat. Manusia mesti melatih dirinya dalam kebajikan dan kepatutan sebelum melatih masyarakat. Oleh karena itu, menjadi pemimpin diri merupakan tupoksi atau napas eksistensial manusiawi.

Pemimpin diri ialah tiap manusia yang tiada henti mengelola dirinya dan mentransformasikan kebajikan, kepatutan, serta ketulusan menyelami pelbagai aspek bermasyarakat. Mereka tidak asyik apalagi terjebak pusaran arus disorientasi hidup bersama dan untuk masyarakat. Tipologi pemimpin diri, meminjam ajaran Sang Buddha (2001 : 57), mereka yang memiliki kecakapan untuk menaklukkan kepentingan dan orientasi dirinya sendiri sebelum menaklukkan musuh dalam pertempuran terbesar sekalipun. Sebab menaklukkan diri sejatinya lebih baik daripada menaklukkan makhluk lain, terlebih-lebih dengan cara-cara yang un-humanisme , mengabaikan nilai-nilai kebajikan universal dalam mendesain pola bermasyarakat.

Pemimpin Takwa

Pemimpin yang prospektif, dalam rangka membangun masyarakat berkeadaban, adalah pemimpin yang bukan saja mempunyai sensitivitas sosial bermasyarakat. Lebih dari itu, mereka harus mengoptimalkan kepekaan imani dan spiritualitas. Inilah kepekaan yang akan menuntun tiap diri bisa lapang dan menjadi inspirasi keteladanan bermasyarakat. Kepekaan yang disadari atau tidak, akan melahirkan hal-hal positif dan produktif dari dan untuk kemajuan tatanan masyarakat. Kepekaan yang dijamin oleh Allah untuk mendamaikan dan menyejahterakan siapa saja yang mengikuti langkah-langkahnya. Sebuah kepekaan ketakwaan yang memang tidak mudah diaplikasikan.

Murtadha Muthahhari (1995 : 50) mensinyalir bahwa masa depan manusia terletak pada suatu masyarakat maju, tunggal, universal yang tiada henti mentransformasikan nilai-nilai positif. Bahkan, lanjut Muthahhari, dalam perspektif Al-Qur'an, aturan puncak dalam kemasyarakatan adalah aturan kesalihan yang sepenuhnya menyirnakan kepalsuan dan kejahatan. Keabadian merupakan milik orang-orang salih dan takwa kepada Allah. Tanpa kesalihan dan ketakwaan, upaya mewujudkan masyarakat berkeadaban, berkeadilan, tercerahkan secara mentalitas dan perilaku sosial, tampak mustahil menjadi realitas objektif, terutama di tengah kehidupan yang makin rasional.

Kerja-kerja kesalihan, kebajikan, kepatutan, tentu merupakan bagian dari semangat maupun potret kepekaan pemimpin yang paripurna, yakni pemimpin takwa. Pemimpin yang tidak semata-mata memikirkan dan menggulirkan tarikan nafsu-nafsu duniawiyah; ambisi materialitas, posisi, jabatan, harta, kekayaan, serta hal berbau hedonistik lain. Akan tetapi, pemimpin yang dalam keadaan dan momentum apa pun, komitmen menuntaskan krisis sosial di tengah masyarakat, baik menyangkut problematika individu maupun yang langsung berkait dengan realitas kolektif kemasyarakatan.

Ala kulli hal, pemimpin (masyarakat) takwa, adalah mereka yang menyadari dirinya sebagai pewaris Allah di muka Bumi. "Allah telah berjanji kepada kamu yang beriman dan berbuat kebajikan bahwa Dia sungguh-sungguh menjadikan kamu pewaris-pewaris di Bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka.'"(QS. 24 : 55). Bahwa hamba-hamba-Nya yang beriman dan salih akan mewarisi bumi (QS. 21: 105).

Sebagai pewaris Allah, berarti pewaris kenabian, keimanan, dan ketakwaan. Itulah pemimpin pewaris kebajikan Tuhan untuk merahmati masyarakat, bukan pemimpin yang sering mewarisi kemunafikan, hegemoni bisnis, eksploitasi ekonomi, bahkan perilaku politik berbasis kepalsuan hanya demi popularitas dan kekuasaan. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved