Tribunners
Hari Santri dan Martabat Kemanusiaan
Santri tidak boleh terjebak dengan ruang kesalehan individual (saleh untuk pribadi dan golongannya) semata
Oleh: Muhammad Anshori - Pengasuh Pondok Pesantren Darurrohmah, Lubuk Besar, Bangka Tengah
TANGGAL 22 Oktober merupakan hari yang penting dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional dan diperingati secara bersama-sama oleh seluruh elemen masyarakat. Formalisasi hari santri dalam penanggalan hari besar nasional merupakan sebuah keniscayaan di mana negara, dan tentu saja pemerintah, secara resmi merekognisi dan mengapresiasi peranan dan eksistensi para santri, ulama dan pesantren. Tidak hanya itu, Hari Santri secara substantif dipahami memiliki arti penting dalam pembentukan sejarah dan makna keindonesiaan.
Sebagaimana diketahui bahwa 15 Oktober 2015 adalah hari di mana Presiden Joko Widodo telah mengukuhkan tanda tangannya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Meskipun secara historis, momentum peristiwa Hari Santri sebenarnya telah terjadi sejak 77 tahun silam, yaitu ketika fatwa Resolusi Jihad digelorakan oleh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dalam konteks membela dan mempertahankan tanah air dari rongrongan kolonialisme dan imperialisme penjajahan.
Fatwa tersebut berhasil menjadi rujukan semangat patriotisme dan perlawanan rakyat dalam memerangi keinginan penjajah kolonial Belanda untuk kembali menguasai kedaulatan Indonesia. Irisan pengaruh fatwa tersebut kemudian mencapai puncaknya ketika perlawanan rakyat meletus pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya yang dikomandoi oleh Bung Tomo. Hari bersejarah yang terakhir ini, secara legal formal tercatat sebagai Hari Pahlawan Nasional (Kemenag.go.id, 22 Oktober 2015).
Korpus sejarah Indonesia memang terkait dan berkelindan erat dengan sejarah santri dan ulama dalam memperjuangkan, mempertahankan, dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Realitas sejarah tersebut menjadi monumen, legasi, sekaligus nilai pembelajaran bagi generasi berikutnya tentang bagaimana santri dan ulama dahulu mewakafkan hidupnya untuk kepentingan agama dan negara.
Namun persoalannya, di saat negara telah memberikan pengakuan resmi terhadap keberadaan Hari Santri, bagaimana santri zaman sekarang mengapresiasi hari kebesarannya tersebut? Terlebih-lebih, di tengah percepatan perubahan dan tantangan zaman yang potensial destruktif terhadap kemanusiaan, bagaimana kaum santri meresponsnya? Apakah santri telah merasa cukup puas dan hanya terpukau dengan romantisme sejarah besar masa lampau sehingga abai untuk segera beranjak dan berbenah ke arah yang lebih baik?
Atau justru sebaliknya, peringatan hari santri ditempatkan dan dimuliakan sebagai ruang dan momentum refleksi dan ikhtiar bagi pembangunan keindonesiaan ke depan? Tentu saja, Indonesia adalah negara yang besar yang tidak akan optimal dikelola tanpa melibatkan partisipasi seluruh elemen rakyat Indonesia, termasuk pelibatan para santri di dalamnya.
Tantangan Santri Zaman Now
Dunia saat ini berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Masyarakat global tak terkecuali Indonesia tengah dibayangi dengan berbagai ketidakpastian (unpredictable) dan dihadapkan dengan kompleksitas persoalan yang tidak mudah untuk diselesaikan.
Sederet persoalan global tersebut, antara lain, persoalan kesehatan, geopolitik, lingkungan hidup, ekonomi hingga sosial-budaya. Wabah Covid-19 misalnya merupakan persoalan yang menghentak kesadaran umat manusia modern. Sebaran virus ke seluruh penjuru dunia telah mengancam banyak korban jiwa. Penerapan protokol kesehatan dan pembatasan mobilitas aktivitas sosial secara masif dan ketat merupakan pilihan alternatif strategi kebijakan yang efektif dan solutif, namun dalam derajat tertentu tetap saja tidak bisa menghindar dari efek samping kontraksi bahkan pelemahan sektor perekonomian di seluruh dunia.
Ancaman risiko resesi global pada tahun 2023 sebagaimana yang diproyeksikan Bank Dunia juga turut memperumit persoalan perekonomian dunia. Keadaan makin diperburuk dengan terjadinya perang tak berkesudahan antara Ukraina dan Rusia sehingga terganggunya rantai pasok pangan dan energi yang mendorong inflasi melangit. Tidak hanya itu, ketegangan politik antara China dan Taiwan, antara Korea Selatan dan Utara juga turut menambah ruwetnya kondisi dunia. Bahkan dalam pemberitaan terbaru, dunia dibayangi kemungkinan terburuk adanya risiko perang nuklir (Tempo.co, 17 Oktober 2022).
Fenomena global warming dengan turunannya yaitu perubahan cuaca ekstrem menyebabkan bencana ekologis di mana-mana: tanah longsor, banjir bandang, angin badai, kebakaran hutan, kekeringan, kenaikan suhu permukaan, dan sebagainya. Imbasnya telah menyasar pada sektor pertanian yang berpotensi memicu gagal panen bahkan krisis pangan.
Derasnya arus perkembangan teknologi digital dan internet juga turut menambah dinamika persoalan baru lainnya. Selain menawarkan kemudahan bagi kehidupan, teknologi internet juga membawa ikutan negatif. Reproduksi hoaks, fake news, narkotika, perjudian online, ideologisasi transnasionalisme, radikalisme-terorisme, dan sebagainya adalah bukti bagaimana efek secondary negatif internet tampak sulit untuk dihindari. Sejumlah aksi negatif tersebut seakan mem-bypass hambatan transaksional yang terjadi dalam dunia offline sebelumnya.
Deretan berbagai persoalan di atas adalah tantangan anak zaman yang bermuara pada persoalan inti, yaitu bagaimana manusia mempertahankan eksistensi dan martabatnya. Martabat kemanusiaan, tentu saja, menjadi terancam di saat angka korban jiwa akibat perang, pandemik, dan bencana alam, angka kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, keterbelakangan, serta degradasi moral menyentuh titik kritis. Sebagai khalifah di muka Bumi sudah semestinya manusia berikhtiar untuk menemukan jawaban atas berbagai persoalan yang ada secara bersama-sama, tak terkecuali dari para kaum santri sendiri.
Transformasi Santri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221020_Tema-dan-Logo-Hari-Santri-2022.jpg)