Berita Bangka Tengah
Dangkalnya Sungai Kurau Menjadi Keluhan Nelayan, Ketua Fordas Babel Sebut Karena Ada Sedimentasi
Menurut pria yang juga merupakan akademisi bidang Sumber Daya Air (SDA) itu, pendangkalan tersebut terjadi karena adanya sedimentasi di dasar sungai.
Penulis: Arya Bima Mahendra | Editor: Novita
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (Fordas) Bangka Belitung, Fadillah Sobri menyoroti perihal pendangkalan yang terjadi di Sungai Kurau, Kecamatan Koba, Bangka Tengah.
Menurut pria yang juga merupakan akademisi bidang Sumber Daya Air (SDA) itu, pendangkalan tersebut terjadi karena adanya sedimentasi di dasar sungai.
Fadillah mengemukakan, sedimentasi sungai merupakan siklus alami yang memang sudah sewajarnya terjadi.
Akan tetapi, sedimentasi natural atau alami biasanya tidak akan menimbulkan pengendapan atau sedimentasi seperti di muara Sungai Kurau tersebut. Transpor sedimen secara teoritis ada dua macam, yakni sedimen melayang dan sedimen dasar.
"Kemudian, adanya kerusakan lingkungan hutan di sekitar sungai ataupun aktivitas pertambangan yang membuat sungai menjadi rusak juga bisa menyebabkan sedimentasi," jelas Fadillah kepada Bangkapos.com, Kamis (27/10/2022).
Sementara jika merujuk kondisi pendangkalan Sungai Kurau yang terjadi pada bagian muaranya, Fadillah menduga bahwa hal itu karena adanya aktivitas tambang di laut atau pesisir pantai di sekitar wilayah tersebut.
Pasalnya, ketika air laut pasang, sedimen ataupun limbah pertambangan seperti pasir yang ada di laut akan ikut terbawa ke bibir muara, yang lama-kelamaan akan menumpuk dan membentuk sedimen.
"Pasang surut itu kondisi normal. Tapi pada kondisi pasang, pasir-pasir yang dibawa oleh gelombang air laut akan cenderung lebih cepat terbawa. Sedang saat surut justru akan lebih lama," terangnya.
Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa ada kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan norma-norma alam sehingga membuat kondisi sungai menjadi dangkal lebih cepat.
Jika sudah seperti itu, menurut Fadilah langkah satu-satunya yang bisa dilakukan adalah dengan pengerukan.
"Pengerukan itu mahal dan membutuhkan biaya yang sangat besar," ujarnya.
Oleh karena itu, dia berpesan agar semua pihak lebih peduli menjaga ekosistem sungai dengan tidak melakukan aktivitas pertambangan, baik di wilayah sempadan sungai maupun di sungainya itu sendiri.
"Selain itu, jangan sembarangan merusak hutan bakau, karena itu merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya sedimentasi," tegasnya.
Berharap Sungai Dikeruk
Diberitakan sebelumnya, Sungai Kurau merupakan sungai yang memisahkan Desa Kurau Barat dan Desa Kurau, Kecamatan Koba, Bangka Tengah, yang juga sekaligus menjadi akses vital bagi masyarakat yang mayoritasnya berprofesi sebagai nelayan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/ketua-fordas-babel-fadillah-sobrii.jpg)