Pahala Media Massa
Menyebarkan berita yang baik apalagi menarasikan ilmu yang manfaat, secara tidak langsung menyuguhkan kebahagiaan dan keteduhan bagi masyarakat
Oleh: Masmuni Mahatma - Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil. I., M.Ag., - Wakil Rektor IAIN SAS dan Ketua PW GP Ansor Kepulauan Babel
DI luar tugas mulia sebagai penabur informasi, media massa memiliki fungsi transformatif lain yang bernilai ibadah kalau dimaknai dari aspek "penghambaan." Fungsi-fungsi dimaksud adalah social control (kontrol sosial), pendidikan (edukatif), dan transmisi atau penyaluran nilai dari dan untuk kehidupan. Fungsi ini tentu bukan parsialistik, melainkan substansialistik. Fungsi yang secara orientatif berkait langsung dengan proses penyadaran dan pematangan manusia dalam membaca, menerima, mencerna, dan mengelola informasi tentang pelbagai fenomena, serta realitas kehidupan.
Sebagai penabur informasi, media massa cukup gesit dan menggairahkan. Tak bisa dimungkiri sampai detik ini. Terutama kalau dikaitkan dengan semangat bisnis dan propaganda informatif, baik melalui iklan, pemberitaan (news-naratif), media massa merupakan pemilik ruang yang tak tertandingi. Bahkan tanpa media massa, pencerahan informatif kehidupan masyarakat bisa dibilang akan (sering) mengalami kendala. Wajar orang bijak mensinyalir bahwa "siapa yang menguasai berita (informasi), maka ia akan memeluk sedikit dari ilmu pengetahuan. Sebaliknya, siapa mengabaikan berita (informasi) ia tidak akan mendapatkan kebaruan dalam pengetahuan."
Berita juga tidak semuanya baik atau buruk. Berita tetap perlu disaring, dicerna, diperah, diselidiki orisinalitas dan kualitas maupun kebenarannya. Melebarkan dan menyebarkan berita yang baik serta berkualitas, insyaallah, mendapatkan kebaikan dan pahala. Namun meneruskan apalagi mempropagandakan berita yang buruk, atau pada masa kemajuan digitalistik ini terkenal dengan istilah "hoax," secara umum akan ditimpakan sebutan fitnah dan dosa. Dari kategori ini pula banyak individu yang terkena sanksi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan bahkan berurusan dengan "pesantren hukum" yang dikelola pihak kepolisian di berbagai tingkatan.
Kontribusi Realistik
Layak diakui bahwa media massa ikut andil memberikan kontribusi realistik terhadap dinamika dan kelangsungan sosial kemanusiaan sedari mula dilahirkan. Apa pun bentuk dan jenis media massa yang kita lihat dan diakrabi, sedikit banyak (pernah) memberikan manfaat, terutama menyangkut hal-hal informatif-konstruktif bagi sosio-kemanusiaan. Bahwa ada letupan negatif-destruktif yang tidak sepenuhnya lepas dari keberadaan dan pertumbuhan media massa patut dimaklumi. Kurang baik dibesar-besarkan. Tak ada media massa sempurna dan benar-benar bersih dari kelemahan dan keterbatasan.
Bukti kontribusi realistik itu, pertama, melalui berita-berita yang disuguhkan, media massa telah ikut mencerdaskan pola pikir dan memperkaya konstruksi wawasan mayoritas masyarakat. Tidak sedikit masyarakat yang makin melek baca, gemar diskusi, rajin menjelajahi (ilmu) pengetahuan, mendalami (tradisi) agama, lincah mengarungi dunia politik, ekonomi, dan lain-lain dikarenakan peran strategis media massa juga. Peran strategis ini memang tak secepat kilat bisa dirasakan. Tetapi dari media massa, minimal ruang informatif dan areal eksploratif itu tercipta serta tersedia dengan terbuka.
Kedua, media massa juga sering menyodorkan solusi atas problematika dan kebuntuan sosial kemanusiaan. Banyak orang yang mengalami penderitaan dan kedukaan, berkat kerja media massa dalam tempo singkat-tepat mereka mendapatkan simpati, empati, dan bahkan solusi dari sesama khalayak. Mereka menuai kepedulian sosial yang maksimal. Meskipun tidak sedikit pula karena semangat pemberitaan media massa, sering kali orang-orang tiba-tiba (seakan-akan) terpojokkan dan jatuh martabat sosialnya di hadapan publik. Cukup terang bahwa media massa mempunyai kontribusi realistik sekaligus efek-destruktif.
Ketiga, media massa menjadi bagian dari pemekaran dan penguatan nilai-nilai pendidikan. Berapa banyak masyarakat yang terbantu mengantisipasi dan menyelesaikan pendidikan lantaran digerakkan oleh kerja-kerja tulus media massa dengan narasi berupa-rupa. Kerja tanpa imbalan. Kerja yang dibilasi spirit luhur, nilai-nilai suci, dan komitmen kewartawanan. Kerja yang diletakkan di atas alas loyalitas sosial kemanusiaan dan kebangsaan. Tak heran kalau awak media juga disegani, dihormati, namun sekaligus ditakuti dan kurang disukai. Itulah realitas atau kenyataan yang sulit ditolak dan dihindari.
Menuntut imbalan berlebih dari media massa, terutama secara materiel, merupakan perbuatan yang jauh dari semangat etik. Perilaku yang tentu kurang mendidik. Di samping kontribusi realistik di atas, banyak sosok, wabilkhusus mereka yang tergolong pemikir (penulis) dan tokoh masyarakat sejatinya juga dibesarkan media massa. Kerja tulus media massa mengorbitkan potensi-potensi yang ada, mesti diinternalisasi dan diposisikan kontribusi realistik yang bukan semata produktif tetapi akseleratif-prestatif. Ini pahala media massa terhadap masyarakat yang tidak bisa diabaikan. Dan mengabaikan peran strategis ini, mungkin saja di antara kita tergolong penganut tipologi manusia yang kurang bersyukur. Na'udzubillah!
Kalau media massa tidak memberikan imbalan materiel, bukan berarti ia minus apresiasi terhadap kerja (karya) kita. Tanpa disadari, sejatinya ia telah menyediakan pahala berupa support moral-spiritual demi pemompaan eksistensi diri di hadapan khalayak. Apalagi pahala dalam konteks agama, tidak selalu tampil "materialistik." Pahala itu substansial, esensialistik, sedemikian batini, bukan bertumpu pada aspek ragawi semata. Pahala itu halus dan meneduhkan, lembut dan menguatkan keyakinan kehambaan. Tak terkecuali menyangkut kerja-kerja media massa dan kejurnalistikan. Kalau diniatkan sebagai ibadah, pasti pahala disiapkan Tuhan.
Berita dalam Agama
Media massa identik dengan (pem)berita(an). Dalam perspektif agama (Islam), menerima dan mencerna berita ditekankan selalu hati-hati, cermat, dan jernih. Melalui sikap semacam ini segera kita mengetahui mana berita yang layak diteruskan kepada khalayak dan mana berita yang cukup diketahui dan tidak pantas disebarkan demi mencegah kemudaratan. Dari kecermatan dan kejernihan ini jua, kita segera bisa menimbang konsekuensi logis yang akan ditimbulkan sebuah berita. Sekira mampu menjernihkan (pem)berita(an), kita akan menemukan kebaikan dan melahirkan kemaslahatan bagi publik. Jika tidak, kita pun dimungkinkan "terlibat" pusaran arus keburukan dan perfitnahan.
Menyebarkan berita yang baik apalagi menarasikan ilmu yang manfaat, secara tidak langsung menyuguhkan kebahagiaan dan keteduhan bagi masyarakat. Dari keteduhan akan diperoleh nilai-nilai keberuntungan. Melalui keberuntungan akan diraih aroma "surgawi" berbasis pahala. Sementara itu, jika menelurkan (pem)berita(an) yang buruk sangat mungkin melahirkan friksi, fitnah, konflik, dan melebarkan kebohongan-kebohongan. Konsekuensinya, akan menyeruak aroma "neraka" yang lebih berbau kemunafikan dan dosa. Dengan demikian, terseret saling caci maki, lempar kecurigaan, serang menyerang atas nama kejengkelan dan pertengkaran. Tersingkir (lagi) kedewasaan.
Fenomena ini akan makin marak, terlebih-lebih menjelang pergulatan kelas-kelas sosial dan politik menghadapi pemilu 2024. Lihat bagaimana antar-elite parpol, tokoh masyarakat, simpatisan-simpatisan atau militan-militan politik kepentingan (kubu) tertentu mulai memanaskan mesin pemberitaan di media massa. Fenomena ini kian menggeliat menggelikan dan tidak bisa dibiarkan bertebaran di hadapan kehidupan kebangsaan. Sama sekali kurang mendidik generasi berdemokrasi. Tidak produktif dalam eksistensi kebangsaan. Dari sini media massa perlu menunjukkan fungsi kontrol maupun pengawasannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20220904_Masmuni-Mahatma-Wakil-Rektor-IAIN-SAS.jpg)