R20 dan Persahabatan Religius

Agama dan cinta ibarat raga dan roh, tak bisa dipisahkan. Agama memompa cinta manusia kepada Tuhan sekaligus bagi sesama

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I, M.Ag., - Warek II IAIN SAS Kepulauan Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I, M.Ag., - Warek II IAIN SAS Kepulauan Bangka Belitung

RELIGION of Twenty (R20) yang digelar PBNU dan Liga Muslim Dunia (Muslim World League) di Nusa Dua Bali, 2-3 November 2022, merupakan gagasan brilian dan langkah cukup strategis dalam rangka merawat interaksi-interkoneksi masyarakat beragama level dunia. R20 bukan sebatas pagelaran seremonial antar-tokoh agama nasional dan internasional. Lebih luhur dari itu, R20 adalah rintisan jalur persahabatan religius lintas perspektif dan nilai-nilai tradisi keberagamaan dunia. Ini sebuah terobosan sosial keberagamaan yang menakjubkan dan layak ditransformasikan demi terciptanya kualitas kemanusiaan pada ranah global.

Agama dan adat yang baik, seperti kata Ibn Miskawaih (1998 : 137), senantiasa menekankan pentingnya perjamuan antara umat yang satu dengan yang lain secara harmoni. Dengan demikian, persahabatan religius terus bertumbuh dan berkembang penuh empati serta membawa maslahat terhadap eksistensi kemanusiaan universal. Hal ini jua yang diajarkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, setidaknya ketika umat Islam dianjurkan untuk memelihara ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathaniyah dalam kondisi apa pun.

Dari semangat ukhuwah ini, kebaikan-kebaikan berbasis nilai-nilai religius perlahan akan menguatkan keharmonisan berkemanusiaan dan berkebangsaan. Terlebih-lebih dalam konteks mengantisipasi dan menghadapi tuntutan maupun risiko-risiko global civilization yang terkadang tiba-tiba mengacak-acak konstruksi sosial keberagamaan. Sebab fitrah manusia beriman, terutama mereka yang menghendaki persahabatan religius, ialah menaburkan kebaikan-kebaikan kolektif, bukan malah meluapkan kinerja atau propaganda berkebangsaan yang disorientatif.

Kejujuran dan Moralitas

Sebagai penggagas R20, Gus Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU menekankan agar kejujuran diinternalisasi semaksimal mungkin dalam mengaktualisasikan kerja-kerja maupun mendialogkan prinsip-prinsip keberagamaan. Dari kejujuran akan didapat kehangatan dan solusi-solusi alternatif terkait problematika sosial keberagamaan dengan baik. Agama, lanjut Gus Yahya, tidak boleh terus dipersalahkan atas maraknya ketidakadilan sosial dalam kehidupan masyarakat dan negara. Sebab ketidakadilan bukan hanya terjadi di kalangan umat dan negara berpenduduk mayoritas muslim.

Kejujuran merupakan kunci menata dan mengikat persahabatan religius. Tanpa kejujuran, persahabatan keberagamaan sekalipun tidak akan langgeng atau berlangsung abadi. Tiadanya kejujuran, persahabatan religius akan kehilangan makna dan kehangatan. Tidak ada lagi spirit edukatif yang bisa dipetik sebagai pembelajaran dan penguatan keislaman. Bahkan, mungkin saja substansi keimanan dan ketakwaan tanpa disadari terdistorsi melalui kebohongan atau kemunafikan sosial berkehidupan.

Fenomena sosial yang dilapisi kemunafikan lantaran kepentingan politik dan ekonomi, misalnya, makin mempersempit wawasan kebangsaan sebagian masyarakat. Ia juga bisa mengerdilkan cita-cita kehambaan. Dan menjauhkan kejujuran dalam pola pikir maupun tingkah laku kehidupan, sama halnya mengikis keluhuran moralitas warisan Rasulullah Saw. Pantas jika KH. Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU, menegaskan bahwa "R20 ini mengajak segenap elemen untuk menjunjung tinggi moralitas dan tata krama berkehidupan sehingga masyarakat bersungguh-sungguh meracik perilaku keagamaan dan kemanusiaan terhadap permasalahan global yang melanda dunia."

Kejujuran dan moralitas, setali dan satu tarikan napas. Kejujuran merupakan aktualisasi dari moral hidup berkualitas. Dari dan dengan kejujuran, hati tiap hamba akan sehat, tenang, dan kuat. Sebab jujur adalah keteladanan kenabian. Bahkan hati sehat, kata Eko Maulana Ali Suroso (2007 : 13) adalah modal menuju akhirat. Hati sehat akan banyak mendapat bimbingan dan rida dari Allah SWT. Ia akan selalu terjaga. Ia tampil bercahaya. Memancarkan ilmu, solusi, dan keteduhan. Bukan malah terkendali pengkhianatan dan kemunafikan usai kepentingan duniawiahnya tercapai di tengah kehidupan.

Selengkapnya cermati puisi berikut: "Malaikat menjaga hati yang sehat/Dari gangguan syaitan yang laknat//. Menjaga hati yang tidak sehat/Kadang ingat kadang khianat/Kadang ibadat kadang maksiat//Hati yang sakit dijaga setan/Nilai agama jangan tanyakan/Masalah akhlak jadi mainan/Tanda manusia dikutuk Tuhan//. (Eko Maulana Ali Suroso, 2007 : 16-17). Ini alur aktualisasi kejujuran dan moralitas. Ini pijakan bagaimana menjaga dan menyehatkan hati menghadapi gesekan maupun gelombang problematika global yang sarat ideologi, gengsi, dan disrupsi.

Agama Cinta

Persahabatan, apalagi yang berbasis religiositas, meminjam perspektif Ibn Miskawaih, ia akan melahirkan cinta. Pangkal terbentuknya cinta, urai Ibn Miskawaih, adalah persahabatan. Sebab manusia secara alami cenderung bersahabat. Ia merindukan bersatu padu dengan sesamanya. Oleh karena itu, manusia disebut "insan," bukan "nasiyun" (1998 : 136-137). Insan adalah wujud dari diri yang memiliki kepekaan nilai dan berkualitas secara rohaniah. Adapun nasiyun, tampilan personalitas yang pelupa akut atas nikmat dan anugerah Allah maupun persahabatan dengan sesama.

Agama dan cinta ibarat raga dan roh, tak bisa dipisahkan. Agama memompa cinta manusia kepada Tuhan sekaligus bagi sesama. Tanpa spirit dan nilai-nilai cinta, kehadiran agama akan hambar. Agama tidak akan memberikan banyak maslahat terhadap manusia. Rasulullah Saw menekankan agar kita selalu mencintai sesama sebagaimana halnya mencintai diri kita sendiri, laa yu'minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi maa yuhibba linafsihi. Terang kalau cinta merupakan "esensi" dari agama.

John D. Caputo (2003 : 1-4), dengan lantang menegaskan bahwa agama adalah implementasi naratif-aplikatif tentang cinta Tuhan. Dan cinta, kata Sajjad Rizvi, merupakan pemberian tak bersyarat. Cinta itu melampaui segala hal. Dari dan untuk cinta, manusia akan menemukan hakikat kehidupan baik selaku bagian dari komunitas (masyarakat) dan terutama sebagai hamba Tuhan. Melalui cinta, tiap diri segera memahami dan menyadari urgensi kolektivitas dalam mentransformasikan kebajikan-kebajikan Tuhan terhadap kesemestaan.

Agama, tulis Caputo, sejatinya untuk manusia para pencinta. Bagi manusia riil yang memiliki gairah dan tidak sekadar mencari keuntungan pragmatis atas dirinya, tetapi mengakari perilakunya demi cinta kasih Tuhan. Sebab cinta kasih, lanjut Caputo, lebih utama daripada iman dan harapan kedirian serta keduniawian. Maka manusia religius, meminjam nalar Caputo, mereka yang selalu mengedepankan cinta kasih. Terutama menyangkut persahabatan berbasis komitmen religiositas seperti yang didentumkan forum R20.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved