Berita Bangka Selatan
Harga Pasir Timah Turun, Pemilik Cafe Akui Pemasukan Turun Hingga 40 Persen Perhari
Sangat-sangat berpengaruhi bagi kami pemilik usaha saat ini, kemarin waktu harga timah masih tinggi pemasukan bisa mencapai
Penulis: Adi Saputra | Editor: Iwan Satriawan
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Wawan Febrian, salah satu pemilik cafe di Toboali Bangka Selatan (Basel), akui beberapa bulan terakhir pemasukan cafe turun hingga 40 persen perhari pasca turunnya harga pasir timah.
Diakuinya sejak turunnya harga pasir timah di kalangan masyarakat, sangat memberikan dampak yang sangat signifikan bagi para pedagang berbagai sektor.
Terutama harga pasir timah yang sudah turun hingga Rp100 ribu perkilogramnya, sehingga mempengaruhi daya tarik masyarakat untuk berbelanja.
"Sangat-sangat berpengaruhi bagi kami pemilik usaha saat ini, kemarin waktu harga timah masih tinggi pemasukan bisa mencapai Rp4-5 juta perharinya. Akan tetapi sekarang hanya dapat Rp1.5-1.6 juta perhari, itu pun pendapatannya bervariasi," sebut Wawan, Minggu (13/11/2022).
"Kalau harga pasir timah masih Rp200-230 ribu, pemasukan kami lumayan tinggi dan bisa melebihi batas. Namun sekarang turun bisa menjadi 30-40 persen perhari," terangnya.
Lebih lanjut Wawan menerangkan, walapun pemasukan cafe menurun dirinya tidak melakukan pengurangan jumlah karyawan ditengah turunnya pemasukkan.
Apalagi tidak tega untuk melakukan pemecatan terhadap karyawan, yang telah lama berjuang bersama untuk membesarkan usaha yang sejak awal berdiri hingga sekarang.
"Tidak ada kita lakukan pengurangan tenaga, hanya saja jam operasional kita ubah dari semula buka pukul 10.00-23.00 WIB. Sekarang juga kita buka lebih pagi lagu, mau tidak mau kami lakukan agar omzet maksimal tetapi tidak mengurangi karyawan," terang Wawan.
Ia pun berharap kepada pemerintah daerah agar dapat memberikan solusi atas pelemahan ekonomi, apalagi sebagai pemangku kebijakan yang ada di daerah.
Khususnya pada sektor-sektor lain yang berpotensi untuk menunjang secara keroyokan, apalahi dapat meningkatkan taraf perekononiam masyarakat Basel.
"Kami sangat berharap penuh kepada pemerintah, mewakili kawan-kawan pengusaha yang lain terutama UKM untuk Pemda Basel membuat kebijakan meningkatkan ekonomi masyarakat," harapnya.
"Karena saya lihat ada beberapa sektor yang berpotensial tapi belum tergali, apalagi tahun depan resesi," ujar Wawan.
Dirinya pun mengungkapkan sebelum terjadinya resesi, harga timah sekarang ini dan ekonomi Babel terkhususnya Basel sudah seperti ini dan inflasi mungkin bukan 7 persen lagi.
"Kalau memang resesi akan terjadi pada tahun 2023 mendatang, mungkin lebih mengerikan lagi ekonomi kita khususnya di Basel," ungkapnya.
Sementara kondisi seperti ini terjadi di berbagai daerah terutama Babel, bukan hanya terjadi di Basel saja.
Bukan hanya pusat perbelanjaan seperti minimarket, tetapi di toko grosir dan toko eceran, serta pasar, kios handphone, rumah makan, cafe-cafe yang ikut terdampak. (Bangkapos.com/Adi Saputra).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/13112022wawan.jpg)