Breaking News:

Ratusan Karyawannya Resign Berjamaah, Apa Benar Twitter Ditutup?

Usut punya usut hal itu bermula saat Musk mengirim email ke seluruh karyawannya untuk menuntun mereka berkomitmen soal membangun Twitter 2.0.

Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Evan Saputra
CONSTANZA HEVIA / AFP
Logo Twitter di luar kantor pusat mereka di San Francisco, California. 

BANGKAPOS.COM - Belum genap sebulan mengakusisi Twitter, Elon Musk telah kehilangan ratusan karyawannya.

Usut punya usut hal itu bermula saat Musk mengirim email ke seluruh karyawannya untuk menuntun mereka berkomitmen soal membangun Twitter 2.0.

Musk meminta karyawannya untuk bekerja "berjam-jam dengan intensitas tinggi" atau menerima "pesangon tiga bulan", jika mereka tidak menyetujui persyaratan itu pada 16 November 2022.

Karyawan Twitter diberikan waktu hingga hari Kamis (17/11) pukul 17.00 waktu Amerika untuk meneakan 'Yes' di Google Form yang telah disediakan.

Jika tidak berkenan, maka karyawan yang mengundurkan diri mendapat pesangon tiga bulan sekaligus angkat kaki dari kantor Twitter.

Alhasil, ratusan karyawan Twitter langsung mengucapkan selamat tinggal dan mengunggah emoji hormat di channel Slack internal perusahaan.

Para karyawan lantas beramai-ramai mengetwit di Twitter bahwa mereka telah mengajukan pengunduran diri setelah Musk memberikan ultimatum tersebut.

Begitu banyak pekerja memilih untuk pergi sehingga pengguna Twitter mulai mempertanyakan apakah situs tersebut akan bertahan.

Tagar seperti # TwitterMigration # TwitterTakeover hingga #RIP Twitter pun trending topik.

Twitter yang tadinya memiliki 7.500 karyawan tetap pada akhir Oktober, kini turun menjadi sekitar 3.700 setelah PHK massal bulan ini.

Untuk diketahui, Musk mengambil alih Twitter pada 28 Oktober lalu. Eksekutif kunci, termasuk CEO Parag Agrawal dan direktur kebijakan Vijaya Gadde kini digantikan jabatannya oleh bos Tesla.

Dilansir dari Rolling Stone via Kompas.com, meski Elon Musk mengatakan bahwa ultimatumnya kepada para karyawan adalah cara untuk membuat Twitter tetap kompetitif, namun tindakan itu disinyalir merupakan upaya untuk memotong biaya karena ancaman kebangkrutan semakin dekat.

Elon Musk sendiri telah telah mencoba untuk mengatasi kepergian karyawan dengan membawa insinyur dan manajer dari perusahaannya yang lain, termasuk Tesla.

Akan tetapi, banyak dari mereka dilaporkan tidak terbiasa dengan cara kerja media sosial.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved