Kamis, 21 Mei 2026

Tribunners

Restitusi sebagai Solusi

Restitusi adalah tindakan yang dapat diambil guru sebagai seorang manajer untuk menumbuhkan motivasi internal murid

Tayang:
Editor: suhendri
ISTIMEWA
Nelly Yuliana - Guru SMAN 1 Koba 

Oleh: Nelly Yuliana - Guru SMAN 1 Koba

DALAM perjalanan menunaikan tugas pokok sebagai guru tentu saja melalui jalan yang berliku. Guru bukan hanya memiliki tugas mengajar, namun yang lebih utama adalah mendidik. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa maksud pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Berdasarkan maksud pendidikan tersebut maka dapat dibayangkan betapa jalan yang harus dilalui guru dalam mendidik murid sangatlah panjang. Bukan hanya sekadar mentransfer ilmu, namun dalam arti luas adalah menuntun dan memberi arah untuk kehidupan murid. Guru tidak hanya harus berpikir bagaimana agar ilmu yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh murid, apakah ilmu yang disampaikan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman murid, namun juga harus memikirkan bagaimana cara menuntun agar murid memiliki kecerdasan budi pekerti.

Ki Hajar Dewantara menuliskan bahwa budi pekerti, watak, atau karakter merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti akan tampak dalam tindakan, tutur kata, dan ekspresi wajah. Pekerjaan menuntun murid agar memiliki kecerdasan budi pekerti ini tidaklah ringan, dapat dikatakan jauh lebih berat dari sekadar menjadikan murid cerdas secara akademik.

Dalam tugas sehari-hari, guru tentu akan menemukan perilaku murid yang tidak sesuai dengan budi pekerti yang baik. Tindakan murid dapat saja tidak sejalan dengan disiplin dan norma atau nilai yang seharusnya. Menghadapi tindakan murid yang demikian atau mendisiplinkan murid, umumnya guru akan mengambil tindakan kontrol sebagai penghukum, untuk kemudian memberikan hukuman yang menyakiti.

Sebenarnya ada lima posisi kontrol guru yang dikemukakan Dianne Gossen, yaitu guru sebagai penghukum, pemberi rasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. Guru sebagai penghukum biasanya akan memberikan hukuman untuk menyakiti, baik secara verbal maupun tindakan.

Guru sebagai pemberi rasa bersalah biasanya tidak akan menyakiti secara langsung, namun akan menyalahkan dan membuat murid merasa kecewa dan gagal akan dirinya. Guru sebagai teman akan melindungi murid, akibatnya akan membuat murid tergantung kepada guru. Kemudian guru sebagai pemantau biasanya menggunakan aturan dan konsekuensi untuk mendisiplinkan murid. Posisi ini dapat dikatakan lebih baik dari tiga posisi kontrol sebelumnya, namun dampak yang ditimbulkan sifatnya sementara.

Terakhir adalah posisi kontrol guru sebagai manajer. Di sini, guru sebagai manajer akan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada murid. Posisi kontrol ini dipandang paling baik untuk menciptakan disiplin positif bagi murid. Guru yang mengambil posisi kontrol sebagai manajer dapat membuat murid menyadari dirinya untuk bertindak agar menjadi diri yang lebih baik. Dampaknya akan menguatkan budi pekerti atau karakter murid.

Guru sebagai manajer akan mengambil tindakan restitusi untuk mendisiplinkan murid. Diane Gossen dalam bukunya It's All About We: Rethinking Discipline Using Restitution menuliskan restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Guru yang memberikan restitusi akan membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah.

Terdapat tiga langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan restitusi, yaitu menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan salah, dan yang terakhir adalah menanyakan keyakinan. Pada langkah pertama yaitu menstabilkan identitas, guru akan memberikan pernyataan kepada murid bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan, atau kamu bukanlah satu-satunya orang yang pernah melakukan tindakan salah, berbuat salah itu tidak apa-apa, tidak ada manusia yang sempurna, atau bapak/ibu tidak tertarik mencari siapa yang salah, tetapi bapak/ibu ingin mencari solusi dari permasalahan ini. Dengan adanya pernyataan tersebut tentu akan menenangkan murid dan membuatnya tidak akan membangkang.

Selanjutnya, langkah kedua yaitu memvalidasi tindakan salah. Di sini guru akan memvalidasi tindakan murid yang salah karena sesuai teori kontrol, guru memahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan memiliki tujuan, termasuk tindakan salah yang dilakukan murid. Apakah tujuan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, penguasaan, kesenangan, atau kebebasan.

Pada langkah ini, guru akan memberikan pernyataan kepada murid, di antaranya adalah kamu pasti punya alasan mengapa melakukan hal itu atau bapak/ibu memahami mengapa kamu melakukannya. Guru dapat pula memberikan pertanyaan misalnya apa yang dapat kamu lakukan untuk mendapatkan apa yang kamu butuhkan? Langkah validasi tindakan salah ini dimaksudkan agar murid dapat bersikap terbuka dan kooperatif terhadap guru.

Kemudian langkah terakhir adalah menanyakan keyakinan. Pada langkah ini guru akan mengarahkan murid untuk mengambil tindakan menyelesaikan masalah atau memperbaiki masalahnya. Guru akan memberikan pertanyaan-pertanyaan, di antaranya adalah apa yang kita percaya sebagai kelas atau keluarga? Apa nilai-nilai umum yang kita telah sepakati? Apa bayangan kita tentang kelas yang ideal? Kamu mau jadi orang yang seperti apa? Diharapkan dengan pertanyaan tersebut murid dapat menghubungkan tindakannya dengan nilai kebajikan yang diyakininya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketiga langkah restitusi di atas tidak harus dilaksanakan secara berurutan. Ketiga langkah ini juga tidak wajib dilakukan semua, tergantung jenis kasus atau permasalahan siswa. Tindakan restitusi ini diyakini dapat menumbuhkan motivasi internal murid untuk memiliki kedisiplinan yang positif.

Berdasarkan teori kontrol Dr. William Glasser, salah satu miskonsepsi tentang makna kontrol adalah ilusi guru mengontrol murid. Pada dasarnya, guru tidak dapat memaksa murid untuk berbuat sesuatu, jika murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Meskipun tampaknya guru sedang mengontrol perilaku murid, hal itu terjadi karena murid sedang mengizinkan dirinya dikontrol. Oleh karenanya, guru hanya perlu menumbuhkan motivasi internal murid untuk berperilaku disiplin positif karena memang guru tidak dapat mengontrol murid untuk berperilaku.

Restitusi adalah tindakan yang dapat diambil guru sebagai seorang manajer untuk menumbuhkan motivasi internal murid. Lebih jauh, restitusi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kecerdasan budi pekerti murid, serta mengembangkan disiplin positif di kelas dan sekolah. (*)

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved