Merawat Kenyamanan

Rasulullah Saw menegaskan bahwa agama adalah nasihat bagi siapa saja yang beriman dan hendak mengabdikan diri sungguh sebagai hamba-Nya

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I., M.Ag. - Wakil Rektor 2 IAIN SAS Bangka Belitung 

Oleh: Dr. Masmuni Mahatma, S.Fil.I, M.Ag., - Wakil Rektor II IAIN SAS Bangka Belitung

KENYAMANAN, hal yang diimpikan banyak manusia. Tanpa kenyamanan, rasanya susah menemukan kebahagiaan. Untuk meraih kenyamanan dalam hidup, manusia memerlukan agama. Sebab agama adalah pengatur kenyamanan mengelola dan menjalankan sosio-berkehidupan.

Dari dan untuk menata kualitas interaksi sosial bermasyarakat baik horizontal maupun vertikal, kehadiran agama itu keniscayaan. Ia memiliki banyak sentuhan dan pencerahan luhur terhadap manusia dan alam semesta berbasis nilai-nilai ilahiah. Bahkan dalam kedudukan lebih jauh, agama dijadikan konstruksi filosofis, pijakan etik, tuntunan moralitas, dan sandaran aksiologis lintas perspektif.

Rasulullah Saw menegaskan bahwa agama adalah nasihat bagi siapa saja yang beriman dan hendak mengabdikan diri sungguh sebagai hamba-Nya. Memproses diri di alam semesta, sekali lagi, dalam konteks kehambaan, tidak akan bisa lepas dari rumus-rumus agama. Lantaran setiap diri diciptakan Tuhan dalam keadaan lemah (dhaif), memiliki keterbatasan, kekurangan, dan sekian sifat lain yang tidak selalu baik atau paripurna. Allah SWT menegaskan bahwa seluruh manusia diciptakan itu senantiasa demi mengabdikan diri dan menyembah kepada Allah SWT tanpa batas (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Agama memiliki kepedulian dan komitmen mengurusi serta merawat kenyamanan (ke)hidup(an) di muka Bumi. Dengan demikian umat beragama, mereka tidak boleh abai terhadap spirit, nilai, misi luhur, pesan sakral dan obsesi universal agama demi kelangsungan kesemestaan. Nabi Muhammad Saw menyeru, "Sebaik-baik manusia adalah mereka yang tiada henti menaburkan kemanfaatan bagi sesamanya di muka Bumi." Terlebih-lebih, Allah SWT menjadikan manusia sebagai khalifah, bukan sekadar hamba sahaya. Dan kekhalifahan merupakan ilustrasi-manifestasi dari amanah kenabian sekaligus keilahian.

Mengekang Kecurigaan

Dalam rangka merawat kenyamanan mengarungi kehidupan berbasis nilai-nilai luhur agama, beberapa hal layak dicermati. Pertama, mengekang kecurigaan berlebihan antarsesama agar tidak membukit dan melahirkan perilaku kontradiktif di tengah masyarakat. Dari kecurigaan, tidak sedikit orang mudah menghilangkan simpati dan empati sosialnya. Kecurigaan, disadari atau tidak, merupakan benih awal dari kehendak untuk menafikan perspektif objektivitas menata interaksi sosial bermasyarakat. Ini bisa mengakibatkan suburnya sikap-sikap antipati yang tak terarah dan merugikan.

Kecurigaan, kata Rasulullah Saw, hal yang harus dijauhi. Ia sama sekali tidak memberikan nilai positif dan konstruktif terhadap eksistensi kemanusiaan dan kemasyarakatan. Melalui kecurigaan, apalagi yang tumbuh secara liar, maka akan terkikis nilai-nilai keakraban, kolektivitas, dan kerukunan dengan sesama. Tak berlebihan ketika Rasulullah Saw menegaskan, "Jauhilah buruk sangka (kecurigaan) oleh kalian semua. Sebab buruk sangka adalah hal yang tidak menyehatkan secara mentalitas."

Kedua, membenahi kepekaan diri sebagai hamba sekaligus makhluk sosial. Dari pembenahan kepekaan diri ini diharapkan setiap saat kita membiasakan introspeksi dan mengukur keberadaan diri di hadapan Tuhan serta masyarakat tanpa pretensi maupun tendensi tak berdasar sehingga tidak mudah congkak, angkuh, sombong, lupa diri, dan menyia-siakan nikmat Allah SWT. Dan alangkah naif kalau kita sering mengunggul-unggulkan amal kebaikan bagi sesama. Sebab semua tidak akan pernah sebanding dengan nikmat dan karunia yang Allah berikan sepanjang hidup.

Membenahi kepekaan ini menuntun manusia cakap tafakur dan bersyukur sebagai manusia sekaligus hamba Tuhan. Sekira menghitung-hitung nikmat dan karunia Allah, sama sekali tidak akan ada di antara kita yang kuat menghitung (QS. An-Nahl : 18). Sejatinya bukan soal nilai yang tidak sebanding, melainkan berkait erat dengan mentalitas keimanan dan ketakwaan dalam eskalasi semangat dan komitmen kolektif bermasyarakat. Nabi Muhammad Saw mengajarkan bahwa tiap-tiap manusia beriman itu bersaudara, "al-mu'minuna ikhwatun." Bahkan mereka seperti bangunan. Berpadu dalam solidaritas, kepekaan, kepedulian, dan tanggung jawab kehambaan.

Dalam konteks ini, umat beragama yang lekat dengan nilai-nilai kearifan lokalitasnya tak patut dicurigai "keluar dari jalur religiositas." Kepekaan berbasis budaya, demi mengawal martabat kemanusiaan, insyaallah, tetap sealur orientasi luhur agama. Sebab dalam kaidah tertentu dinyatakan, "maa ra-ahul muslimuna hasanan fahuwa 'indallahi hasanun." Hal-hal yang dipandang baik dan memiliki kemaslahatan di mata manusia, insyaallah, dipandang baik pula di hadapan Allah. Sebaliknya, apa saja yang dianggap buruk dan merusak di mata manusia, di hadapan Tuhan pun dikategorikan kurang pantas.

Mengeratkan Silaturahmi

Ketiga, mengeratkan (tali) silaturahmi, cukup urgen juga demi mengurus dan merawat kenyamanan bermasyarakat. Melalui pengeratan silaturahmi, keterbukaan dan kepedulian sosial dari dan untuk kebersamaan terus terinternalisasi. Kecemburuan dan kebekuan sosial akan terminimalisasi dan mencair penuh hikmah. Dengan demikian, kecurigaan tidak meletup dan melebar sedemikian liar apalagi membakar kultur keharmonisan yang terjalin. Terutama menjelang rutinitas "ritual" demokrasi (politik) lima tahunan yang tidak pernah ringan. Langkah ini bukan saja ikut mengurangi friksi dan konflik berbau tendensi (kepentingan) politik, tetapi menggerus gelombang naratif kurang produktif dan tidak menyehatkan "udara" di ruang-ruang publik.

Silaturahmi, kata Rasulullah Saw, di samping menguatkan iman dan kehambaan, menghangatkan relasi kemanusiaan maupun kemasyarakatan juga menambah banyak rezeki. Minimal, rezeki berdimensi spiritualitas dan materialitas sekaligus. Sebab dari dan dengan silaturahmi, masing-masing diri akan mendapatkan pencerahan melalui pertukaran pikiran yang jernih, terbuka, dan empatik. Silaturahmi, dalam bahasa yang lebih religius, merupakan kunci kesadaran berbasis spirit dan nilai-nilai surgawiyah. Silaturahmi, terlepas dari pelbagai ruangnya, adalah menu "bergizi" demi menjaga martabat kemanusiaan dan kehambaan yang meneduhkan.

Mengekang kecurigaan, membenahi kepekaan diri, dan mengeratkan silaturahmi, tentu akan menambah kualitas kenyamanan hidup bernegara, berbangsa, dan beragama. Melalui tindakan yang suportif ini, kenyamanan hidup dari dan untuk masyarakat berbasis nilai-nilai agama akan menyuburkan mentalitas imani yang inklusif, humanistik, dan jauh dari kecenderungan disorientatif menempatkan realitas persahabatan kebangsaan. Maka baik selaku manusia apalagi hamba, demi merawat kenyamanan, seyogianya kita tidak boleh mendistorsi amanah kekhalifahan di muka Bumi.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved