Tribunners

Transformational Leadership di Era Digital

Kepemimpinan transformasional akan menjadi faktor penentu dalam kemampuan organisasi untuk menghadapi tantangan perubahan saat ini

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Dapot Hamonangan H - Mahasiswa Magister Manajemen FE UBB 

Oleh: Dapot Hamonangan H - Mahasiswa Magister Manajemen FE Universitas Bangka Belitung

SUMBER daya manusia merupakan faktor penting dan tidak terpisahkan bagi setiap organisasi atau perusahaan. Keberhasilan organisasi secara langsung maupun tidak langsung tergantung pada kerja keras, loyalitas, dan keterlibatan para pemimpin dan bawahannya. Perusahaan dianggap kompetitif berdasarkan kompetensi sumber daya manusianya.

Karyawan adalah tulang punggung bagi setiap organisasi dan keberhasilan organisasi tergantung pada kinerja karyawannya. Untuk meningkatkan kinerja organisasi, karyawan harus dibimbing dan dikelola secara efektif dan terorganisasi dengan baik. Manajemen karyawan sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan dalam organisasi.

Taufik Bahaudin dalam bukunya Brainware Management menyatakan bahwa pemimpin adalah orang yang memiliki kemampuan memengaruhi orang lain yang dipimpinnya untuk melakukan apa yang diinginkannya/diperintahkannya tanpa merasa tertekan atau terpaksa. Peter F. Drucker memberikan gambaran perbedaan manajer dengan pemimpin. Dikatakan bahwa manajer adalah orang yang melakukan sesuatu dengan benar atau dengan baik (doing things right), sedangkan pemimpin adalah orang yang melakukan sesuatu yang benar (doing the right things). Dari sini bisa dilihat bahwa manajer melakukan sesuatu yang sudah jelas dan sudah ditetapkan apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, pemimpin dihadapkan pada pilihan (things), ia harus mampu menentukan pilihan yang paling tepat dari berbagai pilihan yang ada. Singkatnya, bisa disimpulkan bahwa pemimpin lebih berorientasi pada manusia (people oriented), sebaliknya manajer lebih berorientasi pada sistem atau peraturan (system/rules and regulation oriented).

Pentingnya aspek kepemimpinan (leadership) dalam mengelola dan memotivasi sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan menghasilkan teori-teori kepemimpinan. The great man theory of leadership muncul di abad 19, teori ini menyatakan pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan. Di masa itu banyak tokoh pemimpin besar dunia yang muncul seperti Abraham Lincoln, Julius Caesar, Mahatma Gandhi, dan Alexander Agung.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul pula teori The Big Bang yang menyatakan bahwa suatu peristiwa besar menciptakan atau dapat membuat seseorang menjadi pemimpin, contohnya Napoleon dan Hitler. Saat ini dapat ditemukan contoh kepemimpinan Big Bang yang bermunculan karena peluang-peluang dari era digital seperti Mark Zuckerberg dan Jack Ma. Kemudian muncul the trait theory of leadership kemudian berkembang the skill theory of leadership dan contingency theory.

Solikin M. Juhro dalam buku Transformational Leadership menyatakan teori kepemimpinan berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi pada zamannya masing-masing. Kecocokan dengan era dan kebutuhan zaman menjadi penentu gaya kepemimpinan yang berkembang di saat tertentu. Pemimpin yang efektif akan mengerti bahwa suatu gaya kepemimpinan yang berhasil di suatu situasi tertentu di masa lalu, belum tentu berhasil diterapkan di situasi yang sama di masa kini. Apalagi bila situasinya berbeda, zamannya berbeda, bawahannya berbeda, dan tantangan persoalannya berbeda.

Pada tahun 1973 James V Downtown Jr pertama kali menyatakan transformational leadership dalam bukunya Rebel Leadership: Commitment and Charisma in the Revolutionary Process. Downton mencoba mendobrak konsep kepemimpinan yang ada pada zamannya dengan mengajukan sebuah konsep kepemimpinan yang mengubah manusia dari dalam, bukan dari faktor eksternal. Selanjutnya, tahun 1978 James McGregor Burns secara sistematis mulai membedakan gaya kepemimpinan menjadi dua jenis yaitu gaya pemimpin transaksional dan transformasional.

Definisi pemimpin transaksional singkatnya adalah pemimpin yang berusaha membuat bawahannya bergerak melalui transaksi hadiah dan/atau hukuman (reward and punishment). Adapun pemimpin transformasional akan membuat bawahan bergerak atas dasar kesamaan visi dengan pemimpin sehingga perubahan yang terjadi berasal dari dalam dirinya dan dilakukan dengan sukarela walau seandainya tidak ada reward maupun punishment. Kepemimpinan transaksional akan membuat orang mencapai norma dan harapan perusahaan serta berfokus pada hasil, sedangkan kepemimpinan transformasional akan membuat orang bergerak melebihi ekspektasi.

Menurut Bernard Morris Bass, terdapat empat komponen yang membentuk gaya transformational leadership, yaitu idealized influence (berkharisma), inspirational motivation (menjadi inspirasi banyak orang), intellectual stimulation (mendorong inovasi), individualized consideration (menempatkan orang sesuai keahliannya). Kepemimpinan transformasional mengubah self-interest bawahan ke arah higher-level needs mereka.

David Stonehouse menyatakan bahwa kunci keberhasilan memimpin adalah bukan menjadi rigid pada pilihan gayanya, tetapi bergerak antara berbagai gaya yang berbeda sesuai tuntutan situasi. Fleksibilitas dan keterampilan adaptasi itu yang akan membedakan satu leader dengan lainnya. Pemimpin yang berhasil harus mampu menguasai tiga hal yaitu memimpin diri sendiri (self), menyelesaikan tugasnya (task), serta memimpin timnya (people). Trikotomi ini perlu menjadi sasaran utama dari setiap pembelajaran pemimpin.

Kepemimpinan adalah soal pengaruh. Tidak penting posisi kita ada di mana. Orang dengan jabatan paling bawah pun, bila ia mampu memberi pengaruh pada keputusan yang dibuat oleh timnya, sebenarnya sedang berperan sebagai pemimpin yang sesungguhnya.

Permasalahan dan tantangan dunia sekarang berbeda dengan masa lalu, demikian pula tantangan masa depan akan berbeda dengan masa sekarang. Dunia mengalami pergeseran dan perubahan setiap saat sehingga masa depan akan lebih sulit diprediksi bergerak ke arah mana (unpredictable). Oxford Scenario Planning mempopulerkan istilah baru bahwa dunia saat ini memasuki era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, and Ambiguity). Perubahan terjadi dengan cepat, era baru timbul menggantikan era lama. Apabila tidak disiasati dengan cepat dan cermat, perubahan tersebut akan bersifat disruptive (unthinkable).

Organisasi membutuhkan pemimpin yang fleksibel serta adaptif mengingat dunia berubah begitu cepat. Pemimpin harus senantiasa belajar serta memperbarui visi dan strategi organisasi apabila tidak ingin tertinggal dari kemajuan zaman. Fleksibilitas dan adaptabilitas hanya dimiliki oleh transformational leader. Birokrasi dan peraturan pada transactional leadership cenderung kaku sehingga tidak dapat mengakomodasi kreativitas, inovasi, serta kebutuhan organisasi untuk memiliki visi yang baru.

Transformational leadership muncul dengan gaya kepemimpinan yang mampu mengakomodasi aspek-aspek yang menjadi kekurangan dalam transactional leadership. Pemimpin transformasional tidak hanya memikirkan kompetensi, keterampilan, dan kebutuhan pekerja individu, tetapi juga melibatkan mereka untuk mencapai tujuan organisasi.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved