Tribunners

Membangun Pendidikan Berbasis Etika Pelayanan

Nilai dan etika pelayanan pendidikan dan pengajaran bahwa pendidik dan tenaga kependidikan harus banyak belajar

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Suparyanto, S.Pd.,M.A.P. - Kepala SMKN 1 Belinyu 

Oleh: Suparyanto, S.Pd.,M.A.P. - Kepala SMKN 1 Belinyu

SALAH satu faktor penting keberhasilan pendidikan dan pengajaran di sekolah yaitu bagaimana membangun komunikasi pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali murid, siswa selaku peserta didik, maupun pemangku kepentingan (stakeholder) selaku mitra sekolah. Beberapa fenomena yang terjadi di sekolah masih menunjukkan kesenjangan tentang bagaimana subjek pendidikan dan pengajaran melakukan proses komunikasi.

Fenomena tersebut ditandai terjadinya pemahaman yang berbeda antara satu pihak terhadap pihak yang lain, bahkan terjadi konflik yang mengakibatkan situasi tidak nyaman walaupun masalah dan sumber masalah hal yang sederhana. Bila intensitas fenomena tersebut terjadi kurang terkendali menguras energi maupun menyita fokus pelayanan pendidikan dan pengajaran. Untuk itu, diperlukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berkomunikasi dari subjek pelayan pendidikan pengajaran di sekolah.

Salah satu muatan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka yaitu proyek penguatan profil Pelajar Pancasila. Dimensi profil pelajar Pancasila terdiri atas 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) berkebinekaan global, 3) bergotong-royong, 4) mandiri, 5) bernalar kritis, dan 6) kreatif. Untuk mencapai keenam dimensi tersebut, diperlukan upaya pengembangan dan pembelajaran serta sikap dan kepribadian pendidik dan tenaga kependidikan karena pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan dan pembelajaran. Terkait dengan keberhasilan pencapaian profil pelajar Pancasila, idealnya pendidik maupun tenaga kependidikan memahami tentang arti penting dan implementasi etika dalam membangun pelayanan pendidikan maupun pengajaran.

Arti penting etika dalam pelayanan pendidikan dan pengajaran sebagai nilai moral dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok pendidik dan tenaga kependidikan untuk bertingkah laku. Selain itu, bagi pendidik dan tenaga kependidikan, etika pelayanan sebagai kode etik, juga sebagai ilmu tentang baik buruk atau filsafat moral yang berupa pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat fenomena perilaku.

Nilai dan etika pelayanan pendidikan dan pengajaran bahwa pendidik dan tenaga kependidikan harus banyak belajar. Nilai pelayanan pendidikan dan pengajaran harus dapat melibatkan tindakan yang dimotivasi oleh nilai-nilai demokrasi, profesional, etika dan kemanusiaan. Nilai moral menjadi suatu yang sangat sulit karena menyangkut cara mengubah pola pikir dari subjek pendidikan. Konflik nilai dalam pelayanan lazim terjadi karena peningkatan tuntutan peningkatan pelayanan serta variannya.

Sekolah dituntut memberikan layanan yang tidak biasa kepada pelanggan atau pengguna jasa layanan. Paradigma baru dalam pelayanan adalah pelayanan prima. Artinya, bahwa pelayanan yang berkualitas merupakan pelayanan terbaik. Pelayanan tersebut melampaui pelayanan pihak lain atau pada periode sebelumnya, bahkan melampaui ekspektasi dari pengguna layanan. Untuk itu, diperlukan pelayanan yang responsif, kompetitif, berkualitas dari mindset setiap pelayan.

Terkait dengan pelayanan yang tidak biasa, bahwa ada beberapa dimensi pelayanan yang perlu mendapat perhatian. Zeithaml dalam Hardiansyah (2011) menyatakan bahwa kualitas dimensi pelayanan terdir atas penampilan fisik, keandalan, daya tanggap, empati, dan jaminan.

Dimensi penampilan fisik ini lazim disebut dengan tangibel. Pada dimensi ini menuntut penampilan pendidik tenaga kependidikan dalam memberikan layanan, kemudian kenyamanan tempat melakukan pelayanan, dan kemudahan dalam proses pelayanan. Selain itu, dituntut kedisiplinan pendidik dan tenaga kependidikan dalam melakukan layanan, kemudahan akses dalam permohonan pelayanan, maupun alat bantu dalam pelayanan.

Dalam pelayanan pendidikan dan pengajaran, bagaimana pendidik dan tenaga kependidikan berpakaian rapi, sopan, dan pantas, bertutur kata dengan memilih kata yang baik dan benar lagi bijak menjadi sangat penting dalam mendukung keberhasilan pelayanan. Selain itu, memberikan tempat aman dan nyaman lagi bersih kepada pelanggan maupun tamu juga penting diperhatikan. Di sisi lain, pendidik dan tenaga kependidikan memahami arti penting waktu yang efektif dan efisien dalam memberikan layanan pendidikan dan pengajaran sehingga tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Keandalan merupakan kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan untuk melakukan layanan yang dijanjikan dengan tepat waktu. Untuk itu, diperlukan kecermatan pendidik dan tenaga kependidikan dalam memberikan layanan berdasarkan standar pelayanan pendidikan yang terukur. Di sisi lain, juga diperlukan kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan dalam menggunakan alat-alat bantu dalam proses memberikan layanan pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan keahlian pendidikan dan tenaga kependidikan dalam menggunakan alat-alat bantu dalam proses memberikan layanan pendidikan dan pengajaran.

Daya tanggap merupakan kemauan atau kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan untuk membantu pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat. Hal ini menyangkut keadilan dalam pelayanan bahwa setiap pelanggan yang ingin memperoleh layanan mendapat tanggapan tanpa diskriminasi. Oleh karena itu, semua kebutuhan pelanggan dalam hal ini kebutuhan siswa direspons dengan baik oleh pendidik dan tenaga kependidikan sebagai pelayan.

Jaminan berkaitan dengan pengetahuan dan tingkat kesopanan pendidik dan tenaga kependidikan sebagai pelayan serta kemampuan untuk menginspirasi kepercayaan dan keyakinan. Pendidik dan tenaga kependidikan sebagai petugas layanan diharapkan mampu memberikan jaminan batas waktu yang tepat dalam memberikan layanan. Bahkan, pendidik dan tenaga kependidikan juga diharapkan mampu memberikan garansi legalitas pelayanan, serta yang sangat urgen petugas layanan harus mampu memberikan jaminan kepastian biaya dalam pendidikan.

Empati berkaitan dengan sikap kepedulian pendidik dan tenaga kependidikan serta perhatian pelayan dalam memberikan pendidikan dan pengajaran. Pendidik dan tenaga kependidikan harus mendahuluan kepentingan siswa sebagai pelanggan, pelayanan dengan sikap yang ramah, sopan, santun, dan tidak diskriminatif. Pendidik dan tenaga kependidikan sebagai pelayan tetap menghargai setiap siswa sebagai pelanggan.

Guru sebagai pendidik bertingkah laku santun dalam berbicara, penampilan sopan terhadap semua peserta didik, orang tua, maupun teman sejawat guru, semua tenaga administrasi. Hal yang demikian menggambarkan bahwa guru benar-benar mampu bersikap dewasa sehingga dirinya mampu mencitrakan dirinya sebagai seorang pamong atau penuntun. Dengan kedewasaan tersebut, guru juga mampu menghormati dan menghargai relasi antara guru sebagai aparatur (palayan) dengan siswa sebagai peserta didik (pelanggan).

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved