Rabu, 22 April 2026

Berita Pangkalpinang

Sekretaris Dewan Pendidikan Babel Ungkap Alasan Banyaknya Pengangguran dari Lulusan SMP

Data BPS Bangka Belitung mencatat pada 2022, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) banyak disumbang oleh lulusan SMP.

Penulis: Rifqi Nugroho | Editor: Novita
(Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)
Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Dr Ibrahim 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Data BPS Bangka Belitung mencatat pada 2022, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) banyak disumbang oleh lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Hal itu mengindikasikan bahwa sebuah lapangan pekerjaan membutuhkan tenaga profesional dan berpendidikan tinggi.

Sekretaris Dewan Pendidikan Provinsi Bangka Belitung, Dr Ibrahim, mengatakan orientasi sektor pekerjaan formal memang bergeser ke sektor informal berkat dukungan digitalisasi.

"Orientasi sektor pekerjaan formal memang bergeser ke sektor informal berkat dukungan digitalisasi. Banyak pekerjaan formal diambil alih oleh mesin atau digantikan oleh jenis pekerjaan lain yang lebih inovatif, baru, dan membutuhkan anak-anak muda dengan kreativitas yang tinggi," kata Ibrahim saat dihubungi Bangkapos.com, Kamis (12/1/2023).

Dengan demikian, menurutnya jenjang pendidikan memegang peran penting karena lingkungan pendidikan juga mendorong adanya inovasi dan kreativitas.

"Pada titik ini, pendidikan memegang peran penting karena lingkungan pendidikan mendorong inovasi dan kreativitas," ujarnya.

Ibrahim juga menyampaikan, banyaknya pengangguran pada lulusan SMP itu karena kesulitan untuk masuk pada kompetisi yang menuntut kreativitas dan fleksibilitas tinggi tersebut. Akibatnya, lulusan SMP lebih banyak bekerja di sektor informal dan pada strata yang lebih rendah.

"Mereka tentu kesulitan naik kelas untuk ke jenjang yang membutuhkan kualifikasi lebih cair. Saya kira tidak mengherankan jika pengangguran di Babel memang banyak didominasi lulusan pendidikan menengah ke bawah," tuturnya.

Oleh karena itu, setidaknya ada dua hal yang harus ditingkatkan untuk menuntaskan permasalahan tersebut.

"Harus mendorong paling tidak 2 hal. Pertama, penguatan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dengan pendidikan paket. Hal ini memberi ruang untuk mereka naik ke jenjang lebih tinggi. Kedua, dengan pendidikan kecakapan penguatan skill melalui pelatihan-pelatihan terpusat untuk menggaet mereka mendapatkan input tambahan agar bisa kompetitif," terangnya.

Terakhir, mendorong kemauan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi merupakan pekerjaan rumah bersama.

"Saya kira kita perlu mendorong bersama, baik orang tua maupun tokoh masyarakat, agar lebih sensitif terhadap pendidikan. Kita mengkhawatirkan jika ke depan banyak siswa yang enggan sekolah lebih tinggi, akan berpengaruh pada daya saing kita ke depan," imbuhnya. (Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved