Rabu, 13 Mei 2026

Film

Review Film A Man Called Otto, Lebih dari Sekedar Kisah Kakek Pemarah

Otto yang ditinggal istri untuk selamanya, berkali-kali mencoba bunuh diri. Kakek pemarah ini kemudian bertemu Marisol yang mengubah memori buruknya.

Tayang:
Penulis: Nur Ramadhaningtyas | Editor: Nur Ramadhaningtyas
Tix.id
Poster film A Man Called Otto 

BANGKAPOS.COM - Film A Man Called Otto tayang di bioskop Indonesia sejak Jumat, 13 Januari 2023 lalu.

Meski nampaknya tak begitu hype di Indonesia, film genre drama komedi ini menjadi salah satu film terbaik yang membuka awal tahun. A Man Called Otto layak jadi film yang wajib kamu tonton jika suka film yang ringan namun penuh pelajaran hidup.

A Man Called Otto merupakan adaptasi dari sebuah novel karya Fredrik Backman berjudul A Man Called Ove. Karyanya lebih dulu dijadikan film di Swedia dengan judul yang sama tahun 2015 lalu.

Baca juga: Sinopsis Film A Man Called Otto, Cerita Haru Kakek Pemarah yang Ditinggal Istrinya

Di awal film, penonton disuguhkan jokes ringan yang barangkali membuat cekikian. Tak sedikit juga yang mulai sebal dengan karakter Otto yang mana diperankan oleh aktor kenamaan Tom Hanks.

Penonton kemudian dibawa masuk secara perlahan ke dalam karakter Otto yang bisa marah tentang apa saja. Mulai dari tentang tali, melihat kucing, hingga disapa tetangganya saat meronda.

Kakek grumpy ini ternyata berniat mengakhiri hidupnya karena ditinggal sang istri Sonya, untuk selama-lamanya.

Di pertengahan film, penonton secara tidak langsung dibuat empati dengan keadaan kakek Otto.

Berkali-kali mencoba bunuh diri, Otto yang dikisahkan sebagai pria pemarah kemudian berubah berkat kebaikan tetangga barunya, Marisol.

Film A Man Called Otto tengah tayang di bioskop
Film A Man Called Otto tengah tayang di bioskop (Imdb.com)

Tonjokan emosi pun begitu kuat, saat Otto dan Marisol berbagi kebaikan. Perlahan air mata terus mengalir di pipi.

Di tengah dinginnya musim salju, ada kehangatan dari tetangga yang memberi perhatian pada Otto lewat ketukan pintu Marisol.

Mulai dari berbagi makanan, meminta bantuan, hingga memastikan keadaannya.

Marisol sukses sebagai pencuri adegaan. Dia benar-benar memikat di setiap scene-nya.

Begitu pula dengan bahasa campuran Inggris dan Meksikonya. Marisol juga tidak melewatkan kesempatan untuk memengaruhi penonton, mulai dari waktu komedinya yang sempurna hingga sisinya yang paling introspektif.

Lewat keteguhan dan ketulusan, Marisol menyadarkan Otto bahwa hidup harus tetap berjalan, ada tidak adanya Sonya.

Memori buruk Otto kian bertransformasi menjadi sebuah kebajikan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved