Horizzon

Isu Penculikan Anak dan Peran Media Mainstream

Bangka Pos dan Pos Belitung akan tetap hadir menjadi lentera dan rujukan terakhir atas sebuah tanya yang belum terjawab

Editor: suhendri
Bangka Pos
IBNU TAUFIK Jr / Pemred BANGKA POS GROUP 

DUA reporter lapangan harus ditelepon agak serius manakala berita tentang isu penculikan muncul di rapat budgeting sore. Betul, Bangka Pos sebagai media mainstream yang masih memproduksi koran cetak memang masih memelihara budaya rapat sore. Di rapat sore inilah berita-berita unggulan kita diskusikan dan kadang menjadi perdebatan serius di antara para editor.

Dalam rapat sore yang dipimpin oleh manajer produksi ini kita sengaja memberi ruang bagi seluruh editor sebagai peserta rapat untuk saling 'bertengkar' tentang sebuah isu yang akan menjadi amunisi bagi koran cetak edisi besok, meski pembacanya makin hari makin meninggalkannya.

'Pertengkaran' para editor di dalam rapat sore tentu bukan karena masing-masing editor membawa kepentingan dalam sebuah pemberitaan. 'Pertengkaran' terjadi lantaran perspektif berbeda, isi kepala berbeda dan juga pemahaman berbeda atau jam terbang yang berbeda di antara peserta rapat.

Kami meyakini, memelihara 'pertengkaran' di rapat sore adalah salah satu cara efektif untuk menjaga agar sajian koran cetak Bangka Pos edisi esok hari adalah sajian yang tuntas. Tak elok tentunya Bangka Pos sebagai media panutan harus menyajikan berita yang sumir, tendensius atau bahkan salah secara substansi di edisi cetak.

Berita tentang isu penculikan menjadi satu di antara tema perdebatan dalam rapat sore satu hari di pekan terakhir bulan Januari 2022. Dari sisi kaidah jurnalistik, berita tentang isi penculikan ini layak untuk disajikan di halaman satu.

Bagaimana tidak, dari sejumlah berita yang muncul di milis redaksi dan sampai ke materi rapat sore, nyaris tak ada yang bisa menggugat kesahihan tentang kebenaran adanya isu penculikan anak. Narasumber yang dikutip di lapangan juga narasumber yang kompeten, yang memiliki kapasitas untuk memberikan keterangan.

Satu-satunya yang menjadikan kita sepakat untuk mengubah perspektif berita penculikan tersebut secara 'radikal' adalah tidak ditemukannya motif yang masuk akal terkait dengan kasus-kasus percobaan penculikan dalam pemberitaan.

Di platform online, berita-berita tersebut telah lolos diposting menjadi beberapa berita yang ikut menjadi 'reinforcement' positif alias ikut menguatkan isu adanya kasus penculikan yang marak di Bangka Belitung belakangan ini. Apalagi, netizen melalui media sosial juga cukup gencar membicarakan isu penculikan anak ini.
Bak kuis How Wants To Be a Millionaire, rapat sore yang mentok masih menyisakan satu kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas semua keraguan atas materi berita tentang isu pencurian anak yang marak. Kesempatan itu adalah Ask The Audience.

Saat semua peserta rapat sore ragu dengan apa yang akan kita putuskan, maka satu-satunya jalan adalah menanyakan materi tersebut ke reporter penulis berita. Reporter penulis diminta menceritakan tentang asal-usul, cara wawancara, hingga pemahaman mereka tentang berita penculikan yang mereka tulis. Persis, tidak ada yang salah dalam proses jurnalistik hingga reporter menulis dan mengirimkan berita tersebut ke milis.

Akan tetapi, dua reporter tersebut sama-sama menjawab memiliki keraguan atas substansi atas berita yang mereka tulis. Narasumbernya benar, prosesnya benar, aura yang ada di lapangan benar, namun kedua reporter tersebut sama-sama mengaku ragu jika benar ada kasus percobaan penculikan sebagaimana yang mereka tulis.

Harus dipahami, Bangka Pos memiliki satu keyakinan bahwa terkait dengan kondisi riil di lapangan, manajer tidak lebih paham dari editor yang setiap hari menyaring berita dari reporter. Demikian juga editor, kita yakini tidak lebih paham tentang konteks peristiwa dibanding dengan reporter yang benar-benar ada di lapangan. Namun, manajer dan editor memiliki pemahaman yang lebih luas dan taraf emosi yang lebih baik dibanding reporter di lapangan.

Keraguan yang dilontarkan oleh dua reporter lapangan tersebut menjadi hal kecil yang mengubah perspektif Bangka Pos dalam menurunkan berita penculikan di edisi cetak Rabu, 1 Februari 2023. Dengan segala risiko yang ada, Bangka Pos cetak cengan sangat berani dan radikal membalik perspektif berita tersebut dengan meyakinkan kepada publik bahwa penculikan yang menjadi pembicaraan banyak orang adalah berita sumir.

Lantaran seperti melawan arus, Bangka Pos Cetak mengambil jalan aman dengan tetap menekankan poin kewaspadaan kepada masyarakat. Bangka Pos memahami bahwa apa yang dikatakan masih menjadi referensi banyak orang sehingga apa yang disampaikan harus benar-benar difilter dengan baik.

Mengubah sudut pandang secara radikal dengan materi pemberitaan yang kuat mengarah ke dugaan kasus penculikan dan mengubahnya menjadi narasi bahwa berita itu patut diragukan semata-mata dilakukan untuk memberikan ketenangan kepada publik.

Benar, di acara Jumat Curhat, Kapolda Kepulauan Bangka Belitung Irjen (Pol) Yan Sultra Indrajaya juga menegaskan bahwa berita tentang penculikan adalah hoaks.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved