Minggu, 19 April 2026

Berita Pangkalpinang

Kak Seto Miris dengar Pernikahan Dini Tinggi di Bangka Belitung, Ini Pesan untuk Pemda

Psikolog anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi datang ke Provinsi Bangka Belitung.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: nurhayati
Dok/Cici Nasya Nita
Psikolog anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi bersama Wartawan Bangka Pos Cici Nasya Nita. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Psikolog anak sekaligus Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi datang ke Provinsi Bangka Belitung.

Kunjungannya kali ini dalam rangka membuka Small Group Discussion (SGD) dengan tema Peta Aksi TC Warriors di Bangka Belitung bertempat di Ruang Pasir Padi, Kantor Gubernur, Rabu (15/2/2023).

Selain itu ia menjadi narasumber seminar bertema Eksploitasi Dibalik Fenomena Kebebasan Berekspresi di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kamis (16/2/2023).

Tak hanya itu, pria yang kerap disapa Kak Seto itu juga mengumpulkan seputaran informasi permalahan anak di Bangka Belitung.

Saat tiba, Kak Seto disambut Penjabat (Pj) Gubernur Bangka Belitung (Babel) Ridwan Djamaludidin bersama istrinya Sri Utami Soedarsono di Ruang VIP Bandara Depati Amir, Rabu (15/2/2023) siang.

Dari perbincangannya dengan Ridwan, Kak Seto mengaku sudah menangkap beberapa permasalahan anak di Bangka Belitung yang menjadi perhatiannya.

Mengetahui secara rinci, Jurnalis Bangka Pos Cici Nasya Nita berkesempatan wawancara khusus dengan Kak Seto di Lobi Hotel Santika Bangka, (16/2/2023) sore.

T: Apa permasalahan anak di Bangka Belitung yang menjadi perhatian Kak Seto?

J: Salah satu yang diperhatikan adalah pernikahan dini, cukup tinggi dan angka stunting, mungkin akibat dari pernikahan dini, mungkin perhatian anak kurang optimal, gizinya dan makanannya. Mungkin kualitas di usia remaja, tidak baik dengan kesehatan bayi.

Tingginya angka perceraian, karena remaja masih labil, emosi. Anak usia 19 tahun sudah kawin cerai, itu sangat dikhawatirkan karena menganggu kualitas sumberdaya manusia (SDM) di masa depan.

Dari catatan Bangkapos.com, pada tahun 2021, pernikahan dini di Bangka Belitung tertinggi nomor lima berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dengan angka 14,05 persen.

Sementara, persentase angka kelahiran remaja umur 15 -19 tahun di Bangka Belitung (Babel) sebesar 29 persen pada tahun 2022.

Angka kelahiran remaja umur 15-19 tahun ini, secara langsung berhubungan dengan pernikahan dini, serta berdampak pada angka stunting juga.

Soal stunting, berdasarkan status Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Bangka Belitung hanya turun 0,1 persen, awalnya 18,6 persen menjadi 18,5 persen pada tahun 2022.

Ada empat kabupaten yang mengalami penurunan yakni Bangka Barat, Bangka, kota Pangkalpinang dan Belitung Timur.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved