Tribunners
Masa Depan Terumbu Karang Pulau Bangka
Untuk merehabilitasi terumbu karang memang tidak mudah. Salah pilih lokasi, spesies, dan metode transplant sangat memengaruhi tingkat hidup
Oleh: Vivin Silvaliandra Sihombing - Periset Kepakaran Konservasi Keanekaragaman Hayati (Pusat Riset Ekologi dan Etnobotani) Badan Riset dan Inovasi (BRIN)
TERUMBU karang merupakan ekosistem unik dan rentan perairan tropis dengan tingkat produktivitas dan keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Indonesia sendiri terkenal sebagai salah satu penyumbang kekayaan hayati terumbu karang terbesar di dunia dengan lebih dari 95.000 spesies di dalamnya. Mengutip dari Geospasial Tematik Pesisir dan Laut, luas ekosistem terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 2.517.857 ha yang tersebar luas dari perairan kawasan barat Indonesia sampai kawasan timur Indonesia.
Sangat disayangkan, hanya 30 persen dari luasan tersebut yang masih dalam kategori baik, padahal selain memiliki manfaat ekonomi, yang terpenting terumbu karang juga merupakan paru-paru terbesar dunia. Kenyataannya, penghasil oksigen terbesar di Bumi 80 persen adalah berasal dari fitoplankton yang hidupnya paling banyak di ekosistem terumbu karang.
Untuk merehabilitasi terumbu karang memang tidak mudah. Salah pilih lokasi, spesies, dan metode transplant sangat memengaruhi tingkat hidup dan keberhasilan.
Mengenal Lebih Dekat Terumbu Karang
Tak kenal maka tak sayang. Mungkin sebagian dari kita mengenal terumbu karang sebagai tumbuhan atau bahkan batuan? Dengan permukaannya yang keras, terumbu karang sering disalahartikan sebagai batu. Pun, karena terumbu karang secara kasatmata seolah-olah "mengakar" di dasar laut lantas dianggap sebagai tanaman.
Sebenarnya, terumbu karang tidak sama seperti batu, karena terumbu karang hidup dan tumbuh. Terumbu karang juga tidak dapat berfotosintesis sendiri sehingga jelas tidak masuk dalam kriteria tumbuhan.
Faktanya, terumbu karang sebenarnya adalah hewan karena cabang keras yang sering kita sebut "batu" ini sebenarnya terdiri dari ribuan hewan kecil yang disebut polip. Polip karang adalah invertebrata mikroskopis, memiliki tubuh seperti tabung dan mulut yang dikelilingi oleh tentakel yang menyengat. Polip menggunakan kalsium karbonat (CaCO3) dari air laut untuk membangun kerangka keras untuk melindungi tubuhnya yang rentan. Menariknya, polip karang ini bersimbiosis juga dengan alga yang disebut zooxanthellae (alga endosimbion).
Hubungan antara zooxanthellae dengan polip karang bersifat mutualisme. Polip karang yang tidak dapat berfotosintesis dapat memperoleh energi dari zooxanthellae, sebaliknya zooxanthellae yang hidup di dalam jaringan tubuhnya memperoleh tempat perlindungan dari pemangsa dan memakai karbondioksida yang dihasilkan polip karang dari proses metabolismenya. Asosiasi yang erat ini sangat kompleks namun juga efisien sehingga terumbu karang dapat bertahan hidup, bahkan di perairan yang miskin zat hara.
Indonesia dan Segitiga Terumbu Karang
Segitiga terumbu karang adalah kawasan laut di bagian barat Samudra Pasifik dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kawasan segitiga terumbu karang memiliki luas 6 juta kilometer persegi, di mana wilayahnya terbentang dari Indonesia hingga Kepulauan Solomon membentuk segitiga sehingga disebut Segitiga Terumbu Karang.
Lantas apa keistimewaan Segitiga Terumbu Karang? Segitiga Terumbu Karang merupakan episentrum keanekaragaman terumbu karang dimana titik yang memiliki keanekaragaman tertinggi adalah di Semenanjung Doberai, Papua. Kekayaan ini menyimpan 2.228 spesies ikan terumbu karang dari total 6.000 spesies ikan terumbu karang dunia dan lebih dari 76 persen spesies terumbu karang dunia ada di wilayah ini. Uniknya, wilayah ini merupakan yang paling tinggi tingkat endemisnya.
Permasalahan Terumbu Karang di Indonesia
Tidak hanya di Indonesia, kerusakan terumbu karang juga terjadi di seluruh dunia. Keberadaan terumbu karang hidup sangat dipengaruhi oleh faktor alam seperti pemanasan global yang dapat mengakibatkan pemutihan karang dan aktivitas manusia.
Secara umum, di perairan Indonesia terumbu karang hidup optimal pada suhu 22-29 derajat celsius. Hasil penelitian tim peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati di Bangka Selatan menunjukkan kenaikan suhu air laut mencapai 28,8 derajat celsius telah menyebabkan pemutihan karang masal. Dari hasil penelitian, kenaikan 1-2 derajat celsius suhu air laut membuat kondisi karang menjadi stress dan mengeluarkan mekanisme pertahanannya sehingga membuat karang menjadi putih.
Sederhananya, peningkatan suhu dan keasaman air laut membuat zooxanthellae (alga yang bersimbiosis dengan polip) "berhenti memproduksi warna" untuk menghemat energi supaya terumbu karang dapat bertahan hidup lebih lama. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, alga simbion ini berhenti sama sekali untuk berfotosintesis. Hal ini menyebabkan simbiosis mutualisme antara zooxanthellae dan polip karang menjadi terhenti. Polip karang berhenti mendapat asupan energi dari zooxanthellae, yang berakibat alga simbion ini melepaskan diri dari inang karang secara temporer. Perubahan susunan komponen inilah yang menyebabkan karang benar-benar berhenti tumbuh bahkan ditutupi makro alga lain dan kemudian mati.
Selain karena perubahan iklim yang membuat suhu air laut menjadi naik dan pH air laut berubah, faktor campur tangan manusia juga sangat berpengaruh terhadap kerusakan karang. Beberapa rangkuman kerusakan karang akibat faktor antropogenik antara lain karena penggunaan cantrang (trawl) yang pemberatnya jelas menghancurkan karang, penggunaan racun ikan, kegiatan wisata yang tidak ramah lingkungan, penebangan mangrove, penggunaan pupuk dan penambangan.
Transplantasi Karang, Solusi Rehabilitasi Karang
Proses perbaikan secara alami pada terumbu karang yang kondisinya sudah rusak relatif lebih lama dan membutuhkan kondisi lingkungan yang betul-betul tidak terganggu oleh aktivitas manusia. Salah satu upaya yang efektif untuk menanggulangi masalah kerusakan ekosistem karang dan merehabilitasi terumbu karang yang rusak adalah transplantasi karang.
Transplantasi karang merupakan cara rehabilitasi terumbu karang melalui pencangkokan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain untuk membentuk habitat baru. Kegiatan transplantasi karang telah dilakukan oleh tim peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati di Pulau Kelapan, Bangka Selatan, dengan metode jaring rangka dan peletakan media transplant di Pulau Kelapan. Tujuannya adalah untuk program percontohan dalam merehabilitasi pulau-pulau yang kondisi terumbu karangnya sudah rusak.
Hasil penelitian menginformasikan jenis karang yang paling cocok ditransplantasi pada kondisi perairan dengan tingkat sedimentasi tinggi adalah Acropora formosa karena memiliki tingkat ketahanan hidup, memiliki kecepatan pertumbuhan tinggi serta memiliki kemampuan beradaptasi dan bersifat fototaksis di mana apabila polip karang tertutup sedimen, maka akan mencari cahaya dengan cara memanjangkan cabang.
Dimensi rata-rata diameter dan tinggi karang hasil transplantasi di Pulau Kelapan pada tiga bulan pertama secara berturut-turut sebesar ±0,2 cm dan ±1,5 cm. Pada enam bulan berikutnya diketahui diameter dan tinggi karang bertambah menjadi ±0,3 cm dan ±1,8 cm.
Tingkat ketahanan hidup fragmen karang transplantasi sangat ditentukan oleh ukuran fragmen yang dipatahkan dari induknya, penempelan fragmen pada karang, sedimen dan turbiditas, serta gangguan dari spesies pemakan karang. Transplantasi karang dikatakan berhasil jika penempelan karang cepat membentuk rangka kapur baru.
Setelah fragmen melekat kuat pada substrat, maka energi yang awalnya digunakan untuk membentuk kerangka kapur baru (regenerasi) dialihkan untuk pertumbuhan dan memperbesar ukuran diameter sehingga karang mencapai ukuran idealnya.
Tingkat ketahanan hidup karang yang ditransplantasi dapat tinggi walaupun tidak dilekatkan pada substrat jika dilakukan di daerah terlindung terutama dari arus dan gelombang. Untuk daerah perairan dengan kecepatan arus dan gelombang yang tinggi disarankan untuk menggunakan metode meja transplant supaya karang hasil transplant tidak rusak akibat terbawa gelombang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230218_Terubu-karang.jpg)