Tribunners
Restitusi sebagai Bagian Budaya Positif Sekolah
kita harus paham bahwa sanksi bukanlah merupakan satu upaya untuk menyadarkan diri murid atas kesalahan yang terjadi
Oleh: Yeni Fransiska, S.Pd. - Guru SMAN 1 Mendo Barat
LINGKUNGAN sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan tentunya menjadi impian dan dambaan setiap warga sekolah yang ada di dalamnya. Sekolah akan menjadi tempat ternyaman bagi murid untuk menumbuhkembangkan minat, bakat, dan potensi mereka. Guru pun akan merasakan kegairahan yang sama ketika harus menjalankan tugas untuk "menuntun" kodrat anak-anak didiknya yang unik, berbeda satu dengan lainnya.
Tantangan terbesar yang dirasakan para pemangku kepentingan di sekolah, termasuk di dalamnya kepala sekolah, guru, dan para tenaga kependidikan, serta orang tua sekarang ini adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan itu dalam keseharian murid yang ada di sekolah. Orang tua seyogianya ikut terlibat dalam upaya ini karena mereka merupakan bagian dalam keberadaan sekolah di mana anak-anak mereka berada dari pagi hingga siang atau sore hari. Para orang tua perlu ikut mengambil bagian dalam tanggung jawab menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang putra-putri mereka. Beban dan tanggung jawab pendidikan bukanlah mutlak milik pada guru saja.
Budaya positif menjadi kunci utama dalam upaya untuk menciptakan lingkungan yang didambakan itu. Budaya positif akan lahir dari pembiasaan-pembiasaan baik yang dilakukan secara sadar dan berkesinambungan. Murid-murid merasakan ketenangan dan kenyamanan untuk mengembangkan minat, bakat, dan potensinya, bebas dari tekanan-tekanan dari lingkungan sekitarnya.
Menumbuhkan budaya positif tentunya bukan hanya akan menjadi tanggung jawab guru saja. Seluruh warga sekolah harus mampu menjalin komitmen dan kolaborasi untuk mewujudkannya. Dan hal ini tentunya tak akan tercipta secara instan, dalam waktu yang singkat. Tak ada pembiasaan baik yang muncul begitu saja. Ada proses yang harus dilalui agar suatu sikap, tindakan ataupun perilaku tumbuh dalam koridor nilai kebaikan. Karena itu, komitmen yang konsisten mutlak diperlukan untuk perwujudannya secara berkesinambungan.
Terkait upaya penumbuhan budaya positif di sekolah, kunci utamanya terletak pada kontrol diri setiap individu yang ada di dalamnya. Apa pun perilaku dan sikap yang dimunculkan oleh setiap murid terjadi karena murid tersebut mengizinkan dirinya untuk melakukan hal tersebut. Tak ada pihak yang mampu memaksa murid untuk melakukan sesuatu jika memang murid tersebut memilih untuk tidak melakukannya. Peran guru menjadi sangat penting di sini untuk menuntun dan membimbing agar setiap murid mampu mengontrol dirinya dalam koridor perilaku yang positif dalam kesehariannya. Tak mudah, tetapi itulah tanggung jawab kita sebagai guru dalam menjalankan tugas keprofesian untuk bangsa.
Penerapan Disiplin Positif
Salah satu strategi untuk menciptakan budaya positif adalah dengan penerapan disiplin positif. Disiplin positif bertujuan untuk menanamkan motivasi intrinsik dalam diri murid agar mampu menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percayai. Bukan karena motivasi ekstrinsik, baik itu karena hukuman ataupun penghargaan dari lingkungan. Ada kesadaran dan keyakinan dalam diri seorang murid jika apa pun yang dilakukannya merupakan bentuk kesadaran diri untuk mencapai tujuan mulia dalam kehidupan ini.
Nilai-nilai yang sejatinya menjadi kepercayaan murid itu merupakan nilai-nilai kebajikan yang menjadi tujuan mulia setiap orang. Nilai kebajikan menjadi pondasi kita dalam berperilaku, antara lain menghormati, peduli, tanggung jawab, menghargai, kejujuran, bersyukur, komitmen, toleransi, dan lain sebagainya. Keyakinan yang besar terhadap nilai-nilai kebajikan dalam diri seorang murid akan melahirkan suatu kesadaran yang akan memotivasi murid tersebut dari dalam (motivasi intrinsik).
Penanaman motivasi intrinsik dalam kaitannya dengan disiplin positif jelas merupakan hal yang sangat mendasar. Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang jelas akan jauh lebih berdampak jangka panjang jika dibandingkan dengan motivasi yang dimunculkan karena teguran, hukuman, ataupun hadiah. Sifatnya pun akan jauh lebih permanen atau tetap dalam pribadi seorang murid dalam jangka waktu yang panjang. Oleh karena itu, disiplin positif menjadi hal yang paling utama dalam terwujudnya budaya positif di lingkungan sekolah seperti yang kita dambakan.
Disiplin positif dapat dimaknai sebagai sesuatu kesadaran untuk berperilaku sesuai yang diharapkan karena adanya kesadaran dalam diri seseorang. Tak ada paksaan apalagi tekanan dari pihak luar. Semuanya lahir karena kesadaran akan keyakinan nilai kebaikan.
Disiplin positif akan menuntun anak untuk senantiasa melaksanakan nilai-nilai kebaikan dalam berbagai aktivitas keseharian yang dilakukannya. Kesadaran untuk berperilaku baik akan lahir karena kesadaran yang akan menjelma menjadi suatu budaya dalam lingkungan kelas, bahkan sekolah. Budaya positif akan lahir dengan pondasi disiplin positif setiap warga sekolah, tanpa terkecuali.
Lantas apakah dalam lingkungan sekolah yang berupaya menjadikan budaya positif sebagai bagian visi mereka tak akan ada kesalahan yang dilakukan murid-murid di sana? Tentu tidak. Sebagai pendidik kita sangat paham jika kesalahan merupakan bagian dalam proses pembelajaran. Yang terpenting adalah bagaimana upaya kita untuk menuntun murid menjadikan kesalahan yang dilakukan mereka sebagai upaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Menuntun murid untuk belajar dari kesalahannya, bukan terbelenggu pada rasa bersalah atas kesalahan yang telah dilakukannya itu.
Pertanyaannya sekarang, apa yang harus kita lakukan jika seorang murid melakukan kesalahan? Apakah dengan memarahi mereka merupakan suatu penyelesaian? Atau dengan memberi hukuman yang setimpal atas kesalahan yang telah mereka lakukan? Atau justru kita membiarkan mereka berproses sendiri untuk menemukan dan menyadari kesalahannya?
Restitusi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230305_Yeni-Fransiska-Guru-SMAN-1-Mendo-Barat.jpg)