Tribunners
Menyoal Tinggalan Arkeologi Kota Kapur
Kota Kapur diperkirakan sudah menjadi pelabuhan penting di pesisir barat Sumatra sebelum berdirinya Sriwijaya
Oleh: Anton Kibar - Pelintas Budaya Babel
SEJARAH panjang Kepulauan Bangka Belitung senyata-nyatanya adalah sejarah tentang laut. Tentang kejayaan dan jatuh bangun wilayah ini ada di lautan. Kota Kapur diperkirakan sudah menjadi pelabuhan penting di pesisir barat Sumatra sebelum berdirinya Sriwijaya. Hal ini disebabkan pelabuhan-pelabuhan di pesisir, seperti Kota Kapur dapat menyediakan hasil hutan, seperti getah kapur barus, lada, cengkih, rempah-rempah, dan hasil alam berupa timah yang dibutuhkan oleh Negara Cina, Arab, serta India pada masa itu.
Dengan keletakannya yang strategis dalam lintasan pelayaran niaga internasional, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah wilayah melting pot, tempat persentuhan budaya antarbangsa. Akulturasi terjadi. Proses saring serap dan ramu olah budaya terus berkembang melahirkan corak budaya baru.
Riwayat penelitian di Pulau Bangka terkait dengan perkembangan Hindu Buddha di Nusantara telah dimulai sejak ditemukan Prasasti Kota Kapur pada tahun 1892 Masehi. Prof. Dr. Hendrik Kern adalah orang yang pertama kali membaca prasasti ini pada tahun 1913. Selanjutnya, Prasasti Kota Kapur yang ditemukan oleh J.K. van der Meulen ini digunakan sebagai dasar adanya sebuah kerajaan besar di Sumatra oleh Coedes. Setelah itu, sejumlah kegiatan penelitian arkeologi dilakukan di Bangka pada masa kemerdekaan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Palembang.
Penelitian arkeologi pertama kali dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1993 yang melaporkan adanya temuan benteng tanah di kawasan Situs Kota Kapur. Selain benteng tanah, penelitian juga berhasil mengidentifikasi reruntuhan candi, fragmen tembikar, keramik asing dan temuan yang dianggap cukup penting adalah temuan fragmen arca Wisnu yang berasal dari abad ke-6/7 Masehi. Tentu saja semua temuan tersebut memperkuat asumsi adanya permukiman pada masa Hindu-Buddha di Pulau Bangka. Penaklukan Bangka yang dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya juga diduga erat hubungannya dengan penguasaan jalur perdagangan dan pelayaran internasional di Selat Bangka.
Apalah artinya suatu tinggalan budaya masa lampau yang terdapat pada satu situs apabila tidak dimanfaatkan secara maksimal. Saat ini hanya kalangan tertentu saja yang dapat melihat dan mempelajari keberadaan tinggalan-tinggalan budaya masa lampau tersebut. Sementara itu masyarakat yang lebih luas hanya mendengar saja tanpa melihat tinggalannya. Paling-paling ketika berkunjung ke Kota Kapur masyarakat hanya melihat semak belukar dan rimbunan pohon saja, sedangkan benteng tanahnya apalagi artefak lepasannya tidak tampak.
Berangkat dari pemikiran tersebut, penulis mencoba me-review kembali buku Studi Mintakat dan Kelayakan Kawasan Situs Kota Kapur, terbitan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2010, artikel Dermaga Kuno di Situs Kota Kapur dan Analisis Pertanggalan Absolut, Balai Arkeologi Palembang, 2016 dan Selayang Pandang Situs Kota Kapur, BPCB Jambi, 2019, sebagai pengingat bahwa Kepulauan Bangka Belitung pernah begitu berjaya.
Tinggalan Kota Kapur
Pertama; Prasasti Kota Kapur adalah salah satu dari lima buah batu prasasti kutukan yang dibuat oleh Dapunta Hiyan, seorang penguasa dari Kadatuan Sriwijaya. Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu yang berbentuk tugu bersegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak. Batu kutukan ini ditulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Melayu kuno.
- Prasasti Kota Kapur I
Prasasti Kota Kapur adalah prasasti Sriwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada 29 November 1920, dan beberapa hari sebelumnya telah ditemukan Prasasti Talang Tuo pada 17 November 1920. Orang yang pertama kali membaca prasasti ini adalah Hendrick Kern, seorang ahli epigrafi berkebangsaan Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap Sriwijaya itu adalah nama seorang raja. Kemudian atas jasa Coedes, mulailah diketahui bahwa di Sumatra pada abad ke-7 Masehi ada sebuah kerajaan besar bernama Sriwijaya. Sebuah kerajaan yang cukup kuat menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Tanah Melayu, dan Thailand bagian Selatan. Sekarang prasasti ini disimpan di Museum Nasional Jakarta.
- Prasasti Kota Kapur II
Kedua; Prasasti Kota Kapur II ini ditemukan pada tahun 2015 oleh Supirman warga Desa Kota Kapur di wilayah Jangkar Desa Kotakapur. Prasasti dibuat dari bahan batu andesit berwarna abu-abu dan berbentuk dasar segitiga dengan ukuran panjang 26 cm, lebar 14,5 cm, tebal 8 cm. Prasasti menggunakan aksara peralihan aksara Pallawa akhir ke Sumatra kuno dan berbahasa Melayu kuno dari abad X-XI. Prasasti Kota Kapur II sekarang disimpan di kantor Pemerintah Kabupaten Bangka.
Ketiga; Fragmen berupa kepala dan badan berbahan granit dengan tinggi 19,5 cm. Terlihat pada bagian kepala arca mengenakan sebuah mahkota berbentuk silindris dengan ukuran yang cukup tinggi. Bagian tepi bawah mahkota tersebut seperti dilingkari tali yang bentuknya membulat dan rambut digambarkan menjurai di bagian tengkuk. Perhiasan yang dikenakan hanya sepasang hiasan telinga berbentuk seperti cincin.
- Arca Wisnu I
Arca Wisnu ditemukan hanya bagian kepalanya saja, maka untuk menentukan pertanggalannya dapat dilihat dari bentuk mahkotanya. Dari penggambaran bentuk mahkota tampak dipahat dalam gaya seperti arca-arca Wisnu dari Kamboja, yaitu pada masa seni pra-Angkor. Stutterheim berpendapat bahwa arca tersebut berasal dari abad ke-7 Masehi dengan alasan karena tempat ditemukannya sama dengan Prasasti Kota Kapur yang berangka tahun 686 Masehi. Berdasarkan bentuk mahkota dan tempat temuannya, maka arca Wisnu Kota Kapur dapat ditempatkan pada abad ke-6-7 Masehi. Arca Wisnu tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Keempat; Arca berbahan andesit dengan tinggi 33 cm, pada tangan sebelah kiri belakang tampak memegang sankha. Mahkota arca berbentuk silindris dan tampak semacam tali yang membulat melingkari bagian tepi bawah mahkota tersebut. Rambut arca terlihat menjurai di bagian tengkuk. Sebagai perhiasan dipakai sepasang hiasan telinga berbentuk seperti cincin.
- Arca Wisnu II
Unsur pertanggalan arca dilihat dari bentuk mahkotanya. Mahkota yang dipakai menunjukkan bahwa arca ini bergaya seperti arca-arca Wisnu dari Kamboja, yaitu pada abad ke 6-7 Masehi dimana periode tersebut merupakan masa seni pre-Angkor. Kemungkinan arca Wisnu tersebut yang mengikuti gaya arca masa seni pre-Angkor berasal dari abad ke 6-7 Masehi. Tempat penyimpanan arca saat ini di Balai Arkeologi Palembang.
- Arca Wisnu III
Kelima; Arca ini berdiri dengan posisi kaki sejajar pada sebuah lapik bujur sangkar. Di bagian bawah lapik tampak menonjol. Agaknya arca ini ditempatkan dengan cara ditanam pada bangunan. Pakaiannya berupa kain panjang yang menutup mulai dari bagian pinggang hingga pergelangan kaki dan di bagian tengah depan terlihat lipitan (wiru).
Sebuah mahkota berbentuk silindris tampak menghiasi kepala arca dan di bagian tengkuk tampak rambut yang menjurai. Perhiasan yang dipakai hanya sepasang hiasan telinga yang berbentuk seperti cincin dalam ukuran besar.
Terlihat dari penggambaran mahkota dan gaya pakaian yang dikenakan dapat dikatakan bahwa arca Wisnu ini dipahat dalam gaya seperti arca-arca Wisnu di Kamboja pada masa seni pre-Angkor. Sesuai dengan periode seni tersebut, maka diduga arca Wisnu dari Kota Kapur ini berasal dari abad ke 6-7 Masehi. Arca berbahan granit dengan tinggi 106 cm disimpan di Balai Arkeologi Palembang.
- Fragmen Kaki
Keenam; Fragmen Kaki berbahan batu dengan tinggi 27 cm. Dari fragmen tersebut tampak arca ini digambarkan berdiri di atas kepala kerbau yang memiliki tanduk. Kepala kerbau tersebut menghadap ke depan dan kedua telapak kaki arca berada di sisi kanan dan kiri kepala kerbau. Tidak ada ciri khusus dari fragmen arca ini yang dapat dijadikan sebagai penanda untuk mengetahui gaya dan pertanggalannya sehingga dalam upaya menempatkan arca pada pertanggalannya didasarkan pada tempat penemuan. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa fragmen tersebut dijumpai di situs yang sama dengan dengan arca Wisnu dari Kota Kapur, diduga fragmen kaki arca ini berasal dari periode yang sama pula, yaitu abad ke 6-7 Masehi.
- Runtuhan bangunan Situs Kota Kapur
Selain Arca Wisnu, ditemukan juga sebuah lingga yang bentuk puncak dan badannya bulat telur, dengan garis tengahnya berukuran sekitar 30 cm. Namun bagian bawah lingga sudah hilang (patah). Adanya lingga yang bentuknya bulat telur dan arca Wisnu dengan bentuk mahkota yang silindris menunjukkan kepada kita bahwa pada sekitar abad ke 5-6 Masehi di Kota Kapur telah ada sekelompok masyarakat yang beragama Hindu yang memuja Siwa atau lingga dan yang memuja Wisnu.
Runtuhan bangunan suci Situs Kota Kapur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 560x560 cm dengan tangga naiknya terdapat di sisi utara. Tinggi bangunan yang masih tersisa sekitar 50 cm. Jika melihat bentuk runtuhan bangunannya, diduga bangunan ini merupakan sebuah mandapa, yaitu sebuah bangunan suci yang tidak mempunyai dinding seperti halnya bangunan candi yang ditemukan di Jawa Tengah. Atau, dapat juga bangunan ini berupa sebuah bangunan suci yang bagian atasnya dibuat dari bahan yang mudah rusak (kayu).
- Runtuhan bangunan Kota Kapur
Pada jarak sekitar 50 meter ke arah barat laut dari bangunan pertama, terdapat runtuhan bangunan lain yang ukurannya lebih kecil. Bangunan ini berdenah bujur sangkar dengan ukuran 260x260 cm dan tinggi yang masih tersisa sekitar 20 cm. Sebagaimana halnya dengan bangunan pertama, bangunan ini juga dibuat dari bahan batu putih dan laterit. Di bagian tengahnya terdapat sebuah batu laterit warna merah yang bentuknya menyerupai sebuah bentuk lingga.
Menuju arah dinding utara dari batu tersebut terdapat susunan batu putih dengan indikator bekas saluran air yang berakhir pada tepi dinding utara. Di bagian bawah saluran ini terdapat sejumlah batu bulat pada tanah yang berlainan warna. Saluran ini difungsikan semacam soma sutra untuk mengalirkan air suci pada saat dilangsungkan upacara penyucian batu bulat tersebut.
Bukti-bukti arkeologis yang telah dipaparkan tersebut merupakan petunjuk bahwa sekurang-kurangnya sejak abad ke 6-7 Masehi di salah satu tempat di Pulau Bangka tinggal sekelompok masyarakat yang telah mengenal pengaruh budaya India dengan indikatornya berupa arca-arca batu dan runtuhan bangunan suci. Secara logika, tidak mungkin tiba-tiba ada pengaruh budaya asing yang masuk ke tempat tersebut tanpa ada daya tariknya.
Data arkeologis yang ditemukan di Situs Kota Kapur dapat memberikan interpretasi bahwa pada sekitar abad ke 5-6 Masehi di Kota Kapur terdapat sebuah kompleks bangunan suci bagi masyarakat penganut ajaran Hindu aliran Waisnawa. Kompleks bangunan tersebut dikelilingi oleh tembok tanah yang panjangnya sekitar 2,5 km dengan ukuran lebar dan tinggi sekitar 4 meter. Tampaknya di beberapa tempat di lingkungan tembok tanah tersebut terdapat hunian kelompok masyarakat pendukung bangunan suci tersebut.
Perbedaan pertanggalan antara prasasti (28 April 686) dan arca (abad ke 5-6 Masehi) dapat dijelaskan bahwa jauh sebelum ditaklukkan oleh Sriwijaya, Kota Kapur telah dihuni kelompok masyarakat yang menganut ajaran Hindu. Mungkin karena tempat tersebut dipandang strategis di tepi Selat Bangka, maka Sriwijaya menaklukkannya terlebih dahulu sebelum menaklukkan tempat lain sebagaimana tersirat pada kalimat: "pemahatannya berlangsung ketika bala tentara Sriwijaya baru berangkat untuk menyerang bhumi jawa yang tidak takluk kepada Sriwijaya". (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230404_reruntuhan_bangunan_situs_kota_kapur.jpg)