Rabu, 20 Mei 2026

Rahasia Penggemukan Limosin di Babel

Berkurban Sapi Limosin Kini Jadi Gaya Hidup dan Citra Sosial

Faktor gaya hidup dan citra sosial turut memberi pengaruh pilihan masyarakat terhadap sapi limosin untuk hewan kurban.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fitriadi
Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra
SAPI KURBAN PRESIDEN — Si Boy, nama sapi kurban dari Presiden RI, Prabowo Subianto untuk Kabupaten Bangka Barat yang berasal dari peternakan milik Hendri, peternak asal Desa Mislak, Kecamatan Jebus, Jumat (15/5/2026). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, tren permintaan hewan kurban premium seperti sapi Limusin dan Simmental diprediksi mengalami peningkatan.

Di balik tingginya minat masyarakat terhadap sapi berbobot jumbo tersebut, tersimpan peluang ekonomi besar bagi peternak, sekaligus tantangan serius terkait biaya produksi dan ketidakpastian pasar.

Momentum Idul Adha masih menjadi "musim panen" bagi peternak sapi premium. Hal itu tercermin dari tren peningkatan kebutuhan hewan kurban nasional yang terus tumbuh dibanding tahun sebelumnya.

Baca juga: 19 Bulan Jadi Rp110 Juta, Peternak Sapi Limosin Raup Untung Berlipat

Jika dibandingkan tahun 2025, permintaan sapi premium pada Idul Adha 2026 mengalami peningkatan yang signifikan.

Kementerian Pertanian mencatat proyeksi kebutuhan hewan kurban nasional naik 3,82 persen pada 2026, lebih tinggi dibanding kenaikan 1,98 persen pada 2025.

Foto ilustrasi sapi kurban Limosin di peternak Parit Lalang, Kota Pangkalpinang, Rabu (6/5/2026).
Foto ilustrasi sapi kurban Limosin di peternak Parit Lalang, Kota Pangkalpinang, Rabu (6/5/2026). (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

Meningkatnya kebutuhan tersebut mulai terasa di lapangan. Bahkan di sejumlah daerah, sapi Limusin dan Simmental telah banyak dipesan jauh hari sebelum Idul Adha berlangsung.

Baca juga: Sapi Limosin Bantuan Prabowo Untuk Warga Pangkalpinang Diawasi Ketat

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung, Darman Saputra mengatakan fenomena itu menunjukkan adanya pergeseran preferensi masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke atas, yang mulai melirik sapi premium untuk hewan kurban.

"Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap sapi jumbo, fenomena itu tidak semata-mata dilihat dari sisi ekonomi, melainkan juga perilaku sosial masyarakat," kata Darman Saputra kepada Bangkapos.com.

Menurutnya, pilihan terhadap sapi Limusin berukuran besar pada dasarnya tetap berangkat dari semangat ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial.

Namun dalam perkembangannya, faktor gaya hidup dan citra sosial turut memberi pengaruh terhadap pilihan masyarakat, terutama di kalangan tertentu.

Hewan kurban premium juga mulai dipengaruhi faktor gaya hidup dan citra sosial, terutama di kalangan menengah ke atas.

"Substansi utama ibadah kurban tetap terletak pada keikhlasan dan niat, bukan semata ukuran maupun harga hewan yang dipilih," kata Darman Saputra.

Di sisi ekonomi, kata Darman, bisnis sapi Limusin dinilai menawarkan margin keuntungan lebih besar dibanding sapi lokal.

Harga jual satu ekor sapi premium dapat mencapai puluhan juta rupiah, tergantung ukuran, bobot, dan kualitas ternak.

Margin keuntungan peternak sapi Limusin relatif lebih tinggi dibanding sapi lokal karena harga jual sapi premium dapat mencapai puluhan juta rupiah per ekor.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved