Berita Pangkalpinang
Alobi Foundation Evakuasi Trenggiling yang Masuk ke Rumah Warga
Dibantu mahasiswa KSDA Universitas Muhamadiyah Bangka Belitung, evakuasi dilakukan pada Selasa (4/3/2023) sekitar pukul 02.30 wib lalu.
Penulis: Rizki Irianda Pahlevy | Editor: khamelia
BANGKAPOS.COM,BANGKA - Alobi Foundation berhasil melakukan evakuasi terhadap satu ekor trenggiling yang masuk, ke rumah warga di daerah Kampung Jeruk, Kecamatan Pangkalanbaru.
Dibantu mahasiswa KSDA Universitas Muhamadiyah Bangka Belitung, evakuasi dilakukan pada Selasa (4/3/2023) sekitar pukul 02.30 wib lalu.
Founder Alobi, Langka Sani mengatakan untuk jenis trenggiling yang berhasil dievakuasi mempunyai nama latin Manis javanica.
"Trenggiling yang telah dievakuasi oleh Tim Alobi Foundation langsung dibawa ke PPS Alobi Babel, Kampoeng Reklamasi Timah Air Jangkang untuk dilakukan medical check up di Klinik PPS Alobi," ujar Langka Sani, Rabu (5/4/2023).
Pemeriksaan dilakukan, untuk melihat kondisi kesehatan trenggiling secara keseluruhan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik (sistem respirasi, digesti, ekstremitas) dan pemeriksaan laboratorium (feses).
"Apabila hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan hasil yang kurang bagus, maka akan dilakukan perawatan medis secara intensif. Namun, apabila hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan hasil yang bagus, maka akan segera dilakukan pengembalian trenggiling ke habitatnya bersama dengan BKSDA Sumsel," jelasnya.
Langka Sani mengungkapkan pengembalian ke habitatnya penting dilakukan, karena keberadaan satwa tersebut mempunyai peranan penting dalam menjaga keseimbangan alam dan ekosistem.
"Keberadaan trenggiling ini sangat penting terutama karena perannya, dalam mengendalikan populasi rayap dan semut di dalam hutan," ucapnya.
"Pengembalian trenggiling ke habitatnya merupakan salah satu upaya Alobi Foundation, untuk turut menjaga kelestarian hutan sebagai habitat satwa dan mendukung kegiatan konservasi," tambahnya.
Langka Sani berharap seluruh pihak dapat ikut menjaga kelestarian satwa, dengan tidak menangkap dan memburu satwa liar.
"Ini perlu dilakukan bersama untuk tidak merusak hutan sebagai habitat satwa, tidak memelihara satwa liar sebagai hewan peliharaan dan yang paling penting mendukung kegiatan konservasi," tegasnya.
Sementara itu untuk trenggiling merupakan, mamalia unik bersisik yang berasal dari famili Pholidota.
Sisik pada trenggiling berfungsi sebagai alat berlindung dari mangsa, namun saat ini menjadi ancaman karena menjadi target perburuan liar dan membawanya ke dalam status kritis.
Dijelaskan Langka Sani, trenggiling termasuk dalam ketegori Critically Endangered, oleh IUCN Red List of Threatened Species in 2019.
Trenggiling juga terdaftar dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti segala perdagangan terhadap spesies ini sangat dilarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230405-Alobi-foundation.jpg)