Tribunners
Guru Menulis, Wujud Pelestarian Budaya Intelektual
Guru seharusnya menjadikan budaya menulis sebagai suatu kebiasaan, karena profesi dan tugasnya yang selalu berhadapan dengan peserta didik di sekolah
Oleh: Redi Juniyadi, S.Sos. - Guru Bimbingan dan Konseling SMP Muhammadiyah Toboali
MENURUT Wikipedia, menulis adalah suatu aktivitas atau kegiatan untuk menuangkan sebuah ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pengetahuan ke dalam sebuah catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara (sistem penulisan). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2010), pengertian menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Adapun mengutip pendapat seorang ulama besar yaitu Imam Syafi'i, beliau mengatakan, menulis adalah alat untuk mengikat ilmu atau bacaan, ilmu ibarat binatang buruan dan cara mengikatnya dengan menulis. Statemen dari Imam Syafi'i tersebut mengisyaratkan bahwa kegiatan menulis sangatlah penting.
Pramoedya Ananta Toer dalam nasihatnya juga mengatakan; "Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Nasihat dari Pak Pram tersebut mengarah pada semangat dan keinginan pribadi untuk tetap abadi dalam ingatan sejarah.
Kegiatan menulis merupakan salah satu budaya intelektual yang saat ini agaknya kurang diminati oleh banyak orang. Bisa terlihat jika dibandingkan dengan budaya yang lain, kegiatan menulis peminatnya terbilang sedikit. Padahal apabila dirasakan kemanfaatannya, kegiatan menulis sangatlah penting, karena dengan tulisan kita dapat memberikan informasi kepada orang lain. Sesederhana apa pun kata atau kalimat yang dituliskan, tetap akan bermanfaat bagi yang sedang membutuhkannya.
Menulis pada esensinya adalah sarana komunikasi tepercaya yang mewakili pikiran penulis. Maka, dapat dikatakan bahwa menulis adalah proses mengungkapkan pikiran. Banyak orang yang menganggap menulis itu sulit, mengapa? Faktor yang mendasari anggapan demikian adalah karena kegiatan menulis tentunya membutuhkan keterampilan. Dalam hal ini keterampilan mengolah kata, memilih kata, serta keterampilan dalam menggabungkan atau mengaitkan kalimat yang satu dengan yang lain.
Jadi wajar apabila sekarang ini banyak orang termasuk tenaga pendidik (guru) yang mengalami kesulitan dalam membuat sebuah karya tulis misalnya jurnal, opini atau artikel. Sebagai ujung tombak pencerdasan dan pencetak generasi bangsa, suka tidak suka, mau tidak mau, seorang guru harus membiasakan diri untuk menulis. Dengan tulisan, guru dapat mengawetkan setiap pengetahuan sebagai warisan untuk generasi berikutnya. Terkesan aneh jika bekerja sebagai ujung tombak pencerdas bangsa, guru malah tidak mau menulis dengan alasan tidak berbakat menulis.
Memang benar, keterampilan menulis berada pada kasta tertinggi dalam tingkat kemampuan berbahasa, wajar saja jika tak semua orang mempunyai bakat menulis. Namun, sebagai keterampilan, semestinya kemampuan menulis dapat dipelajari. Lagi pula, seorang guru sebenarnya sudah pernah menulis, karena setiap guru baru akan berhak dinyatakan sebagai seorang guru setelah ia menulis, sekurang-kurangnya skripsi. Jadi, alasan tak berbakat menulis tak bisa dibenarkan, apalagi untuk seorang guru yang notabene sebagai pencerdas generasi bangsa.
Guru seharusnya menjadikan budaya menulis sebagai suatu kebiasaan, karena profesi dan tugasnya yang selalu berhadapan dengan peserta didik di sekolah. Membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkah. Bagaimana guru dapat membetulkan tulisan peserta didik, jika guru itu sendiri tidak mau menulis?
Maka seorang guru harus melengkapi keterampilan dirinya dengan berbagai macam pelatihan dan pendidikan, yang diharapkan dapat menciptakan hasil karya kreatif dan inovatif, bisa melalui berbagai macam cara, di antaranya mampu merancang berbagai macam ide berupa tulisan yang dibuat oleh guru itu sendiri yang intinya dengan tujuan pengajaran kepada peserta didik. Dengan guru gemar menulis, berarti guru telah menciptakan dan menggeliatkan program literasi, tidak hanya kepada peserta didik namun bagi guru itu sendiri, karena banyak sekali manfaat dari kegiatan menulis. Berikut alasan mengapa seorang guru harus menulis;
(1) Menulis dapat memberikan manfaat bagi orang lain, karena ilmu pengetahuan yang terkandung dalam tulisan bermanfaat untuk mencerdaskan pembacanya. Selain ilmu pengetahuan, melalui kegiatan menulis seorang guru bisa mewariskan pemikiran dan pengalaman kepada orang lain dan generasi masa depan.
(2) Menulis akan mengikat pengetahuan yang dimiliki oleh penulis itu sendiri. Dengan menulis, seorang guru dapat membuka kembali pemahamannya mengenai sesuatu yang ditulis dan mengembangkannya dengan lebih mudah. Tanpa ada tulisan, guru akan sulit mengembangkan materi bahan ajar dan pengetahuan yang dimilikinya.
(3) Memiliki wawasan luas, membaca dan menulis memiliki hubungan yang kuat. Jika seorang guru sudah memiliki kegemaran menulis dapat dipastikan ia adalah seorang yang suka membaca. Tentu saja keuntungannya adalah ketika rajin membaca akan memiliki pengetahuan serta wawasan yang luas.
(4) Menulis merupakan media yang sangat efektif untuk menemukan solusi dalam memecahkan masalah pendidikan atau berbagai permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini. Dalam hal ini, berkaitan dengan fungsinya sebagai pencerdas generasi bangsa.
(5) Kemampuan menulis yang dimiliki oleh seorang guru dapat menjadi motivasi tersendiri bagi peserta didik. Sosok penulis selalu identik dengan sesuatu yang positif dan orang hebat. Sebab kegiatan menulis bukan perkara mudah. Jika guru mahir dalam menulis dan mampu menghasilkan berbagai karya, guru tidak perlu lagi menggunakan kata-kata untuk memberikan motivasi kepada peserta didik. Apa yang dilakukan oleh guru tersebut akan menjadi motivasi dengan sendirinya bagi mereka.
(6) Memiliki kebiasaan menulis akan mendukung seorang guru hidup dengan produktif. Setiap tulisan yang dibuat, tentunya menghasilkan sebuah karya baru. Selagi menciptakan tulisan yang berguna, keahlian guru dalam menulis juga menemukan kemajuan. Waktu luang yang habis dengan menuangkan ide, lambat laun membentuk pemikiran yang kreatif dan peka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230415_Redi-Juniyadi-Guru-SMP-Muhammadiyah-Toboali.jpg)