Kamis, 16 April 2026

Kapan Cuaca Panas di Indonesia Berakhir? Begini Penjelasan BMKG

BMKG menegaskan bahwa penyebab suhu panas di Indonesia disebabkan karena adanya gerak semu Matahari.

Editor: Evan Saputra
Istimewa via Tribunnews.com
Cuaca panas ekstrem melanda sejumlah daerah di Indonesia dalam beberapa hari ini. 

BANGKAPOS.COM - Kapan Cuaca Panas di Indonesia Berakhir? Begini Penjelasan BMKG.

Banyak wilayah di Indonesia mengalami suhu panas pada beberapa waktu terakhir ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa penyebab suhu panas di Indonesia disebabkan karena adanya gerak semu Matahari.

Gerak semu Matahari merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun.

Potensi suhu udara panas seperti itu dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Lantas kapan suhu panas di Indonesia mencapai puncak dan kapan suhu panas tersebut akan berakhir?

Penjelasan BMKG

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa Indonesia berada di wilayah tropis, di mana sepanjang tahun suhu temperatur rata-ratanya adalah 25 derajat Celsius di pagi hari dan 33-34 derajat Celsius di siang hari.

Walaupun demikian, ada dua periode dalam satu tahun ketika Matahari melintas dan mendekati Khatulistiwa.

"Sebagai efeknya, misal ketika Matahari melintasi mendekati khatulistiwa pada akhir Maret, maka dua bulan berikutnya yaitu April dan Mei suhu atau temperatur di sekitar wilayah Indonesia itu akan naik dan terasa lebih panas," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (28/4/2023).

"Namun memang ada jedanya dan tidak naik secara langsung. Itu kalau kita sebut adalah salah satu akibat dari gerak semu Matahari," sambungnya.

Ia menyampaikan bahwa biasanya Matahari akan melintas di khatulistiwa pada Maret dan September setiap tahunnya.

"Jadi, periode panas yang dirasakan sekarang di Indonesia akhir-akhir ini adalah konsekuensi dari gerak semu Matahari yang berlangsung biasanya pada April dan Mei setiap tahunnya yang berakibat pada temperatur suhu menjadi lebih hangat dari biasanya," tandasnya.

Dampak dari adanya suhu panas tersebut yakni masyarakat jelas lebih merasa gerah. Hal tersebut terjadi karena suhu cuaca menjadi sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Selain itu, gerah yang dirasakan oleh masyarakat juga terjadi karena uap air dari transisi musim hujan ke musim kemarau.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved