Tribunners
Merindukan Kejayaan Sepak Bola di Pulau Timah
Sepak bola di Pulau Timah, khususnya Kota Pangkalpinang, pernah berkibar dan mencapai masa keemasannya pada kurun waktu 1980 hingga 2000
Oleh: Irwanto - Pranata Humas Pemprov Babel
MASYARAKAT, khususnya penggemar sepak bola, kini dilanda kegembiraan setelah Indonesia meraih medali emas dalam ajang SEA Games 2023 di Kamboja. Di partai final, Garuda Muda berhasil mengalahkan Thailand dengan skor 5-2.
Tak bisa dimungkiri sepak bola merupakan olahraga favorit dan paling bergengsi. Hal ini juga berlaku di Pulau Bangka atau Pulau Timah, termasuk Kota Pangkalpinang. Di Pulau Bangka, sepak bola pernah menjadi ajang terbesar yang ditunggu-tunggu masyarakat.
Sepak bola di Pulau Timah, khususnya Kota Pangkalpinang, pernah berkibar dan mencapai masa keemasannya pada kurun waktu 1980 hingga 2000. Waktu itu lapangan sepak bola utama adalah Lapangan Merdeka (kini Alun-alun Taman Merdeka) yang terletak di jantung kota. Adapun tim sepak bola Kota Pangkalpinang saat itu adalah Persatuan Sepak Bola Pangkalpinang dan Sekitarnya (PS Persipas).
Salah satu mantan pemain PS Persipas Pangkalpinang masa itu adalah Suhaimi Fadli alias Gimin. Pria berkulit putih, kelahiran Mentok, 14 Maret 1961, ini bahkan dijuluki legenda sepak bola Pulau Bangka.
Menurut Gimin, waktu itu sepak bola di Kota Pangkalpinang sangat bergairah. Apalagi Lapangan Merdeka sebagai lapangan sepak bola sangat strategis letaknya sehingga setiap ada turnamen pasti dibanjiri penonton. Pada masa itu memang turnamen atau kejuaraan sangat banyak dan rutin digelar. Para pemain juga lumayan bagus-bagus karena ditunjang skill dan fisik yang bagus.
Gimin sendiri waktu itu sering memperkuat PS Wilasi PT Timah yang merupakan klub sepak bola papan atas di Pulau Bangka dengan pelatihnya Yusuf Masdar. Selain Gimin, ada pemain terkenal PS Wilasi lainnya dan menjadi idola penggemar sepak bola. Mereka, antara lain, Hendrik, Ataw, Usman Jalok, Birin, Kadir, dan dua bersaudara Lendra dan Pang. Tak hanya para pemain PS Wilasi, ada juga pemain terkenal lainnya. Mereka di antaranya Zakaria alias Jakar Opas, Gabeng dan Samsul dari PS Kutilang serta Sugiman, Polan, dan Hendra dari PS Sosba Semabung.
Lantaran turnamen rutin digelar, maka pada 1981 Persipas Pangkalpinang yang diperkuat Gimin sebagai gelandang pernah lolos tingkat Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) pada ajang Piala Suratin sebelum akhirnya kandas saat berlaga di Pulau Jawa. Namun, beberapa tahun kemudian, yakni 1987, Persipas Pangkalpinang akhirnya berhasil melaju ke partai final Piala Suratin yang digelar di Stadion Utama Senayan Jakarta. Sayangnya impian Persipas menjadi juara kandas akibat gol tunggal pemain Persiss Sorong Martinus Konjol di menit ke-17 itu tak mampu dibalas pemain Persipas asuhan pelatih Binsar Tambunan.
Namun, suksesnya Persipas menembus partai final yang berlangsung pada 22 Maret 1987 itu membuat masyarakat Pulau Timah bangga dan sepak bola kian bergairah. Para pemain Persipas yang telah menorehkan sejarah itu, antara lain, Benswar, Salahuddin, Edy Yuswanto, Subandari alias Leho, Eddy Afrianto, Yuri Irsano (kini pegawai Pemprov Babel), Cong Hong Mui, Syamsu, Roddy Effendi, Powan Ngadi, Rasito, dan Elly Karim.
Lantaran memiliki sejumlah pemain yang bertalenta tinggi, maka tak heran waktu itu banyak pemain Persipas yang dilirik klub-klub besar. Termasuk Gimin yang pernah mendapat tawaran bermain di liga nasional bersama PS Arseto Solo sekitar tahun 1980-1981.
Bahkan, Gimin pernah terpilih menjadi pemain PSSI Yunior. Pada Desember 1980 ,Gimin muda pernah tampil membela Indonesia pada ajang Asian Youth Football Tournament yang digelar di Filipina. Selain Gimin, pemain lainnya yang memperkuat PSSI ada Ricky Yacob, Edy Harto, dan Freddy Muli. Sayangnya langkah PSSI harus terhenti setelah dikandaskan Korea Selatan.
Uniknya di usia yang mulai senja, Gimin masih terus bermain sepak bola. Bahkan pensiunan PNS Pemkot Pangkalpinang ini masih sempat memperkuat PS Pemkot Pangkalpinang di beberapa turnamen umum. Bagi Gimin, sepak bola sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Setelah angkatan Gimin, bermunculan pula para pemain sepak bola yang terkenal. Bahkan sebagian pernah mengikuti jejak Gimin sebagai pemain nasional atau PSSI. Mereka, antara lain, Supardi Nasir dan Rasito (Persib Bandung/PSSI), Buyung Ismu (Pelita Jaya), Powan Ngadi (Pelita Jaya), Salahuddin (Barito Putra), dan Leo Saputra (Persija).
Kepada kalangan generasi muda atau pemain sepak bola masa sekarang, Gimin berpesan hendaknya selalu berlatih keras dan dilakukan secara rutin, termasuk latihan fisik secara mandiri, juga memiliki disiplin tinggi. Soal skill itu bisa dipoles seiring waktu berjalan.
Tentunya harapan Gimin menjadi harapan semua masyarakat pencinta sepak bola. Sudah lama masyarakat merindukan kebangkitan dan kejayaan sepak bola di Pulau Timah seperti dahulu. Yo, kite bangkitkan sepak bola Babel. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210118_irwanto-pranata-humas-pemprov-babel.jpg)