Tribunners

Refleksi Paskah dan Kelahiran Pancasila

refleksi Paskah memancarkan nilai-nilai atas kelahiran Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan

Editor: suhendri
ISTIMEWA
Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd. (kiri) dan Dr. Bramastia, M.Pd. (kanan) 

Oleh : Prof. Dr. Leo Agung S, M.Pd. (Kepala Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) UNS Surakarta) dan Dr. Bramastia, M.Pd. (Peneliti Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) UNS Surakarta)

REFLEKSI Paskah tentu menjadi salah satu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan iman Kristen/Katolik. Pada hari Paskah, gereja di seluruh dunia merayakan kemenangan Kristus akan maut. Hari raya Paskah menjadi puncak dari Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci) umat Kristen/Katolik. Umumnya orang mengenal Paskah sebagai hari Kebangkitan Isa Almasih. Dahulu kala, orang Ibrani merayakan Paskah sebagai bentuk peringatan akan peristiwa penebusan bangsa Israel dari tanah Mesir. Kini, Paskah bagi orang Kristen/Katolik dimaknai sebagai pembebasan manusia dari perbudakan dosa.

Masa sebelum Paskah dikenal dengan masa Prapaskah. Masa Prapaskah adalah masa 40 hari bagi umat Kristen/Katolik merupakan masa mempersiapkan perayaan Paskah. Paskah merupakan puncak karya keselamatan Allah pada manusia; melalui sengsara, wafat dan kengkitan Yesus Kristus, umat manusia diperdamaikan kembali dengan Allah, sesama dan alam ciptaan-Nya. Masa Prapaskah menjadi kesempatan yang baik bagi umat Kristen/Katolik untuk membangun pertobatan dalam menanggapi rahmat perdamaian Allah. Masa Prapaskah menjadi masa pertobatan bagi umat Kristen/Katolik untuk meninggalkan dosa (larangan-larangan ajaran Gereja) dan berdamai kembali dengan Allah, sesama dan ciptaan-Nya (Panduan Umat Lingkungan, 2023).

Masa Pra-Paskah diawali dengan Rabu Abu, yakni umat Kristen/Katolik menerima abu dan oleh abu ingatkan kembali akan kerapuhan manusia di hadapan Tuhan. "Menang jadi arang, kalah jadi abu" merupakan peribahasa lama yang mengingatkan kepada kita semua bahwa pertengkaran, perselisihan, perseturuan yang tidak terkendali akan berujung pada kehancuran bagi semuanya. Demikian juga dosa dan kesalahan yang kita lakukan, akan membawa pada kehancuran. Dengan demikian, masa Prapaskah sekaligus sebagai retret agung umat agar umat kembali dekat dengan Tuhan dan mengasihi sesama serta alam ciptaan-Nya.

Panitia Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Semarang (APP KAS) tahun 2023 mengambil tema "Tinggal dalam Kristus, Hadirkan Damai bagi Sesama dan Alam Ciptaan". Dengan tema ini diharapkan umat dapat mengolah dan melaksanakan olah rohani, mati raga, dan bersedekah. Olah rohani adalah berdoa, mendengarkan Sabda Tuhan, mengikuti sarasean Prapaskah, mengikuti perayaan Ekaristi dan lain-lain yang akan membuat umat makin mudah bersyukur. Mati raga adalah tindakan berpantang dan berpuasa untuk membangun empati yang menderita atau berkekurangan. Bersedekah adalah tindakan memberi (mempersembahkan sejumlah dana) melalui kotak APP dari penghematan biaya makan atau pantang dan puasa yang dilakukan umat untuk sesama utamanya yang lemah, kecil, miskin, tersingkir, dan difabel (Panitia APP, 2023).

Makna Puasa bagi Umat Kristen/Katolik

Puasa sebagai pancaran mati raga bagi umat Kristen/Katolik memiliki makna, antara lain : (1) Wujud perendahan diri di hadapan Tuhan, manusia sebagai ciptaan-Nya, maka ketika berpuasa umat sedang merendahkan diri di hadapan Tuhan. (2) Puasa adalah lambang penyesalan dan pertobatan. Umat yang sedang berpuasa menyesali atas segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan dan sesama serta melakukan pertobatan. Mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang dilakukan dan membangun niat, membangun diri untuk tidak mengulangi dosa dan kesalahannya serta berusaha untuk melakukan yang terbaik di hadapan Tuhan dan sesama. (3) Puasa menjadikan umat peka dengan "suara" Tuhan melalui Firman-Nya yang dibaca dan direnungkan. (4) Puasa untuk menyatakan rasa terima kasih yang mendalam atas berkat-Nya selama ini dalam hidup kita, dan (5) Puasa membuat tubuh kita lebih disiplin dari keinginan duniawi karena tentu ketika berpuasa kita harus belajar menyangkal diri dari semua keinginan yang biasa kita lakukan.

Puasa dan Kelahiran Pancasila

Puasa sebagai salah satu pelaksanaan APP - mati raga yang dilakukan umat Kristen/Katolik merupakan pancaran nilai dari sila pertama Pancasila yaitu "Ketuhanan Yang Maha Esa". Di dalam konteks kehidupan kebangsaan, puasa merupakan ritus yang selaras dengan falsafah Pancasila, karena di dalamnya tidak terlepas dari aspek teologis dan humanitas. Teologis menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhan (mantu), dan humanitas menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan (manman) bahkan manusia dengan lingkungan ciptaan Tuhan (manling) (Leo Agung S., 2020).

Lebih jauh, puasa dapat menjadi katalisator pembelajaran dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila. Jika dikaitkan dengan spirit APP, sesungguhnya antara puasa dan Pancasila mempunyai hubungan sangat erat yang tertuang dalam kelahiran atas lima dasar Pancasila.

Pertama, puasa merupakan pancaran dari keinsafan manusia di dalam menjalankan ajaran Tuhan. Pancasila mengamanatkan kepada manusia Indonesia agar memegang teguh agama dan melaksanakan ajarannya secara sadar dan penuh keikhlasan. Adanya laku keimanan ini menandakan telah terbukanya jiwa manusia pancasilais, dalam hal ini tampak bahwa sesungguhnya laku keimanan melalui puasa ialah pengukuhan kesadaran yang dalam akan kehadiran Tuhan. Kesadaran inilah yang melandasi ketakwaan dan membimbing seseorang ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji setelah seorang menahan dirinya dari lapar dan haus selama 40 hari penuh.

Kedua, puasa mencerminkan hubungan kemanusiaan yang egaliter, persamaan derajat pada setiap manusia. Hal ini merupakan cerminan sila "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Setiap manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan Tuhan tanpa membedakan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku, ras, golongan, dan sebagainya. Dengan demikian, puasa bukan sekadar ritus menahan haus dan lapar semata, melainkan lebih dari itu, yakni untuk membentuk manusia yang peka terhadap realitas sosial sesuai dengan harkat dan martabatnya. Selain itu, puasa menebarkan cinta kasih kepada sesama umat manusia adalah sebuah tindakan yang bernilai kemanusiaan tinggi karena setiap manusia mendambakan kedamaian di dalam hidupnya.

Ketiga, puasa dapat memancarkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini misalnya dapat kita saksikan dan rasakan saat adanya umat lingkungan melaksanakan sarasean APP di wilayah-wilayah atau di lingkungan-lingkungan. Memang tak dapat dimungkiri bahwa dengan beragamnya pembedaan sosial yang sangat plural di masyarakat, rentan terjadinya konflik. Namun, hal itu tidak akan menjadi runcing manakala yang dicari adalah simpul persamaan dan bukan perbedaan sehingga satu sama lain saling mengenal dan dapat menjaring persatuan nasional. Realitas kekinian yang menjadi ujian bangsa ini seperti adanya ujaran kebencian, permusuhan, aksi kekerasan, dan gesekan sesama anak bangsa, maka dalam momentum APP ini sepatutnya diakhiri.

Keempat, puasa menghadirkan nilai-nilai kebijaksanaan yang diimplementasikan dalam menangani persoalan-persoalan masyarakat dan kebangsaan. Contoh kecil dalam pertemuan APP dibahas masalah "sampah", bagaimana umat dalam mengelola sampah. Dalam sarasean ada titik temu umat wilayah atau lingkungan agar dapat mengelola sampah dengan baik, agar lingkungan kita menjadi bersih dan kita semua sehat.

Bahkan ada beberapa RT dan RW yang telah dibentuk tim pengelola sampah termasuk di Desa Pucangan, khususnya RT 02 RW 07 Pucangan, Kartasura, Sukoharjo telah terbentuk pengurus pengelolaan sampah dipimpin oleh seorang Dirjen Sampah. Dengan adanya pengumpulan sampah secara rutin oleh warga masyarakat ini, berarti lingkungan menjadi bersih dan warga mendapat uang dan sehat.

Sumber: bangkapos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved