Tribunners
Bangkit dari Keterbelakangan
Seorang penulis yang baik akan sanggup menyerap realitas kehidupan sehari-hari di tengah masyarakatnya
Oleh: Mu'min Roup - Dosen Fakultas Hukum dan Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta
DI kampung saya ada balai desa yang dilengkapi taman dan lapangan bulu tangkis. Bangunan taman didirikan beberapa tahun lalu, tetapi lapangan bulu tangkis yang lebih dahulu ada di situ, konon sudah didirikan sejak 40 tahun lalu. Itu artinya, pengabdian lapangan bulu tangkis itu untuk digunakan masyarakat bermain badminton, sudah mencapai empat dasawarsa sejak saya menduduki bangku kelas 5 SD.
Yang menjadi persoalan, mengapa hingga hari ini belum ada satu orang pun dari masyarakat desa kami yang menjadi pemain besar bulu tangkis yang ternama, minimal juara provinsi. Mereka tetap saja jadi pemain kelas kampung, meskipun jam latihan mereka sudah melebihi 10 ribu jam dalam bermain bulu tangkis setiap harinya.
Konon menurut para juara, seorang calon pemenang harus berlatih terus-menerus serta memiliki tujuan yang spesifik. Para juara tenis meja, tidak sekadar memainkan bola pingpong di atas meja. Dia memegang bet yang benar, berlatih mengayunkan dan menepuk bola dengan baik, dari tepukan servis, backhand hingga smash. Dia menempatkan diri dalam posisi kaki yang benar, keseimbangan tubuh dan gerakan tangan. Bahkan berlatih untuk memberi perhatian khusus pada kekurangan dan kelemahan yang dimiliki, untuk terus memacu kemampuannya mengoreksi kelemahan tersebut.
Di sisi lain, kebanyakan para juara tentu memiliki seorang pelatih yang terus mengarahkan peningkatan kemampuan dirinya dalam berlatih. Ia mencatat poin-poin terpenting, memberi masukan agar sang pemain memahami aspek-aspek spesifik hingga makin lincah dan mahir. Terus menggenjot aspek tertentu yang masih belum dikuasai secara optimal, agar makin ditingkatkan dan dipertajam kualitasnya.
Demikian halnya dengan dunia literasi dan tulis-menulis. Meskipun ratusan dan ribuan artikel maupun karya sastra diproduksi tiap hari oleh anak bangsa ini, tetapi selalu saja kita jumpai tulisan-tulisan dangkal, kopong karakter, karena sang penulis tak mampu merangkai kata dan kalimat yang menukik tajam, punya kepekaan dan kepedulian yang mumpuni. Apakah sang penulis malas dan jarang menghasilkan karya? Tentu saja dia menulis setiap hari, apalagi mereka yang berstatus sebagai jurnalis, wartawan, maupun sastrawan.
Penulis seperti itu kurang lebih sama dengan pemain pingpong atau bulu tangkis di kampung saya tadi. Padahal, mereka turun lapangan setiap hari, bahkan bermain bulu tangkis sejak umur SD dan TK. Tetapi, ya hanya sebatas bermain bulu tangkis. Itu saja.
Bagi penulis kampung yang mengasah pikirannya, mereka juga sering kali berdebat dan berdialog dengan teman-teman sekampungnya di gardu ronda. Bahkan, tidak jarang yang berdebat sengit, saling beradu argumen tentang pemihakan politik yang makin mempertajam ranah kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.
Seorang penulis yang baik akan sanggup menyerap realitas kehidupan sehari-hari di tengah masyarakatnya, mengambil jarak dari keriuhan dan kegaduhan mereka, untuk dituangkan ke dalam kanvas kehidupan yang konkret di atas kertas. Ia mampu mentransformasikan ide dan gagasannya, yang boleh jadi penulisnya berada di tengah keriuhan masyarakat perkampungan, tetapi pikirannya sudah melanglang buana dan mengatas indra. Pandangannya berada di atas satelit, memantau kehidupan para tokohnya, tanpa pernah terkecoh untuk masuk kembali ke ranah pikiran kelas kampung maupun DNA kaum inlander yang termarginalkan.
Pada prinsipnya, menulis yang baik kurang lebih sama dengan melukis dengan kata dan kalimat yang indah. Ia memilih kata dan menuangkan gagasan brilian ke dalam kertas (atau layar komputer), untuk tujuan memperlihatkan lukisan-lukisan kalimatnya kepada pembaca yang segmen pasarnya tak peduli orang kampung, orang metropolitan, maupun warga kelas dunia. Boleh saja dia ikut ngeriung atau tahlilan bersama warga kampungnya. Boleh saja dia mengamati setiap mazhab atau aliran tarekat di kampungnya, baik Tijaniyah, Naqsyabandiyah, Syiah, Wahabiyah, Ahmadiyah, dan seterusnya. Tanpa harus menjerumuskan diri menjadi penganut yang fanatik dari suatu mazhab dan aliran agama tertentu.
Terkait dengan ini, saya teringat petuah sang maestro sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pada acara peluncuran buku 100 Tahun Bung Karno di gedung kesenian Taman Ismail Marzuki, Jakarta (2001). Setelah menerbitkan novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa oleh penerbit Hasta Mitra, Pramoedya mengakui bahwa beberapa karya yang pernah ditulisnya sewaktu muda adalah "karya sampah". Ia tidak menyebutkan buku yang manakah yang disebutnya sebagai karya sampah. Mungkin yang dia maksudkan, ada beberapa karyanya yang sudah tidak relevan lagi sebagai bacaan anak-anak muda masa kini.
Di antara penulis-penulis yang mengagumi pemikiran politik Bung Karno dalam buku 100 Tahun Bung Karno tersebut, terdapat karya Noam Chomsky, Peter Dale Scott, Ben Anderson, Hafis Azhari, Fransisca Fanggidaej. Pramoedya tidak ketinggalan menampilkan karyanya yang brilian, dalam sebuah esai berjudul: "Semua Lawan Bung Karno Sekarang Terseret ke Meja Mahkamah Sejarah".
Kalau saja para pelukis besar Indonesia sanggup melatih diri dalam aspek-aspek spesifik untuk menjadi pelukis kelas dunia, mestinya para penulis juga memfokuskan diri dalam aspek-aspek tertentu, hingga mereka memahami kelebihan dan kekurangannya di dunia tulis-menulis. Pada titik tertentu, mereka akan berani bersikap legawa seperti halnya Pramoedya yang tidak perlu ragu melemparkan karya-karya masa lalunya ke keranjang sampah, daripada tetap ngotot agar karyanya diterbitkan meskipun sudah tidak ada relevansinya untuk perkembangan pikiran dan perasaan anak-anak muda zaman now.
Coba bandingkan dengan pemain pingpong, pemain bulu tangkis di kampung saya, atau pemain catur yang nongkrong tiap malam di gardu ronda. Apa bedanya penulis macam itu, dengan para pengamen jalanan yang rajin bermain gitar setiap hari, tanpa pernah mau memahami aspek-aspek spesifik untuk mengasah otaknya agar menjadi gitaris atau musisi andal.
Atau, apa bedanya dengan para petani yang rajin menanam padi sepanjang tahun, tanpa pernah berpikir untuk mengembangkan kemampuan dirinya sebagai petani yang berhasil menemukan teori dan sistem penanaman padi yang berkualitas, dengan kandungan butir padi yang melimpah pada setiap batangnya. Hingga bangsa yang hidup di negeri subur makmur loh jinawi ini, tidak serta-merta menjadi pengimpor yang setia dari negeri Cina dan Vietnam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230605_Mumin-Roup-Dosen-UIN-Syarif-Hidayatullah.jpg)