Tribunners
Bahayakah Artificial Intelligence bagi Dunia Pendidikan?
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memiliki potensi besar untuk mengubah dunia pendidikan dengan cara yang signifikan
Oleh: Eki Piroza, S.Pd. - Guru SMPN 3 Kelapa Kampit Belitung Timur
SEBAGIAN besar dari kita mungkin memiliki media sosial sebut saja beberapa seperti Facebook, Twitter, TikTok, Instagram, YouTube dan masih banyak yang lainnya. Sebagai ''user'' terkadang saya kagum sekaligus heran dengan cara kerja media sosial (algoritma), di mana kecanggihan tersebut bisa membaca kesukaan dan pilihan kita berdasarkan kebiasaan yang kita lakukan ketika menjelajah di internet. Hal itu dibuktikan dengan tampilan di beranda kita yang disuguhkan dengan FYP (For Your Page), secara otomatis mengarahkan kita terhadap kecenderungan kita selama ini. Setelah saya lakukan penelusuran, cara kerja ini ternyata menggunakan artificial intelligence (AI).
Laporan dari website We are Social yang berada di New York, US, di mana baru-baru ini menunjukkan laporan survei digital global 2023 yang telah dilakukannya dengan Meltwater sebagai mitra dalam membantu merancang laporan tersebut. Dalam laporan tersebut menunjukkan beberapa laporan dari berbagai dunia, salah satunya Indonesia. Dilaporkan pada survei tersebut, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia pada Januari 2023 sebanyak 167 juta orang. Jumlah itu setara dengan 60,4 persen dari populasi di Indonesia. Angka yang sangat fantastis dan menarik untuk dikaji. Namun, pada tulisan ini bukan itu yang ingin saya bahas, melainkan tentang artificial intelligence dan dunia pendidikan.
Sejarah AI dan Perkembangannya
Sejarah kecerdasan buatan (AI) dapat ditelusuri kembali ke tahun 1950-an ketika para peneliti mulai merintis bidang ini. Berikut adalah beberapa tonggak penting dalam sejarah AI. Awal perkembangan AI (1950-an hingga 1960-an). Pada tahun 1950, Alan Turing mengajukan pertanyaan "Apakah mesin dapat berpikir?" dalam makalahnya yang terkenal.
Pada tahun 1956, konferensi Dartmouth diadakan, di mana istilah "kecerdasan buatan" pertama kali digunakan dan para peneliti mendiskusikan kemungkinan pengembangan sistem komputer yang dapat meniru kecerdasan manusia. Pada tahun 1956 juga, John McCarthy memperkenalkan istilah "kecerdasan buatan" dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan AI. Pada tahun 1958, John McCarthy mengembangkan bahasa pemrograman AI bernama LISP.
Kemudian, lompat ke perkembangan terkini (2010-an hingga saat ini). Pada tahun 2011, IBM mengembangkan Watson untuk digunakan dalam aplikasi medis, membantu diagnosis penyakit. Pada tahun 2014, Google mengumumkan pengembangan sistem AI berbasis jaringan saraf yang disebut "Google Brain" yang mampu memahami konten gambar secara mandiri. Pada tahun 2016, AlphaGo, program komputer yang menggunakan pembelajaran mesin dan jaringan saraf, mengalahkan juara dunia Go, Lee Sedol. Pada tahun 2018, munculnya asisten suara pintar seperti Amazon Alexa, Google Assistant, dan Apple Siri makin mempopulerkan penggunaan.
Penggunaan AI di Berbagai Negara
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) telah meluas di berbagai negara. Berikut adalah beberapa contoh penggunaan AI di beberapa negara.
(1) Amerika Serikat merupakan salah satu pemimpin utama dalam pengembangan dan penerapan AI. Berbagai perusahaan teknologi besar seperti Google, Amazon, dan Microsoft memiliki pusat riset AI dan mengintegrasikannya ke dalam produk dan layanan mereka. AI juga digunakan dalam sektor keuangan, kesehatan, otomotif, pertahanan, dan lain-lain.
(2) China adalah negara lain yang sangat aktif dalam penggunaan dan pengembangan AI. Pemerintah China telah menetapkan visi jangka panjang untuk menjadi pemimpin dunia dalam AI pada tahun 2030. China menggunakan AI dalam berbagai bidang seperti kecerdasan bisnis, kendaraan otonom, sistem pengawasan, dan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat AI bagi Dunia Pendidikan
Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memiliki potensi besar untuk mengubah dunia pendidikan dengan cara yang signifikan, bahkan bisa dikategorikan revolusioner. Berikut ini adalah beberapa manfaat AI dalam dunia pendidikan berdasarkan beberapa sumber yang saya dapatkan.
* Personalisasi pembelajaran. Artificial intelligence dapat membantu menyediakan pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan adaptif. Dengan mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kemampuan, preferensi, dan gaya belajar siswa (hal ini sangat cocok terutama dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka/asesmen diagnostik). Kemudian AI juga dapat menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu. Hal ini memungkinkan setiap siswa mendapatkan pengalaman belajar yang dioptimalkan dan memaksimalkan potensinya.
* Memberikan pembelajaran berbasis pengalaman. Melalui teknologi seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR), AI dapat menciptakan pengalaman belajar yang imersif dan interaktif. Siswa dapat berpartisipasi dalam simulasi realistis yang memungkinkan mereka untuk menjelajahi konsep-konsep abstrak, tempat-tempat yang jauh, atau situasi nyata dalam lingkungan yang aman dan terkontrol.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20230714_Eki-Piroza-Guru-SMPN-3-Kelapa-Kampit.jpg)