Senin, 27 April 2026

Soal Sultan Rifat Korban Terjerat Kabel Optik Antasari, Bali Tower Diminta Mahfud MD Lebih Manusiawi

Mahfud MD minta Bali Tower lebih manusiawi pada Sultan Rifat Alfatih, korban terjerat kabel optik menjuntai di Jalan Pangeran Antasari.

Penulis: Dedy Qurniawan CC | Editor: Hendra
Warta Kota
kolase Foto Sultan Rifat, korban terjerat kabel optik Bali Tower yang menjuntai di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan. 

BANGKAPOS.COM - Nasib Sultan Rifat Alfatih, korban terjerat kabel optik milik Bali Tower di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan kini jadi sorotan dan perhatian banyak pihak.

Sultan Rifat adalah mahasiswa Universitas Brawijaya yang jadi korban terjerat kabel optik menjuntai milik Bali Tower di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan.

Akibat terjerat kabel optik Bali Tower itu, tenggorokan Sultan Rifat lepas dan mengakibatkan dirinya susah, makan, bernapas dan berbicara selama hampir tujuh bulan belakangan.

Sorotan dan perhatian kian datang dari berbagai pihak setelah Sultan Rifat Alfatih bersurat ke Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD.

Isi Surat Sultan Rifat ke Jokowi dan Mahfud MD

Isi surat itu menggambarkan bagaimana pilunya keadaan Sultan Rifat.

Berikut isi suratnya:

Assalamualaikum Wr Wb

Kepada Yth
Bapak Joko Widodo selaku Presiden Republik Indonesia
Bapak Mahfud MD selaku Menko Polhukam RI

Selamat siang, nama saya Sultan Rif’at Alfatih. Saya adalah mahasiswa Fisip Universitas Brawijaya, Malang. Usia saya saat ini 20 tahun

Kondisi saya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Saya adalah korban kecelakaan akibat kabel fiber optic yang menjuntai yang berlokasi di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan pada tanggal 5 Januari 2023

Atas akibat dari kecelakaan tersebut, saya sampai saat ini makan dan minum melalui selang NGT Silikon yang dimasukkan ke dalam hidung saya yang setiap sebulan sekali harus saya ganti.
Area tenggorokan saya mengalami kerusakan parah yang mengakibatkan rusaknya saluran makan dan saluran pernafasan saya. Akibatnya, menelan air ludah pun saya tidak bisa lakukan, sehingga setiap 2 menit sekali saya harus mengeluarkan air liur saya dan setiap kali saya ingin tidur saya harus menyedot air liur beserta lendir yang masuk ke saluran pernafasan saya dengan menggunakan mesin sedot.

Kepada Pak Jokowi dan Pak Mahfud MD, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada bapak-bapak sekalian. Saya ingin cepat sembuh, dan diobati secepatnya, karena saya sendiri sudah tidak kuat berlama-lama lagi di kondisi seperti ini. Karena saya sudah ingin kembali produktif, kembali kuliah, dan bisa melanjutkan aktivitas saya layaknya manusia normal. Saya ingin pihak yang bersangkutan segera bertanggungjawab atas kelalain yang sudah dilakukan sehingga membuat saya seperti ini kondisinya.

Saya ingin secepatnya kasus ini diakhiri dengan mendapatkan keadilan seadil-adilnya bagi saya dan keluarga agar kami tidak menjadi konsumsi publik lagi. Saya ingin pihak yang bersangkutan melihat data dan fakta yang terjadi sebenarnya seperti apa agar proses Decision Making, negosiasi dengan keluarga saya bisa berjalan dengan objektif, adil, dan tidak merugikan saya dan keluarga saya.

Demikian surat ini saya buat dengan sejujur-jujurnya. Harapan saya adalah dengan adanya surat ini dapat dibaca dan menjadi perhatian bagi Pak Jokowi dan Pak Mahfud MD.

Bintaro, 2 Agustus 2023

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved