Kamis, 9 April 2026

Begini Nasib 15 Perawat dan Bidan yang Terlibat Kasus Bayi Tertukar di Bogor

Kasus bayi tertukar di Rumah Sakit Sentosa, Kemang, Kabupaten Bogor akhirnya telah mendapatkan titik terang.

Penulis: Teddy Malaka CC | Editor: fitriadi
Tribun Bogor
Akhir Kasus Bayi Tertukar di Bogor, Dua Ibu Berpelukan Usai Terima Hasil Tes DNA 

BANGKAPOS.COM -  Kasus bayi tertukar di Rumah Sakit Sentosa, Kemang, Kabupaten Bogor akhirnya telah mendapatkan titik terang.

Terkait kejadian ini pihak Rumah Sakit Sentosa mengakui kesalahan fatal yang dilakukan oleh perawatnya.

Manajer rumah sakit, Margaretha Kurnia meminta maaf atas keteledoran yang dilakukan.

"Terjadi karena karena ada ketidakhati-hatian dalam petugas kami melaksanakan prosedur yang sudah ada," kata Margaretha.

Ia pun mengaku menyesal atas apa yang terjadi dan bersedih atas hal ini terjadi di rumah sakit yang dipimpinnya.

"Kami sangat menyesali, saya sebagai pimpinan juga sedih hal ini terjadi di rumah sakit pada kedua ibu," katanya.

Margaretha Kurnia mengungkap penyebab utama bayi tertukar di Bogor terjadi saat pasien akan dipulangkan.

Kolase foto Siti Mauliah, ibu bayi tertukar selama setahun setelah melahirkan di RS Sentosa Bogor.
Kolase foto Siti Mauliah, ibu bayi tertukar selama setahun setelah melahirkan di RS Sentosa Bogor. (Sripo)

"Dalam proses yang ada ketidakhati-hatian itu di dalam proses identifikasi saat bayi pulang," ungkapnya.

Menurutnya ada proses ketidak hati-hatian dalam proses mengidentifikasi bayi.

"Ada proses yang harusnya dilakukan, tapi ada ketidakhati-hatian dalam proses identifikasi bayi," katanya.

Lebih lanjut, Juru Bicara RS Sentosa, Gregg Djako mengatakan mulanya akan memberikan sanksi kepada 15 perawat namun kini jumlahnya dikurangi.

"Awalnya 15 orang yang mau disanksi, tapi kan kita harus melihat dong berapa orang yang kemudian terlibat," kata Gregg.

Ia menuturkan ada 10 orang yang diberi SP1 sementara lima lainnya yang terdiri dari perawat dan bidan kini dinonaktifkan atau dibebastugaskan.

"Kita mendalami dan mencari mana yang paling berperan dan mengetahui betul peristiwanya,” ujar Gregg.

“Jadinya yang 10 orang kita SP1 saja. Sedangkan yang lima perawat dan bidan dinonaktifkan atau dibebastugaskan,” imbuhnya.

Sumber: bangkapos.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved